Fokuslah pada Satu Pilihan! (Bagian 1)

0 209

Kiblatmuslimah.com – Hal yang sangat jelas adalah manusia tidak akan bisa membuat dua pilihan dalam waktu yang sama. Pilihan itu ibarat fokus pada kamera. Kita tidak bisa membuat dua fokus pada gambar yang sama. Ketika Anda membaca tulisan ini, berarti meninggalkan pilihan untuk melihat paragraf yang ada sebelum dan sesudah tulisan ini. Anda tidak bisa memilih dua hal secara bersamaan.

Apabila kita memilih untuk belajar masak, berarti pada saat yang sama meninggalkan pilihan untuk menjahit atau lainnya. Ketika kita memilih untuk menjadi beriman maka pada saat yang sama meninggalkan pilihan menjadi orang kufur kepada Allah. Apabila kita taat kepada Allah, pada saat yang sama tidak mungkin bermaksiat kepada Allah. Orang yang memilih memasuki surga-Nya maka pada saat yang sama dia akan terhindar memasuki neraka-Nya. Pada saat kita memilih untuk menjadi aman maka pada saat yang sama pula, meninggalkan pilihan untuk menjadi takut.

Berkata Allah Azza wa Jalla: “Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberikannya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat.” (HR. Ibnu Hiibban)

Dalam hidup, kita juga selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus dipilih salah satu di antaranya. Hidup manusia senantiasa akan dihadapkan pilihan di antara tujuan dan hambatan. Apabila kita memilih untuk fokus pada tujuan maka hambatannya tidak akan dirasakan. Namun, apabila kita memilih untuk fokus pada hambatan maka tujuannya tidak akan pernah dicapai.

Menarik ketika kita mengamati fenomena anak-anak yang bermain sepak bola dan terluka kakinya. Lukanya itu tidak akan membuat mereka berhenti bermain. Bahkan, mereka meneruskan permainannya tanpa merasakan sakit di kakinya. Apa yang terjadi setelah bermain? Anak itu meraung-raung kesakitan padahal saat dia bermain tidak merasakannya. Mengapa fenomena ini terjadi? Jawabannya adalah hidup adalah pilihan!

Sama seperti Anda dan saya. Dalam semua situasi, kita dihadapkan pada pilihan untuk melihat pada tujuan (visioner) atau hambatan (pragmatis). Apabila kita seorang visioner maka tidak akan pragmatis. Sebaliknya seorang pragmatis meniscayakan bahwa dia bukan seorang visioner. Orang yang pragmatis selalu menjadikan realitas dan fakta sebagai pembatas serta dasar tindakannya. Sementara orang yang visioner menjadikan keinginan dan harapannya sebagai pembatas serta dasar tindakannya.

Oleh karena itu, seorang pragmatis akan selalu mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan. Sedangkan seorang visioner akan senantiasa mengubah fakta agar sesuai dengan tujuannya. Wajar apabila kita melihat kenyataan bahwa wajah dunia ini dibentuk oleh orang-orang yang visioner, selanjutnya akan diikuti oleh orang-orang pragmatis. Kaum muslim pun dihadapkan pada dua pilihan, muslim pragmatis atau visioner. Muslim yang menyerah dan berkompromi atau konsisten.

Tujuan seorang muslim yang sadar akan kehidupannya pastilah menuju surga Allah. Dalam perjalanan ini pasti ada banyak penghalang dan hambatan yang merintangi. Dia harus siap dimaki dengan kata-kata tidak pantas. Siap dikucilkan karena mereka memegang teguh Islamnya. Siap dituduh dengan tuduhan yang kejam dan sinis. Siap untuk menanggung beban ekonomi karena banyak transaksi haram yang tidak boleh mereka lakukan. Siap untuk beribadah kepada Allah dengan ibadah yang total. Bahkan, siap ketika nyawanya diancam karena dia menegakkan Islam, memperjuangankannya dan menyeru jihad fi sabilillah.

Ini adalah sebagian hambatan yang dihadapi ketika seseorang ingin menuju surga-Nya. Akan tetapi, dia selalu mengingat tujuannya. Janji Allah bahwa Dia akan menganugerahi muslim dengan surga-Nya. Dia akan selalu bersemangat dalam ibadahnya dan tidak menganggap semua perlakuan jelek kepadanya sebagai beban. Melainkan suatu hal yang harus dijalani sebagai konsekuensi menuju surga Allah. Dia tidak akan menyerah pada realitas dan kondisi yang menghalanginya. Tapi ia akan mengubah semua itu agar sesuai dengan tujuannya, yaitu Allah Swt.

Bersambung Fokuslah Pada Satu Pilihan (Bagian 2)

Referensi: Felix Y. Siauw. 2013. Beyond the Inspiration. Jakarta: Alfatih Press. Hal: 17-24.

qonitazka

Leave A Reply

Your email address will not be published.