Dilan, Sang Pacar “Idaman”

2 240

“Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.”

“Kenapa?” kutanya.

“Berat”, jawab Dilan. “Kau gak akan kuat.”

“Biar aku saja.” – Dilan to Milea, Bandung 1990.

 

Kutipan dialog di atas marak kita temui belakangan ini. Ya, kutipan tersebut adalah sepenggal pembicaraan antara Dilan dan kekasih hatinya, Milea, dalam novel trilogi “Dilan”. Buah karya Pidi Baiq ini banyak diminati kawula muda dan bahkan sempat menduduki posisi sebagai novel best seller, mengalahkan novel-novel lainnya.

 

Gaya penulisan “Ayah Pidi” -begitulah para penggemar memanggilnya- yang ringan namun asyik, serta penggambaran kisah yang nyaris realistis, membuat para pembacanya merasa bahwa kisah itu benar-benar terjadi. Mereka merasa sosok Dilan dan Milea, sebagai tokoh utama dalam novel tersebut, benar-benar ada di dunia ini. Hal itu menjadi nilai tambah karena novel tersebut sukses merasuki alam imajinasi pembacanya. Bukankah itu yang menjadi salah satu poin utama diciptakannya novel?

 

Siapakah Dilan?

Dilan dikisahkan sebagai siswa kelas dua SMA yang tergabung dalam geng motor. Ia adalah sosok bad boy, namun cerdas hingga ia selalu meraih juara 1 di kelasnya. Karakternya yang humoris, unik, dan dianggap romantis di kalangan pembacanya, membuat sosok ini diidam-idamkan oleh sebagian kalangan. “Pokoknya, kalau memiliki kekasih seperti Dilan, hidupmu bakal berwarna, deh!”

 

Kisah romansa ala anak 90-an yang terkesan polos dan menggelitik, menghipnotis para penikmat novel. Era saat teknologi belum semaju zaman now. Tidak ada Whatsapp, fitur Video call, apalagi saling berkirim pesan dengan emoji, justru menjadi daya tarik novel ini. ‘Perjuangan’ seorang Dilan mendekati Milea cukup ‘unik’. Misalnya saat Dilan berkenalan dengan Milea secara langsung ketika Milea berangkat ke sekolah,

Dilan : “Selamat pagi.”

Milea : “Pagi.”

Dilan : “Kamu Milea ya?”

Milea : “Eh, iya.”

Dilan : “Boleh gak aku ramal?”

Milea : “Ramal?”

Dilan : “Iya. Nanti kita akan bertemu di kantin.”

 

Atau ketika Milea ulang tahun, Dilan memberikan hadiah berupa buku TTS (Teka-teki Silang) kepada Milea. “Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya”, tulis Dilan.

 

Para pembaca mungkin berpikir kisah romansa seperti ini sangat unik dan berkesan. “Zaman old dulu, PDKT itu dengan ketemuan langsung. Mana ada smartphone. Tidak ada Instagram yang bisa membantu proses stalking si dia. Zaman sekarang mana ada kasih hadiah berupa TTS? Apalagi sudah diisi semua. Tapi justru itu menambah keromantisan Dilan”, begitu mungkin yang terlintas di benak mereka.

 

Tak cukup dengan novel, kesuksesan Dilan “menyihir” hati penikmat kisahnya, sampai-sampai membuat novel ini diangkat sebagai film layar lebar berjudul “Dilan: 1990” yang tayang di bioskop pada 25 Januari 2018. Kabar ini menjadi angin segar bagi mereka yang telah dibuat klepek-klepek oleh sosok Dilan dan kisah cintanya dengan Milea. Berbagai kalangan bak berbaris menunggu film ini tayang. Bahkan dilansir dari Viva, baru sehari tayang, penonton film Dilan 1990 tembus hingga angka 225 ribu.

 

Baiklah, saya tidak akan panjang lebar membicarakan Dilan atau kisah romansanya. Jujur, saya berada di jajaran orang yang sama sekali tidak tertarik dengan novel roman picisan seperti itu. Namun, saya miris melihat fenomena zaman sekarang di kalangan muslimah yang ikut-ikutan terkena euforia Dilan. “Mengapa harus Dilan?” Pertanyaan itu terus menerus membentur pikiran saya hingga ia berkembang biak menjadi pertanyaan yang banyak.

 

1. Apakah Dilan adalah sosok pria yang shalih?

Telah saya sebutkan di atas bahwa Dilan adalah sesosok bad boy dengan banyak kenakalan yang dilakukannya. Lalu, apa yang bisa diidamkan darinya? Bukankah kita sebagai seorang muslimah berharap memiliki pendamping seseorang yang shalih, baik akhlaqnya, lembut tutur katanya, dan ta’at kepada Rabbnya? Lalu mengapa kita, sebagai seorang muslimah, terpukau dengan sosok seorang Dilan dan segala ke’romantisan’nya ?

 

2. Bukankah yang dilakukan Dilan dan Milea itu salah?

Mungkin kisah romansa ‘polos’ ala anak era 90-an dalam novel Dilan, yang sangat jauh berbeda dengan gaya pacaran generasi milenial, telah mereduksi fakta bahwa tetap saja hal itu dilarang secara syari’at. Konsep pacaran ‘syar’i’ saja tidak ada, apalagi kisah cinta seperti ini.

 

Pertama, Allah ta’ala melarang hamba-Nya mendekati zina. Allah berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Israa’ : 32)

 

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan, “Janganlah melakukannya.”

 

Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, “Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.” Artinya setiap jalan (perantara) menuju zina adalah sesuatu yang terlarang. Hal ini menjadikan kegiatan memandang, berjabat tangan, berduaan, dan perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis yang bukan mahram menjadi suatu hal yang terlarang. Karena hal itu dapat menjadi perantara kepada zina.

 

Kedua, terdapat perintah ghadul bashar (menundukkan pandangan) dalam Islam. Allah berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nuur: 30)

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, serta janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya….” (Q.S. An-Nuur: 31)

 

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat 30 Surat An-Nuur di atas mengatakan, “Ayat ini merupakan perintah Allah ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahramnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika mereka memang tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”

 

Begitu pula dengan tafsir untuk ayat 31 Surat An-Nuur. Para wanita diwajibkan menahan pandangan dari hal-hal yang haram dan tidak melihat kecuali yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada suaminya dan mahramnya)

 

Ketiga, diharamkan menyentuh lawan jenis yang bukan mahramnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini adalah suatu yang pasti terjadi, tidak mungkin tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan dengan berbicara. Zina tangan dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 20: 211, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

 

Sebenarnya masih banyak lagi pelanggaran yang dilakukan oleh Dilan dan Milea. Kita belum bicara tentang kewajiban menutup aurat hingga larangan ber-khalwat (berduaan dengan bukan mahram). Setelah membaca semua penjabaran di atas, masihkah Anda berpikir bahwa ada yang istimewa dari kisah cinta Dilan dan Milea?

 

3 Apakah Dilan dan Milea pada akhirnya menikah?

Islam telah menyuguhkan cara menyalurkan rasa cinta sesuai syari’at. Ya, dengan pernikahan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai selain pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

 

Seperti dalam novel, tidak dikisahkan apakah akhirnya Dilan dan Milea menikah. Jadi sebenarnya walaupun romantis, pacaran itu percuma, tidak menentukan akhir hubunganmu juga romantis. “Jalan sama aku, nikahnya sama dia.” Pacarmu belum tentu jodohmu. Jadi ngapain jagain jodoh orang?

 

Setiap orang bebas melahirkan karya. Sah-sah saja orang mau menulis apapun dan saya mengapresiasi kemampuan penulis novel Dilan ini. Namun, perlu dipahami bahwa yang saya kritik dalam tulisan ini adalah sikap para muslimah terhadap Dilan. Dengan nash-nash yang begitu banyak dan jelas dari Allah dan Rasul-Nya, mengapa masih latah terjebak euforia? Mengapa tidak cermat dalam melihat fenomena zaman?

 

Menyedihkan sekali ketika menemui sebagian mereka yang sibuk mencari informasi untuk menonton kisah Dilan di layar lebar. Kita saja bisa membayangkan betapa banyak pelanggaran syari’at dalam kisah yang termuat dalam novelnya. Apalagi dalam filmnya yang jelas-jelas pemainnya bukan mahram, bahkan bukan pasangan suami-istri.

 

Jadi, wahai para pembaca yang budiman, bilang ke Dilan, “Yang berat itu bukan rindu, tapi dosa. Berat. Kamu ga akan kuat. Sama, kita juga.”

 

Wallahu a’lam. Semoga Allah memberikan keistiqamahan kepada kita. Hingga kita termasuk hamba-Nya yang selalu menjaga ‘izzah dan ‘iffah sebagai seorang muslimah. Aamiin.

 

Penulis: Astriva N Harahap

2 Comments
  1. Ummu Mishary says

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    Ketemu artikel ini, sangat bermanfaat Mba..

    بارك الله فيك ukhti..

    Saya izin share yah..

    جزك الله خيرا

    1. Admin KMM says

      Jazakillah khoir..
      Silahkan

Leave A Reply

Your email address will not be published.