Dua Wajah Teuku Umar (bagian I)

0 245

Kiblatmuslimah.com — Perang adalah tipu muslihat. Dalam konteks perang muslimin pun, tipu muslihat tetap diperlukan. Dalam hal ini, tipu muslihat yang dimaksud adalah strategi perang.

Allah berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allâh, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 15-16)

Demikian pula Teuku Umar. Beliau menjalankan strategi perang yang memperdaya tak hanya lawan, bahkan juga kawan seperjuangan. Sehingga strategi ini sering dikenal sebagai Strategi Dua Muka.

Sebagaimana namanya, strategi ini cukup ekstrim. Karena jika dilakukan pada saat yang kurang tepat dan diakhiri pada waktu yang salah, maka musuh tidak dapat dikalahkan dan bahkan kawan akan hilang kepercayaan. Namun, sebagai pemimpin perang yang piawai, Teuku Umar berhasil menuntaskan strategi ini dengan gemilang

Dua Wajah, Kemana Terarah?

Memulai kiprah dalam perang Aceh saat usianya masih 19 tahun, membuat Teuku Umar memiliki pengalaman perang yang memadai. Sepuluh tahun kemudian, Teuku Umar menggemparkan rekan juangnya—termasuk istrinya Cut Nyak Dien—dengan berdamai kepada pemerintah Belanda, dan bergabung dalam dinas militer Belanda.

Ternyata hal tersebut merupakan bagian dari strategi beliau. Agar Belanda melemahkan kewaspadaan terhadap gerak-gerik beliau dan pasukan lalu memberinya kepercayaan. Di sisi lain, karena keputusan ini tidak dikompromikan dengan jajarannya, maka pasukan Aceh mengira bahwa beliau berkhianat. Bahkan Cut Nyak Dien, yang amat keras menunjukkan perlawanan kepada Belanda, tidak mengetahui siasat sang suami.

Tahun berikutnya pada 1884, sebuah kapal milik Inggris terdampar di perairan Aceh. Kapal bernama Nesisero (atau Nisero) beserta kapten dan seluruh awak kapalnya itu disandera oleh penguasa kawasan tersebut, Teuku Imam Muda Raja Teunom. Raja Teunom meminta tebusan dalam jumlah besar jika ingin para tawanan beserta kapalnya dibebaskan.

Gubernur Aceh dari Belanda, Laging Tobias, panik karena persoalan ini telah memperburuk hubungan Belanda dengan Inggris. Maka, Teuku Umar diminta untuk segera mengatasi masalah ini lantaran Belanda enggan membayar tebusan. Umar yang sesama orang Aceh diharapkan bisa melunakkan Teuku Imam Muda Raja Teunom.

Teuku Umar pun berlayar dengan 32 orang anak buahnya dan pasukan Belanda ke Teunom. Sebuah sumber menyebutkan bahwa dalam perjalanan, Teuku Umar membunuh para prajurit Belanda dan merampas senjata mereka. Kejadian ini membawa kerugian besar bagi Belanda. Belanda semakin berpolemik dengan Inggris karena gagal membebaskan para sandera.

Inggris terpaksa membayar 100.000 ringgit sebagai tebusan dan Belanda harus mencabut blokade terhadap Pelabuhan Teunom. Teuku Umar sendiri kembali ke markas rakyat Aceh dengan membawa sejumlah senjata dan hasil rampasan dari kapal Belanda.

Sebagaimana memulai strategi ini tidaklah mudah, maka mengakhirinya pun sama sulitnya. Setelah sebelumnya dikenal sebagai pengkhianat, bukankah tidak mudah untuk mendapatkan kembali kepecayaan rakyat Aceh?

[Ummu3H]

 

Bersambung

Leave A Reply

Your email address will not be published.