Buktikan Syukurmu dengan Taatmu!

0 103

Kiblatmuslimah.com – Menjadi hamba yang senantiasa menjadikan syukur sebagai perahu dalam kehidupan tidaklah mudah, karena syukur bukanlah sebuah kata yang tidak ada pembuktian. Layaknya iman yang tidak hanya mengimani dengan hati, tapi juga butuh pengakuan dengan lisan dan pengaplikasian lewat perbuatan.

Syukur juga seperti itu, tidak cukup hanya mengucapkan Alhamdulillah ketika mendapatkan kenikmatan. Namun, perlu pembuktian dengan peningkatan amal ketaatan, karena syukur yang bernilai di mata Allah adalah ketika seorang hamba yang diberi kenikmatan lalu bertambah ketaatan kepada Sang Pemberi Kenikmatan.

Ketika kenikmatan dari Allah tidak berpengaruh dalam amal ketaatan kita, maka kenikmatan yang kita rasakan bisa jadi adalah kenikmatan yang semu, kenikmatan yang illegal yang tidak mendatangkan keridhoan-Nya. Sering kita melihat orang yang hidupnya penuh dengan kenikmatan duniawi, tapi ternyata mereka bukanlah termasuk orang yang taat dalam mentaati-Nya. Justru yang terjadi adalah bertambahnya kemaksiatan mereka kepada Allah. Maka kenikmatan yang mereka rasakan hanyalah kenikmatan yang menunggu kebinasaan, karena begitulah cara Allah menyiksa secara perlahan orang yang menerima kenikmatan tapi tidak bertambah ketaatan. Inilah yang dinamakan Istidraj.

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah bersabda, “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan).” (HR. Ahmad)

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun Membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan sesuatu yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Ayat dan hadist di atas menjadi teguran keras kepada kita yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai kenikmatan yang kita rasakan selama ini merupakan istidraj dari Allah.

Kita bisa mencontohi Rasulullah dalam masalah syukur, yakni ketika Rasul mengerjakan shalat malam dan sampai kaki beliau bengkak. Ketika itu, Aisyah berkata, “Kenapa engkau memaksakan diri untuk ini, padahal Allah telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Rasul dengan rendah hati menjawab, “Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari)

Inilah contoh dari manusia terbaik, ketika Allah memberikan segala kenikmatan-Nya, tidak membuat Rasul menjadi orang yang lalai dengan kenikmatan tersebut. Namun sebaliknya, Rasulullah menjadi orang yang paling banyak amal ketaatannya. Itulah pembuktian rasa syukur terhadap segala hal yang telah Allah berikan.

Selayaknya kita instropeksi diri, “Apakah ketaatan bertambah setiap mendapatkan kenikmatan?” Atau jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang sangat cepat mengucapkan “Alhamdulillah” ketika mendapatkan kenikmatan, tapi lambat dalam hal menambah amal ketaatan. Maka, ketika hidupmu penuh dengan kenikmatan, maka buktikan syukurmu dengan menambah ketaatan.

[Syifa Azzahra]

Leave A Reply

Your email address will not be published.