Fatimah binti Ubaidilah, Ibunda Imam Asy-Syafi’i

0 149

Kiblatmuslimah.com – Bagi seorang muslim, nama Muhammad bin Idris atau yang dikenal dengan Imam Asy-Syafi’i sangat tidak asing di telinga. Beliau adalah pendiri madzhab fikih dan ahli di segala bidang keilmuan. Karya-karyanya diakui dan menjadi rujukan utama.

Di balik kemuliaan dan kehebatan Imam Asy-Syafi’i, ada sosok wanita mulia, cerdas dan hebat yang mampu mengantarkan Imam Asy-Syafi’i menjadi tokoh yang begitu dikenal.

Beliau adalah ibu Imam Asy-Syafi’i, Fatimah  binti Ubaidillah Azdiyah. Beliau dari kabilah Azd di Yaman.

Ibunda Fatimah merupakan wanita cerdas dan sosok yang tegar. Ia tak pernah mengeluh tatkala suaminya Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i wafat di Gaza, tanpa sedikitpun mewarisi harta. Sekalipun dalam kondisi yang serba kekurangan, ia gigih berjuang memberikan yang terbaik untuk putra tunggalnya itu. Ia berharap nantinya Asy-Syafi’i kecil bisa tumbuh menjadi figur yang hebat dan bermanfaat bagi semua.

Asy-Syafi’i kecil tumbuh dan berkembang tanpa belaian kasih seorang ayah. Walau demikian, keberadaan sang ibu yang tulus dan penuh kasih sayang benar-benar menumbuhkan ketegaran pada jiwa beliau untuk menyongsong hidup mulia dan bermartabat.

Hal pertama yang dilakukan Ibunda Fatimah untuk pendidikan Asy-Syafi’i kecil adalah membawanya ke bumi Hijaz. Saat itu usianya baru 2 tahun. Di sana Asy-Syafi’i kecil tumbuh di tengah-tengah keluarga ibunya. Di sana pula Asy-Syafi’i kecil belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama, sehingga pada usia tujuh tahun beliau telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an dengan sempurna (30 juz).

Menginjak umur 10 tahun, mereka pun memutuskan berpindah ke Makkah. Kota suci itu dipilih agar bisa mempertemukan Asy-Syafi’i dengan keluarga besarnya dari Suku Quraisy.

Imam Asy-Syafi’i menuturkan, langkah ini ditempuh ibundanya karena ia khawatir hidupnya sia-sia, “Ibuku ingin agar aku seperti keluarga di Makkah. Ibuku takut aku kehilangan nama besar keluargaku bila tetap tinggal dan besar di luar Makkah.”

Kepergian Ibunda Fatimah dengan Asy-Syafi’i juga dimaksudkan agar dapat belajar bahasa Arab langsung dari suku Hudzail, kabilah yang terkenal karena kefasihan bahasanya. Maka dari itu Imam Asy-Syafi’i tidak hanya terkenal sebagai ahli fikih, beliau pun pakar seni sastra.

Imam Asymal (pakar bahasa Arab) berkata, “Aku membaca syair-syair dari Suku Hudzail di depan pemuda dari Quraisy yang bernama Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i).” Selain bahasa, di Makkah banyak betaburan guru-guru agama.

Tinggal di kampung al-Khaif, Ibunda Fatimah dan imam Asy-Syafi’i hidup dalam keadaan miskin sekalipun mereka dari nasab tinggi dan terhormat. Namun hal itu tidak membuat Imam Asy-Syafi’i merasa rendah diri karena ibunya selalu mendampingi, berdoa dan memberi semangat kepadanya.

Imam Asy-Syafi’i menuturkan, “Aku tumbuh sebagai seorang anak yatim di bawah asuhan ibuku dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Ketika itu guruku merasa lega apabila aku menggantikannya saat dia pergi,” kenangnya.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Tidak akan berhasil orang yang menuntut ilmu, kecuali menuntutnya dalam keadaan susah.”

Dari kondisi ini, Ibunda Fatimah mengajarkan agar anaknya kelak memahami perasaan dan kehidupan masyarakat miskin.

Beruntung Imam Asy-Syafi’i dikaruniai kecerdasan otak. Anugerah ini dimaksimalkan oleh Ibunda Fatimah. Ia paham betul bahwa daya tangkap anaknya itu sangat luar biasa.

Agar lebih berkualitas, Fatimah mengajak anaknya menyetor hafalan ke Syekh Ismail Qusthanthin di Makkah dan belajar tafsir dari Abdullah bin Abbas. Setelah itu, Imam Syafi’i mulai menghafal hadits-hadits Rasulullah.

Dedikasi dan kedisiplinan ibunda Fatimah mencetak kepribadian dan intelektual sang anak begitu kuat. Sering kali, ia tak membukakan pintu rumah dan menyuruh anaknya itu kembali mencari ilmu.

Suatu ketika Imam Asy-Syafi’ii ingin pergi keluar Makkah untuk menuntut ilmu. Namun, ia dilanda kebimbangan lantaran harus meninggalkan sang ibu seorang diri. Tetapi, justru Ibunda Fatimah dengan keteguhan hatinya memberikan dukungan penuh kepada sang buah hati.

Beliau berkeyakinan bahwa Allah SWT yang akan menjaganya. Ia membekali putranya dengan doa yang mengiringi. Kedua tangannya memeluk erat sang putra disertai dengan linangan air mata.

Beliaulah ibunda Fatimah seorang ibu cerdas, mandiri dan luar biasa yang mampu mengantarkan sang anak menuju kesuksesan.

 

Penulis: Amalliyah

Editor: UmmA

 

Sumber:

www.atsarussalaf.wordpress.com

www.replubika.co.id

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.