Buruknya “Racun” Orang Tua pada Mental Anak

0 213

Kiblatmuslimah.com ― Hubungan antaranggota keluarga terjadi secara natural. Pertemuan rutin dan berlangsung lama menyebabkan setiap anggota keluarga bisa saling menerima perlakuan yang lain begitu saja. Tentu tanpa menyadari bahwa beberapa menunjukkan sikap negatif. Penerima perlakuan buruk pun kurang menyadari karena telanjur merasa terbiasa. Padahal, perilaku negatif tersebut ternyata berimbas buruk pada kejiwaan pelaku maupun penerima. Perilaku ini kemudian dikenal sebagai “toxic/racun”.

 

Dalam hubungan orang tua dengan anak, ada toxic parent. Biasanya terjadi karena orang tua memiliki sejumlah harapan pada anak-anaknya. Sedangkan yang dilakukan anak tidak sesuai dengan ekspektasi orang tua. Sayangnya tanpa disadari, beberapa orang tua melampaui keinginan mereka terhadap anak-anaknya. Alhasil, orang tua tidak berkompromi dengan anak, tidak pernah merasa bersalah dan minta maaf, tidak menghargai, dan egois.

 

Perilaku tersebut sangat berdampak buruk untuk psikis hingga perkembangan fisiologis anak. Anak pun akan mengalami kerusakan emosional dan mental, bahkan ketika mereka dewasa.

 

Nah, apakah kita termasuk orang tua yang “beracun”? Berikut beberapa perilaku yang bisa menjadi bahan evaluasi atas sikap kita sebagai orang tua, sebagaimana dilansir dari lifehack.org.

 

  1. Terlalu Banyak Mengkritisi

Banyak orang tua gemar memberikan kritik. Tanpa komponen ini, kita mungkin tidak akan pernah belajar melakukan banyak hal dengan benar. Mengkritik terlalu ekstrem dengan bersikap terlalu kritis terhadap segala hal yang dilakukan anak. Orang tua terkadang tergelincir dalam kesalahan. Meyakini bahwa mereka melakukan ini untuk memastikan anak-anak menghindari membuat kesalahan yang besar.

 

Contoh sederhananya diwakili oleh ungkapan, “Ibu/ Ayah marah karena sayang padamu”. Sayangnya, yang benar-benar dilakukan menyebabkan anak mengembangkan kritik batin yang keras dan membuat kerusakan emosional saat dewasa. Ada pertentangan batin melihat ketidaksesuaian perilaku orang tuanya dengan yang diharapkan dari mereka. Anak-anak cenderung sulit menerima nasihat dan menolak melakukan yang diharapkan orang tua.

 

  1. Menuntut Perhatian

Sering mengubah anak-anak menjadi pengganti orang tua dengan menuntut perhatian setiap saat. Ini dapat dilihat sebagai ikatan antara orang tua dan anak. Namun hubungan itu membutuhkan terlalu banyak waktu dan energi ketika anak harus fokus pada belajar keterampilan lain. Meskipun kadang-kadang mungkin sulit. Orang tua yang berpengetahuan luas akan memberi anak-anak cukup ruang untuk tumbuh dan menjadi diri sendiri tanpa menuntut interaksi terus-menerus sesuai dengan kebutuhan mereka.

 

  1. Membenarkan Perilaku yang Salah

Dapat memutarbalikkan situasi untuk memenuhi kebutuhan mereka dan meninggalkan anak-anak dengan dua pilihan. Pertama, menerima bahwa orang tua mereka salah. Kedua, menginternalisasi semua kesalahan. Dalam kebanyakan kasus anak-anak, bahkan mereka yang sudah dewasa sekarang, memilih opsi yang terakhir.

 

  1. Tidak Membiarkan Anak Memperlihatkan Emosi Negatif

Orang tua yang menolak untuk memupuk kebutuhan emosional anak dan meremehkan emosi negatif. Mereka sedang membangun masa depan saat anak akan merasa tidak mampu mengungkapkan yang mereka butuhkan. Tidak ada yang salah dengan membantu anak-anak melihat sisi positif dari situasi apapun. Namun, sepenuhnya mengabaikan perasaan negatif dan kebutuhan emosional anak dapat menyebabkan depresi. Lebih sulit untuk secara tepat menangani negativitas sebagai orang dewasa.

 

  1. Menakut-nakuti Anak

Rasa hormat dan takut tidak perlu berjalan seiring. Bahkan, anak-anak yang merasa dicintai, didukung, dan terhubung jauh lebih mungkin bahagia sebagai orang dewasa nantinya. Meskipun semacam disiplin pasti akan diperlukan dari waktu ke waktu. Orang tua yang benar, tidak menggunakan tindakan dan kata-kata yang sangat menakutkan yang secara permanen merusak jiwa manusia. Anak-anak tidak perlu takut untuk menghormati.

 

  1. Egois

Orang tua mungkin percaya bahwa perasaan mereka harus didahulukan selama masalah keluarga. Namun, ini adalah cara berpikir yang tidak akan membina hubungan positif. Meskipun orang tua perlu membuat keputusan akhir tentang segala hal, mulai dari makan malam hingga rencana liburan, perlu untuk mempertimbangkan perasaan setiap anggota keluarga―termasuk anak-anak. Terus-menerus memaksa anak-anak menekan perasaan untuk menenangkan orang tua mereka.

 

  1. Menggunakan Rasa Bersalah Anak untuk Mengontrolnya

Setiap anak telah mengalami rasa bersalah dari orang tua, seperti menghilangkan atau merusak mainan mereka. Sayangnya, justru menanfaatkan kesalahan untuk mengendalikan anak-anak.

 

  1. Mengawasi Anak Terlalu Berlebih

Orang tua dapat mengawasi anak-anak dalam situasi tertentu. Mungkin perlu melakukan sedikit pengintaian untuk menjaga tetap aman. Namun, harus dapat menetapkan batasan privasi, terutama jika anak sudah baligh.

 

Orang tua justru tidak tepat mengawasi anak berlebihan, seperti masuk kamar anak tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pola asuh ini justru membuat anak-anak sulit untuk mengenali dan memahami batasan dengan baik di kemudian hari.

 

Nah, adakah di antara perilaku di atas yang kita lakukan? Jika iya, kita harus berusaha berubah dan memperbaikinya.

 

 

Disadur dengan perubahan oleh UmmuHu

Sumber:

www.fimela.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.