Dakwah: Seni Menyentuh Hati, Bukan Menghakimi

0 200

Kiblatmuslimah.com – Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat dihebohkan dengan fenomena murtadnya seorang muallaf. Nah loh! Muallaf kok murtad lagi? Mungkin itu yang ada di benak para pembaca sekarang. Wanita muallaf itu murtad bukan karena dipaksa atau diintimidasi oleh keluarganya karena memeluk Islam. Ia murtad karena sakit hati dengan perilaku seorang muslim kepadanya.

Dia adalah seorang wanita yang tadinya tidak beriman kepada Allah. Sampai suatu saat, hidayah Allah sampai padanya. Ia memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Ia juga berusaha untuk menjadi seorang muslimah yang taat. Ia ingin belajar dan mendalami agama kebenaran yang ia anut sekarang. Karena itu, ia bersemangat untuk mendatangi majelis ilmu, berharap ia bisa memiliki pemahaman agama Islam yang lurus dan baik.

Namun kenyataan yang ia hadapi tidak sesuai dengan ekspektasinya. Ketika ia mendatangi sebuah majelis ilmu, seorang wanita mengritiknya pasal parfum yang ia pakai. Patricia Gracia Singgih, sahabat si wanita muallaf, memberikan kesaksiannya.

”Malam-malam dibikin nangis sampai mata ini bengkak, dengar sahabat saya baru saja tiga bulan masuk Islam, sudah murtad gara-gara memakai wewangian dikatain pelacur oleh si fulanah yang sama-sama baru hijrah. Di tempat kajian pulak! Ya Allah, Ya Rabb,” tulis Patricia di akun Facebooknya. Kesaksian ini di-posting pemilik akun pada Jum’at (22/08).

Mungkin, wanita yang mengritik tadi membaca hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur. (HR. An-Nasa’i)

Yang disampaikan oleh wanita yang mengritik tadi memang benar adalah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama juga berpendapat bahwa apabila parfum tersebut bisa tercium oleh laki-laki yang tidak halal baginya maka ini termasuk fitnah yang besar.

Lalu, di mana bagian yang keliru? Mungkin, si wanita yang mengritik tadi lupa mengenal siapa lawan bicaranya. Ia tidak memahami kondisi lawan bicaranya yang masih perlu banyak dirangkul, bukan dihakimi. Jelas saja, karena lawan bicaranya adalah seorang muallaf yang baru tiga bulan memeluk Islam.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah yang telah tersebar luas ini, bagi saya, kisah ini sangat pantas untuk diambil hikmahnya. Memahami siapa lawan bicara kita terlebih dahulu sebelum menyampaikan nasihat sangat penting sekali. Pemilihan diksi dalam berbicara kepada lawan bicara kita juga tidak kalah penting. Dakwah adalah seni komunikasi. Bisa jadi orang lain menolak nasihat kita bukan karena apa yang kita sampaikan, tapi karena cara kita menyampaikannya.

Ingatkah pembaca pada kisah seorang Arab Badui yang kencing sembarangan di masjid pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Suku Arab Badui terkenal berperangai keras dan jauh dari nilai agama. Kala itu seseorang dari suku Arab Badui datang ke Madinah dan kencing di salah satu bagian masjid. Para sahabat radhiallahu ‘anhum yang saat itu menyaksikan menghardiknya dan berniat untuk menghentikannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat dan menunggu sampai orang Badui itu selesai dengan hajatnya.

Ketika orang Badui itu telah selesai dengan hajatnya, Rasulullah menghampirinya dan menyampaikan dengan lembut bahwa masjid adalah tempat yang suci, digunakan untuk shalat dan berdzikir kepada Allah sehingga tidak boleh ada kotoran dan najis. Dengan demikian, orang Badui itu menjadi tahu dan mendoakan kebaikan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah keindahan akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah selalu menyikapi persoalan dengan melihat keadaan. Orang Badui itu bukan penduduk Madinah. Dia tidak mengerti banyak hal. Kalaulah yang melakukan demikian adalah penduduk Madinah, perlakuan Rasulullah pasti akan berbeda. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyikapi orang Badui itu sesuai dengan keadaannya yang jahil dan kurang paham ilmu agama.

Semoga kita bisa meneladani keindahan akhlak Rasulullah dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran.

Penulis: Astriva Novri Harahap

Editor: UmmA

Leave A Reply

Your email address will not be published.