Ciri Istri Ideologis: 2) Taat dan Patuh kepada Suami karena Allah

2 488

Kiblatmuslimah.com – Muslimah multazimah yang berkhidmat pada Din ini. Menjadi pendamping suami muqimuddin. Harus senantiasa menyadari, bahwa dirinya sebagaimana sang suami dalam mengemban amanah yang tak biasa. Dirinya dituntut untuk senantiasa menyiapkan diri dan hati di saat menjalani kehidupan bersama suami muqimuddin.

Hari-hari yang akan dilewatinya tidaklah mudah. Berbeda dengan hari-hari yang dilalui wanita-wanita biasa. Karenanya, ketaatan kepada Allah serta kepatuhannya kepada suami menjadi hal yang mutlak baginya.

Firman Allah Ta’ala:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,  karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” (Q.S An-Nisa: 34)

Ayat di atas semestinya tak sekedar dianggap sebagai sebuah konteks tanpa konsekuensi. Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan kedudukan laki-laki sebagai qowwam yang kepemimpinannya langsung diangkat dan diakui dari langit ketujuh. Ini bukanlah masalah persamaan derajat, yang oleh sebagian besar kaum kapitalis digembar-gemborkan sebagai ayat penjajah kaum wanita.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan maksud dari ayat, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita”, adalah lelaki itu pengurus wanita, yakni pemimpinnya, kepalanya, menguasai, dan mendidiknya jika menyimpang.

Sedang ayat selanjutnya, “…karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)”. Maksudnya adalah karena kaum laki-laki lebih afdhal daripada kaum wanita. Seorang lelaki lebih baik daripada seorang wanita. Karena itulah, nubuwwah (kenabian) hanya khusus bagi kaum laki-laki. Demikian pula seorang raja. Juga terhadap kedudukan peradilan dan lain-lainnya. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alahi wasalam: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang urusan mereka dipegang oleh seorang wanita”. (H.R Imam Bukhari, melalui Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya).

Ayat selanjutnya, “…dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.  Maksud dari harta tersebut adalah berupa mahar (mas kawin), nafkah, dan biaya-biaya lainnya yang diwajibkan oleh Allah atas kaum laki-laki terhadap kaum wanita yang tertulis dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya.

Laki-laki  lebih utama daripada wanita. Dirinya mempunyai keutamaan di atas wanita. Dan laki-laki dapat memberikan keutamaan kepada wanita. Maka sangat sesuai jika dikatakan bahwa lelaki adalah pemimpin wanita. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”  (Q.S Al Baqarah: 228)

Ali ibnu Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah dalam surat An Nisa: 34, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita”. Maksudnya yaitu menjadi kepala atas mereka. Seorang istri diharuskan taat kepada suaminya dalam hal-hal yang diperintahkan oleh Allah yang mengharuskan seorang istri taat kepada suaminya. Taat kepada suami ialah dengan berbuat baik kepada keluarga suami dan menjaga harta suami. Hal yang sama dikatakan oleh Muqatil, As-Saddi, dan Ad-Dahhak.

Nabi Shalallahu ‘alahi wa salam bersabda:

“Seorang wanita itu apabila mengerjakan shalat lima waktu, puasa di bulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu yang kamu sukai!” (Hadist ini diriwayatkan secara munfarid (menyendiri) oleh Imam Ahmad melalui jalur Abdullah ibnu Qariz, dari Abdur Rahman ibnu Auf).

Demikianlah taat  kepada suami menjadi syarat utama bagi seorang perempuan agar bisa mendapatkan kebahagiaan hakiki di jannah-Nya kelak. Oleh sebab itu, kepatuhan kepada suami menjadi elemen penting dalam perjalanan kehidupan seorang istri. Betapa tidak, ridha suaminya bisa menjadi tiket baginya untuk masuk surga.

Muslimah yang berilmu pasti akan selalu menjadikan ketaatan terhadap suami sebagai suatu hal yang wajib bagi dirinya. Tentu ketaatan ini ada batasannya. Yakni selama sang suami tidak memerintahkan perbuatan maksiat kepada Allah, maka sang istri haruslah taat. Namun pada kenyataannya, untuk taat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kondisi hari ini, kaum liberal begitu bersemangat meniupkan ruh emansipasi terhadap para wanita. Tidak terkecuali  juga terhadap para muslimah multazimah.

Betapa taat dan patuh hanya dijadikan slogan yang tertulis pada catatan sepulang halaqoh. Bagaimana mungkin dapat bergandengan tangan, bahu-membahu dalam perjuangan ini, jika kepatuhan terhadap suami diabaikan? Merasa diri lebih sempurna, lebih kaya, lebih berilmu hingga dengan mudah meremehkan kepemimpinan suami.

Seorang istri ideologis, tunduk terhadap titah suami sebagai qowwam keluarga semata-mata karena Allah. Ketundukannya bukan berarti menjatuhkan harga dirinya di hadapan manusia. Justru sikapnya itu kelak dapat meninggikan derajatnya di surga.

Kekurangan yang ada pada diri suami sesungguhnya tidak perlu mengurangi ketaatan kita terhadapnya. Karena bukan hanya untuk suami kita taat, tapi lebih kepada syari’at yang mewajibkan. Seorang istri ideologis tidak sekedar hadir secara fisik. Namun, juga hadir ruh dan raganya menemani dalam perjuangan iqamatuddin hingga akhir.

Sungguh perjalanan ini masih panjang. Maka mulailah dengan memperbaiki ketaatan kita kepada suami. Renungilah kepatuhan yang selama ini telah kita jalani. Sudah sesuaikah dengan aturan Allah?

 

*Zahwah abida

 

Sumber:

Tafsir Online: www. Ibnukatsironline.com

Baca sebelumnya Ciri Istri Ideologis : 1) Senantiasa Mentarbiyah Diri

2 Comments
  1. chamar1991 says

    bagus tulisannya 🙂

    1. Admin KMM says

      Terimakasih Kak

Leave A Reply

Your email address will not be published.