Ciri-ciri Pemilik Husnuzan Billah

0 3.251

Kiblatmuslimah.com – Sulit mendefinisikan husnuzan billah secara pasti. Beberapa ulama hanya menyebutkan maksudnya secara parsial. Ibnul Qayim menyebutkan, husnuzan billah huwa husnul ‘amal,  artinya prasangka baik kepada Allah adalah amal yang baik. Ada juga yang menyebutkan, al fa’lu atau optimisme adalah bagian dari husnuzan billah.

 

Secara umum husnuzan billah adalah berprasangka dan berharap kebaikan dari Allah berupa; pertolongan, dan ampunan dengan keyakinan yang utuh. Ada kemiripan antara husnuzan billah (berprasangka baik pada Allah) dengan tawakal (bergantung kepada Allah). Juga atstsiqah billah (yakin kepada Allah) dan ar-raja (harapan), meski pada hakikatnya berbeda. Untuk membedakannya, barangkali kita bisa menggunakan beberapa contoh.

 

Seseorang yang diuji dengan penyakit dan tetap ridha serta berharap kebaikan kepada Allah, perasaan itu adalah misal dari husnuzan billah. Adapun yang telah mengikat kendaraannya lalu berserah diri kepada Allah mengenai yang bakal terjadi pada kendaraannya, itulah salah satu contoh tawakal.

 

Sedang yang berhijrah dari tempat tinggalnya yang penuh kemaksiatan meski di sana hidupnya sukses, dia yakin Allah pasti akan memberi ganti yang lebih baik, itulah contoh atstsiqah billah.

 

Terakhir arrajaatau harapan. Bersih harapan dalam hati bermakna umum, yang juga terdapat pada ketiga hal di atas. Wallahu a’lam

 

Namun begitu, ketiga hal di atas memiliki keterkaitan satu sama lain, bahkan sangat erat. Imam Ibnul Qayim al-Jauziyah menjelaskan, husnuzan billah dan atstsiqah billah sebenarnya adalah unsur yang juga menyusun tawakal.

 

Ketawakalan seseorang tidak akan sempurna jika tidak memiliki prasangka yang baik dan keyakinan hati pada Allah. Khusus untuk husnuzan billah, beliau bahkan menyebutkan, sejauh mana rasa husnuzanmu kepada Allah, sejauh itu pula rasa tawakalmu kepada-Nya. (Terjemah Madarijus Salikin, 194).

 

Ciri husnudzan billah

Mengingat husnuzan billah memiliki peran penting dalam amal dan harapan seseorang, perlu kiranya kita mengetahui ciri-ciri hati yang memiliki prasangka baik kepada Allah. Dzun Nuun al-Mishri mengatakan, ciri husnuzan billah itu ada tiga; quwatul qalbi, fushatur raja ‘indaz zillah dan nafyul iyas ma’a husnul inabah. (Hilyatul Auliya’: 4/216)

 

Pertama, quwatul qalbi. Kekuatan hati berupa keteguhan dan kemantapan dalam berharap kepada Allah. Orang yang berprasangka baik kepada Allah memiliki kemantapan hati karena ia memahami, di samping dahsyatnya siksa yang dijanjikan-Nya, rahmat Allah sangatlah luas.

 

Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya kasih sayang-Ku selalu mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari). Dengan ini hatinya tidak akan pernah ragu dalam usaha menggapai keluasan rahmat dan karunia Allah.

 

Kedua, fushatur raja ‘indaz zillah atau luasnya harapan ketika yang dituju tak dapat diraih. Harapan yang dimilikinya seluas samudra. Sebersit sinar panas dari rasa kecewa akibat satu harapan yang tak tercapai, tidak akan bisa membuatnya kering. Ombak harapan pun tetap bergelombang, senantiasa hidup dan wujud dalam hatinya.

 

Manakala hasil akhir yang ditemui tak seperti yang diharapkan berikut usaha yang telah dikeluarkan, prasangka baik kepada Allah akan tetap membasahi hatinya dengan asa. Pasti Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha dan harapan seorang hamba. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Mahamalu dan Mahamurah, Allah malu jika ada seorang hamba yang mengangkat tangan memohon pada-Nya, lalu tangan itu kembali tanpa membawa apa-apa.” (HR. At-Tirmidzi)

 

Ketiga, nafyul iyash ma’a husnil inabah. Nihilnya rasa putus asa diiringi kepasrahan dengan mengembalikan semuanya kepada Allah. Husnuzan billah akan mengikis habis rasa kecewa dan putus asa, apalagi amarah dan buruk sangka terhadap keputusan Allah.

 

Tak hanya itu, ia pun menenangkan hati dengan menuntunnya menuju kepasrahan atas kehendak Yang Maha Sempurna. Lebih dari itu, sudut hatinya akan mencoba mengail pelajaran, “Lain kali, usaha harus lebih baik lagi” atau “Barangkali Allah menghendaki hasil lain yang lebih baik.”

 

Satu ciri penting yang lain

Selain tiga ciri di atas, Ibnul Qayim menambahkan satu hal yaitu husnul amal, usaha yang baik. Artinya prasangka kepada Allah juga harus diiringi dengan usaha yang baik pula. Bahkan beliau mengatakan, “husnuzan billah huwa husnul ‘amal”, prasangka yang baik bukan lain adalah usaha yang baik itu sendiri.

 

Manakala seseorang mengharap ampunan dan rahmat-Nya, dia juga harus berusaha melakukan berbagai hal yang balasannya adalah ampunan dan rahmat dari Allah.

 

Berharap ampunan dan kasih sayang Allah, tapi asyik memancing-mancing murka-Nya dengan mempermainkan syariat dan bermaksiat bukanlah husnuzan billah, tapi maghrurun bi rahmatillah, terpedaya pada rahmat Allah.

 

Terpedaya dalam arti lupa bahwa di samping rahmat-Nya, ada juga siksa yang maha dahsyat bagi sesiapa yang menerjang larangan-Nya. Jadi, husnul amal adalah unsur yang tak boleh dilupakan dalam husnuzan billah, karena inilah yang akan membedakannya dengan keterpedayaan pada ampunan Allah.

 

Pada akhirnya, seseorang yang benar-benar berprasangka baik kepada Allah adalah orang yang memiliki keyakinan dalam harapan, keluasan hati atas segala keputusan, mampu menetralisir pahitnya kekecewaan dengan kepasrahan dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai harapan dengan cara yang benar.

 

Semoga Allah menjadikan hati kita senantiasa dapat berprasangka baik atas semua ketetapan yang Allah berikan kepada kita. Amin. [Taufik A]

 

Sumber: https://www.arrisalah.net/ciri-ciri-pemilik-husnuzhan-billah/

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.