Dedikasiku sebagai Istri, Sudah Sampai Mana?

0 214

Kiblatmuslimah.com – Memasuki akhir Ramadhan tahun lalu, seorang ternama bangsa dijemput pulang oleh Allah SWT, almarhumah Ibu Ani Yudhoyono (Kristiani Herawati). Saya tak kenal secara langsung dengan beliau, akan tetapi terasa betapa besar makna kehadirannya bagi Pak SBY dan anak-anaknya. Itu semua mempengaruhi cara mereka berperan bagi bangsa.

 

Ajegnya seorang suami, ditopang oleh dukungan tulus penuh cinta dan kepercayaan dari seorang istri. Kesediaan menjalani naik turun hidup bersama, dengan tetap teguh meyakini misi hidup yang suami pilih. Ah, bukankah ini PR semua istri?

 

Andaikan Hasri Ainun Habibie dan Kristiani Herawati dulu memilih jalan pilihannya sendiri, mungkin saat ini mereka hanya akan dikenal sebagai dokter saja. Toh, mereka sudah kuliah di Fakultas Kedokteran. Namun tidak, mereka memilih jalan lain, pilihan suami. Meninggalkan jalur yang terduga, menuju cita-cita yang suami bangun, semata dibakar semangat impian atas kualitas bangsa yang lebih baik. Hingga mereka pulang ke haribaan Allah dan dikenal bangsa sebagai pejuang pendamping dan pendamping pejuang. TERBAIK yang pernah ada.

 

Maka, lihatlah wajah sang suami! Lihatlah wajah Habibie yang hingga saat itu masih mengharu biru jika mengenang sang istri. Lihatlah wajah SBY yang berulang menyatakan ingin mencium wajah istrinya setelah dimandikan dan disucikan.

 

Sungguh, ini menerabas batas romantisme semu. Tanda terima kasih tak hingga, sebuah kebergantungan seorang lelaki atas dedikasi tulus sang istri yang tak ternilai harganya di dunia dan akhirat. Sebuah bukti besarnya kepercayaan, pengorbanan, dan pendampingan penuh cinta dari seorang perempuan pada lelaki yang telah menjadi imamnya.

 

Lalu, renungan saya melambung pada Khadijah radhiyallahu ‘anha. Prestise yang Khadijah genggam sebelum menikah dengan Muhammad SAW adalah sebagai penguasa sebagian besar perputaran harta Mekah. Saudagar yang menguasai ekspor dan impor, wanita shalihah yang terhormat. Gelar At-Thahirah (wanita suci) sudah disandangnya sebelum menjadi istri Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang digelari Al-Amiin (amanah, jujur, dapat dipercaya).

 

Namun, semua kualitas diri tersebut tak lantas menjadikannya jumawa. Atas rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, beliau diberkahi hati yang lembut dan lurus, sehingga mampu melihat kejernihan akhlak Muhammad. Bahkan dengan kerendahan hati, mengajukan diri untuk dipimpin Muhammad dalam bingkai rumah tangga.

 

Semua dedikasi beliau, bisa kita lihat bukan dari pernyataan atau klaim sendiri. Melainkan dari Rasulullah Muhammad rasakan dan utarakan sepeninggalnya.

 

“Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan yang lebih baik darinya. Dia BERIMAN ketika yang lain ingkar. Dia MEMBENARKANKU ketika orang-orang mendustakanku. Dia MEMBELAKU dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku.”

 

Beriman pada Allah …

Membenarkanku …

Membelaku ….

 

Dedikasi adalah kualitas konsisten yang diberikan setiap hari. Ini jadi renungan bagi para istri, “Apa sajakah dedikasi yang sudah diberikan secara konsisten setiap hari di rumah tangga, pada suami dan anak-anak kita?”

 

Perjuangan apa yang kelak, akan suami dan anak-anak kenang dari diri? Hal apa yang akan berbuah sepeninggal kita dan mengalirkan berkah untuk menemani di alam kubur? Apakah hari dan detik ini, kita sudah sepenuhnya berserah diri pada pengaturan Allah?

 

Apakah hari ini, kita telah membenarkan dan membela suami atas jalan yang telah Allah pilihkan sebagai jalan hidup? Ataukah justru kita yang menjadi penghalang dan penjegal utama yang membuat suami ragu menyambut panggilan jiwanya untuk berjuang?

 

Atau bisa jadi … kita juga belum sadar untuk mempercayakan rezeki pada naik turunnya roller coaster kehidupan yang Allah rancang? Jika semua hal kita ukur dengan ukuran dan asumsi kita saja, bagaimana mungkin Allah berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka? Bagaimana mungkin datang yang tak terduga, jika semua kita ukur dengan yang bisa diduga? Ada di posisi manakah kita saat ini sebagai istri?

 

Sungguh, ketika mitsaqan ghalizha telah terucap, tepat di saat itu sebagai istri telah berikrar di hadapan Allah bahwa setengah agama akan digenapkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan bersama lelaki ini. Sungguh masih banyak kelalaian, belum sepenuhnya menjadi ma’mum yang baik bagi sang imam, suami. Bagaimanakah kualitas kepulangan kita nanti? Akan bagaimana kita mempertanggungjawabkan diri sebagai hamba-Nya dan istri?

 

By: Elma Fitria

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.