Dua Wajah Teuku Umar (Bagian II)

0 159

Kiblatmuslimah.com – Teuku Umar menjalankan strategi perang yang rawan. Di satu sisi tampak berkhianat dari pejuang Aceh dan memihak Belanda. Di saat yang lain, beliau membelot dari Belanda setelah “menelanjangi” mereka untuk kembali bergabung dan memperkuat pasukan Aceh. Strategi ini dikenal sebagai Strategi Dua Muka.

Pasca upaya pembebasan tawanan dari kapal Nisero digagalkan, Teuku Umar kembali kepada rakyat Aceh. Beliau memimpin satuan-satuan perang untuk mengusir Belanda dari Tanah Rencong. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 14 Juni 1886, Teuku Umar memimpin pasukannya menyergap kapal Hok Canton milik Inggris. Umar menyerbu kapal tersebut karena dicurigai mengangkut senjata yang akan dijual secara ilegal.

Inggris marah dan mendesak Belanda untuk menuntaskan masalah ini. Belanda, demi memperbaiki hubungan dengan Inggris setelah kegagalan sebelumnya, terpaksa bersedia membayar tebusan kepada Teuku Umar sebesar 25 ribu ringgit.

Tahun 1891, Teuku Chik Di Tiro wafat. Pasukan rakyat Aceh kehilangan figur pemimpin. Atas propaganda Snouck Hoergronje, pemimpin-pemimpin wilayah-wilayah kecil tergoda dengan pemberian dan gaji dari Belanda. Sehingga mereka sering menggagalkan gerilya pasukan Aceh. Dalam situasi seperti ini Teuku Umar akhirnya kembali menyerah pada Belanda pada September 1893.

Berkaca pada peristiwa Kapal Nisero, Belanda menugaskan Teuku Umar untuk melawan rakyat Aceh sebagai bukti loyalitasnya. Bersama 13 orang panglima bawahan, Teuku Umar melakukan sumpah setia kepada Belanda pada tanggal 1 Januari 1894. Kemudian beliau dipercaya Belanda untuk  memiliki 250 orang tentara guna menumpas perlawanan rakyat Aceh. Tercatat bahwa Teuku Umar berhasil menaklukkan sebelas pos pasukan Aceh untuk Belanda.

Puncaknya, Teuku Umar mengajukan proposal untuk menaklukkan benteng Lam Krak. Proposal disetujui Belanda, dan Teuku Umar beserta pasukannya mendapatkan perlengkapan berupa 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg peledak dan uang tunai. Setelah mendapat kepercayaan penuh dan memiliki kekuatan senjata yang mencukupi dan situasi menguntungkan, Teuku Umar meninggalkan Belanda beserta pasukannya untuk kembali kepada pasukan Aceh.

Minum Kopi (Menang) atau Syahid

Tertipu dua kali membuat Belanda sangat geram terhadap Teuku Umar. Bahkan, perkara ini berujung dengan pemecatan Christoffel Deykerhoff, Gubernur Aceh yang menjabat sejak 1892. Penggantinya, Jacobus Augustinus Vetter, memberikan ultimatum untuk menyerahkan kembali semua yang dilarikan Umar. Namun, peringatan itu tidak digubris.

Pasukan Teuku Umar sendiri semakin kuat setelah bergabung dengan pasukan Panglima Polem pada 1898. Dua pahlawan besar dari tanah rencong ini bersama-sama menghadap penguasa Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903), untuk menyatakan sumpah setia.

Di kubu lawan, Belanda sedang sibuk menyusun rencana untuk menghentikan sepak-terjang Teuku Umar, sekaligus demi membalas dendam. Gubernur Aceh pengganti Vetter yang bertugas sejak 1898, Joannes Benedictus van Heutsz, memutuskan untuk melancarkan serangan besar-besaran demi menghabisi Umar.

Serbuan membabi-buta yang dilancarkan Belanda membuat pasukan Teuku Umar terdesak dan harus masuk keluar hutan dan naik-turun bukit untuk menghindari serangan. Perjuangan kali ini sangat berat dan melelahkan. Banyak anak buah Umar yang meninggal karena keletihan, kelaparan, hingga sakit. Belum lagi medan yang sulit ditambah gangguan dari binatang-binatang liar nan buas.

Teuku Umar menyusun kembali tentara Aceh yang sebelumnya sempat tercerai-berai. Mulai tahun 1896 itu, dia memimpin perang Aceh dibantu istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima Pang Laot. Teuku Umar juga mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda.

Belanda pun berang dengan pengkhianatan Teuku Umar. Komisaris Pemerintah Belanda di Aceh, Letnan Jenderal Vetter mengeluarkan maklumat perang. Kepangkatan yang telah diberikan kepadanya sebagai Panglima Perang Besar dan gelar kebesaran Johan Pahlawan dicabut. Belanda juga membakar dan meledakkan rumah hadiahnya kepada Teuku Umar yang didiami Cut Nyak Dhien pada 28 Mei 1896.

[Ummu3H]

Leave A Reply

Your email address will not be published.