Fathimah binti Abbas bin Abi Al-Fath

0 209

kiblatmuslimah.com – Fathimah binti Abbas lahir pada tahun 1048 H. Putri raja Uranki, Zaib Alamkir. Raja India yang paling baik di dunia (pada masanya) dan rajin berburu binatang liar.

Fathimah binti Abbas. Seorang wanita India  yang cantik, menakjubkan dan bikum (hiasan yang indah). Beliau menjadi tokoh wanita yang hafal Al-Qur’an dan ahli dalam menafsirkannya. Beliau satu-satunya wanita yang memiliki karya tafsir Al-Qur’an yang diberi nama Zaibut Tafasir. Sehingga menjadi kebanggaan kaum wanita lainnya.

Fathimah binti Abbas merupakan wanita yang terhormat. Beliau mempunyai ilmu fiqih yang dalam. Karena keluasan ilmunya, beliau menjadi tempat bertanya setiap persoalan secara detail. Beliau mempelajari semua itu dari Syaikh Syamsudin bin Abu Umar hingga berhasil.

Fathimah binti Abbas. Wanita mujahidah yang jujur dan qanaah. Rajin berpuasa dan shalat, serta selalu melakukan amar maruf nahi munkar sehingga banyak sekali orang yang dapat mengambil manfaat darinya. Reputasinya menjadi amat baik dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Ketika menemui persoalan yang sulit, beliau bertanya langsung kepada Ibnu Taimiyah. Dan Ibnu Taimiyah langsung memberikan fatwa kepadanya. Hasilnya, Ibnu Taimiyah sangat mengagumi kepribadian dan pemahaman Fathimah, bahkan beliau kerap kali memujinya.

Fathimah binti Abbas wafat pada malam Arafah. Ibnu Katsir berkomentar tentang beliau, “Dia adalah sosok seorang guru yang terhormat. Dia selalu menyuruh berbuat baik dan mencegah dari hal-hal yang munkar. Dia juga selalu memerangi Ahmadiyah karena kecenderungan para wanita dan anak-anak kepada mereka. Dia juga memerangi perbuatan dan prinsip ahlu bid’ah atau siapapun yang bersalah. Dia telah melakukan berbagai hal yang kaum lelaki pun tidak sanggup melakukannya. Dia juga selalu hadir dalam majelis Syaikh Taqiyudin Ibnu Taimiyah. Dia banyak belajar dari beliau.”

Kami juga pernah mendengar Syaikh Taqiyudin Ibnu Taimiyah memuji dan menyanjungnya sebagai wanita yang mulia dan berilmu. Beliau juga sering menyebutkan bahwa wanita ini menguasai sebagian besar kitab Al-Mughni. Beliau selalu siap mengajarnya, karena ia banyak bertanya, memiliki berbagai petanyaan yang berbobot dan pemahamannya yang sangat cepat. Dia juga sering mengajarkan Al-Qur’an kepada para wanita hingga khatam. Di antara wanita tersebut adalah ibu mertuaku, yakni Aisyah binti Shidiq dan juga istri Syaikh Jamaludin Al-Mazi.

Dia adalah seorang wanita yang mengajarkan hadits kepada putrinya, yaitu istriku Zainab. Dia juga sosok wanita yang selalu memberi peringatan kepada para wanita diatas mimbar. Oang-orang pada masanya memberikan gelar yang sangat banyak kepadanya. Semua gelar membawanya menuju level tertinggi atas ilmu yang dimilikinya. Bahkan dia juga memiliki kumpulan syair.

Ibnu Rajab juga berkomentar tentang wanita ini, “Ummu Zainab (Fathimah) adalah sosok pemberi peringatan, zuhud, rajin ibadah, seorang guru yang faqih, ‘alim, dan memiliki jalur sanad periwayatan selain juga ahli fatwa. Orang yang selalu takut (terhadap adzab Allah) dan selalu khusyuk (dalam ibadahnya). Seorang guru yang taat, selalu bersifat hati-hati, taat beragama dan selalu menjaga kesucian diri, baik lagi shalihah, mapan dalam keilmuan serta peneliti yang hebat, sempurna lagi mulia. Satu-satunya ulama wanita di negeri Baghdad pada masa itu dan dijadikan rujukan mencari ilmu dari berbagai kalangan. Dia hafal di luar kepala sebagian besar isi kitab Al-Mughni”.

 

*Peni Nh

 

Sumber:

Isham bin Muhammad Asy-Syarif. 2012. Panduan Tarbiyah Wanita Shalihah. Sukoharjo: Al-Qowam. Hal: 510-512.

Leave A Reply

Your email address will not be published.