Cut Nyak Din, Mujahidah Aceh

0 136

Kiblatmuslimah.com – Seorang tokoh besar bukan manusia yang terlahir dengan membawa nama besar. Namun, ia adalah hasil didikan yang terus menerus hingga mampu melakukan sesuatu yang besar. Cut Nyak Din, berasal dari keluarga bangsawan yang sangat taat beragama, lahir pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutai yang merupakan keturunan dari Panglima Nanta. Sedangkan ibunya adalah putri dari Uleebalang, bangsawan Lampagar.

Sebagaimana lazimnya putri bangsawan Aceh, sejak kecil ia telah memperoleh pendidikan. Membentuknya menjadi sosok wanita shalihah yang taat kepada Allah dan suami. Ayah dan ibunya langsung menjadi pendidik bagi dirinya. Bisa dikatakan, kedua orang tuanya adalah guru ngaji sekaligus guru kehidupan di dunia. Peran ibu itu sangat besar sebagai pendidik pertama dan paling utama bagi dirinya sebelum diserahkan kepada guru-guru lainnya.

Cut Nyak Din dibesarkan dalam suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana Perang Aceh. Betapapun panjang dan lelahnya jalan perjuangan, ia tetap tegar untuk senantiasa menapaki hidup di jalan Allah. Semua pengorbanan membuatnya tumbuh menjadi wanita shalihah, cantik dan cerdas.

Teuku Nanta sadar betul bahwa menikahkan anak perempuannya merupakan kewajiban orang tua. Pada usia 12 tahun, Cut Nyak Din dinikahkan dengan seorang pemuda bangsawan bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga.

Perayaan pernikahan dimeriahkan dengan kehadiran penyair terkenal Abdul Karim. Ia membawakan syair-syair bernapaskan agama dan mengagungkan kisah-kisah heroik (semangat perjuangan). Syair-syair itu mampu menggugah semangat orang yang mendengarkannya. Khususnya dalam rangka melawan orang kafir. (Snouck Hourgronje, 1985: 107)

Setelah penikahannya, hadirlah sang buah hati, seorang anak laki-laki.  Ketika menimangnya, ia menyanyikan syair-syair yang membangkitkan semangat perjuangan. Ketika sesekali suaminya pulang ke rumah, yang dibicarakan dan ditanyakan Cut Nyak Din tidak lain hanya hal-hal yang berberkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda.

Bertahun-tahun peperangan Aceh kian berkecamuk. “Keunggulan” Belanda dalam hal persenjataan dan adanya pengkhianatan yang terjadi, satu per satu benteng pertahanan Mujahidin Aceh berjatuhan. Karena terdesak, Cut Nyak Din beserta keluarganya terpaksa mengungsi. Pada sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur. Cut Nyak Din beserta anaknya tetap bergerilya melawan kaum kafir Belanda.

 

Bahkan menurut orang yang dekat dengannya, Cut Nyak Din pernah bersumpah bahwa ia tidak akan menikah lagi kecuali dengan seorang lelaki yang turut membantunya melawan Belanda. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan Teuku Umar, pasca kematian suami yang pertama. Teuku Umar benar-benar membuktikan kecintaannya kepada jihad melawan Belanda. Sehingga suami Cut Nyak Din yang kedua juga ikut gugur menjadi syuhada di medan perjuangan.

 

Peresume: PramudyaZeen

 

Referensi: Anwar. Neo-Imperialisme Wajah Baru Penjajahan Barat. Majalah An-Najah. Edisi 126. Rajab 1437H/Mei 2016. Hal. 28-29.

Leave A Reply

Your email address will not be published.