Dari Hamzah hingga Najasi

0 136

Kiblatmuslimah.com – Pada awal dakwah Islam di Makkah, jika ada yang mejadi muslim, pihak keluarganya melakukan pemboikotan. Terjadinya berproses, akumulasi dari beberapa faktor. Alhamdulillah, keislaman Hamzah dan Umar bin Khaththab berhasil memperkuat barisan kaum muslimin agar tidak disiksa.

 

Proses Hamzah masuk Islam

Hamzah sejak muda sudah diperhitungkan dan sangat disegani. Keturunan Hasyim yang dihormati. Hamzah memeluk Islam satu pekan bersamaan dengan Umar. Bobot keislaman Hamzah ini diperhitungkan. Modus Hamzah masuk Islam karena ashobiyah (fanatisme kesukuan).

 

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah dipukul oleh Abu Jahal. Hamzah sebagai paman, tidak terima keponakannya disakiti. Berujar kepada Abu Jahal, “Aku sudah memeluk agama yang dibawanya, apakah engkau akan tetap menyakiti keponakanku?”

 

Abu Jahal berasal dari Bani Makhzhum. Hampir terjadi peperangan antara kabilah Bani Hasyim dan Bani Makhzhum. Abu Jahal masih punya akal dan berpikir bahwa jika sempat terjadi perang di Makkah, akan menjadi faktor perusak perekonomian. Dia pun mundur.

 

Umar bin Khaththab berasal dari Bani ‘Adi. Berhadapan dengan Umar berarti Quraisy akan berhadapan dengan Bani ‘Adi. Dari kisah keislaman Umar, memberi pelajaran bahwa pintu masuk Islam harus dibuat sefleksibel mungkin, jangan mempersulit. Umar dari kecil sudah dikenal dengan anak yang out of the box, ayahnya kasar terhadap anak. Umar tumbuh sebagai anak yang bisa baca dan tulis dari sekian banyak anak. Seorang penggembala tetapi menganggap baca tulis itu penting. Umar orangnya terbuka.

 

Timbangan keislaman Umar merupakan Fath (pembuka) babak baru. Dahsyat. Atas dasar ini, pemboikotan dilakukan karena sudah tidak bisa dihentikan dengan cara lama. Metode pendekatan baru, yaitu boikot.

 

Boikot artinya meningkatkan pola perlawanan terhadap dakwah, dari kekeluargaan menjadi kabilah. Semua pemboikotan berhubungan dengan Rasulullah. Targetnya membuat mereka rela menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh. Pada kenyataannya, pemboikotan berlangsung 3 tahun. Pemboikotan selesai, bukan berarti target Quraisy berhenti.

 

Rasulullah berangkat menuju Tha’if bersama Zaid bin Haritsah. Mereka berdua lebih banyak berjalan kaki. Sehingga orang-orang mengira tidak akan pergi ke tempat yang jauh. Trik lainnya yaitu tidak pergi bersama Abu Bakar, karena orang-orang akan berasumsi itu sebagai perkembangan dakwah.

 

Jika Tha’if menerima dakwah Islam, pukulan telak bagi Quraisy. Tha’if sebagai investasi orang Quraisy. Gagal, Tha’if tidak menerima dakwah.

 

Berkebalikan dengan Tha’if, Najasi menerima para shahabat yang berhijrah. Quraisy gagal berdiplomasi untuk mengembalikan kaum muslimin ke Makkah. Najasi melindungi kaum muslimin, ini yang ditakutkan oleh Quraisy.

 

Sumber: Kelas Sirah Nabawiyah angkatan VII oleh Sirah Community Indonesia (SCI)

(Hunafa’ Ballagho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.