Filosofi Alun-alun Jawa

0 133

Kiblatmuslimah.com – Hampir semua orang pernah mengunjungi alun-alun, setidaknya di kota kelahirannya masing-masing. Alun-alun adalah tanah lapang yang umumnya berbentuk bujur sangkar. Letaknya di tengah kota, di samping gedung pusat pemerintahan. Biasanya, saat ini digunakan sebagai lokasi upacara memperingati sebuah perayaan.

Namun, tahukah kamu? Zaman dahulu, alun-alun digunakan sebagai tempat sayembara pencarian prajurit-prajurit tangguh. Letaknya tak pernah lepas dari pusat pemerintahan Jawa (Keraton) dan menjadi satu kesatuan kala itu. Lambat laun, alun-alun pun menjadi tempat raja beraudiensi dengan rakyatnya dan memang secara historis merupakan prototipe ruang publik di daerah tropis.

Menurut pakar sejarah, seluruh keraton di Jawa bagian Utara menghadap ke arah alun-alun di sebelah  utara. Demikian pula keraton Jawa bagian Selatan selalu menghadap ke alun-alun di arah selatan. Jadi, semua keraton dipastikan menghadap laut, kecuali Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Semenjak Islam memasuki tanah Jawa, alun-alun dan masjid pun menjadi unsur pemerintahan yang harus ada. Lokasinya memang dirancang saling berdekatan menjadi simbol kehidupan yang agamis. Masjid sebagai tempat raja dan rakyat mendekat pada Tuhannya. Sedangkan alun-alun sebagai perluasan pendopo keraton, menjadi pusat raja mendekat pada rakyatnya dalam sebuah balai pertemuan yang luas tanpa sekat yang memisahkan antara satu dengan lainnya.

 

Oleh: A. Madjid

Sumber: Ahmad, Rofi’ Usmani. 2016. Jejak-Jejak Islam. Yogyakarta: Penerbit Bunyan. Hal: 30.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.