Bukan Jodoh

0 107

Kiblatmuslimah.com – Akhi Abdullah akan menikah pekan depan. Demikian kabar yang Ukhti Ana dengar dari teman-temannya. Entah kenapa, setelah mendengar berita itu ia merasa sedih dan kecewa. Pasalnya, dirinya sudah menaruh hati dan harapan kepada ikhwan tersebut.

 

Akhi Abdullah—Ketua Rohis di fakultas Ukhti Ana—yang sangat paham agama dan memiliki wawasan luas. Retorika dan kapabilitasnya membuatnya terkesima. Apalagi, belakangan ia tahu kalau Akhi Abdullah orangnya baik, simpatik, bertanggungjawab, menjaga pandangan dan pergaulan. Meski begitu, Akhi Abdullah tetap bisa diterima dan disukai teman-temannya. Selain itu, Akhi Abdullah juga pernah menjadi asisten dosen salah satu mata kuliah di kelasnya.

 

Tanpa disadari, tumbuh harapan di hati Ukhti Ana. Sosok rajulun shalih nan cerdas seolah-olah tergambar jelas pada diri Akhi Abdullah. Harapan untuk menjadi pendamping sosok tersebut, semakin menguasai hatinya.

 

Tatkala mendengar kabar pernikahan Akhi Abdullah, rasanya bagai disambar petir di siang bolong. Harapan yang sudah terbangun indah hancur berkeping-keping. Bayangan untuk menjadi pendampingnya pun pupus sudah. Ukhti Ana merasa kenyataan ini begitu pahit untuk ditelannya.

 

Ilustrasi antara Akhi Abdullah dan Ukhti Ana, memang hanya rekaan alias sekedar cuplikan cerita. Nama dan kejadiannya hanyalah fiksi belaka. Kisahnya pun didramatisasi sedemikian rupa. Meski mungkin saja, ‘korban’ kasus yang seperti itu juga tidak sedikit. Sudah berharap-harap untuk dinikahi si ikhwan X, eh… si ikhwan malah menikah dengan akhwat lain.

 

Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita merupakan ketetapan Allah. Begitu juga dalam masalah perjodohan. Apakah kita akan menikah dengan ikhwan A atau ikhwan B, semuanya tidak lepas dari apa yang disebut sebagai takdir Allah.

 

Apapun, akan terjadi atau tidak akan terjadi, semuanya atas kekuasaan dan kehendak Allah. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki oleh Allah pasti tidak akan terjadi. Wallahu ‘alaa kulli syain qadiir (QS al-Mulk: 1). Allah yang menetapkan segala sesuatu.

 

Oleh karena itu, seharusnya kita sadar bahwa diri kita tidak bisa menghendaki sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan dan kehendak kita, tanpa izin Allah. Begitu pula ketika kita menginginkan seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita. Jika Allah tidak berkehendak untuk menjodohkan kita dengan dia, maka selamanya kita tidak akan pernah menikah dengan seseorang tersebut.

 

Siapa jodoh kita adalah rahasia Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya. Sebagaimana kapan dan di mana kita akan mati.

 

Barang siapa yang beriman kepada takdir Allah, kekuasaan dan kehendak-Nya, serta paham akan kelemahan dirinya maka ia akan benar-benar bertawakal kepada-Nya. Ia akan menempuh jalan-jalan yang telah ditentukan Allah dalam takdir-Nya. Ia juga memohon pertolongan kepada-Nya, atas apa yang tidak dimampuinya.

 

Mengembalikan segala sesuatu dengan penuh keyakinan tentang firman-Nya: “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.  (QS at-Taubah: 51)

 

Karena itu, jangan buang-buang waktu mengisi ruang khayal dengan bayang-bayang ikhwan. Berfantasi kelak ia menjadi pendamping hidup kita adalah harapan semu. Serahkan semua pada Allah. Bukankah semua takdir sudah tercatat rapi di Lauhul Mahfuzh?  Yakinlah bahwa semua indah, apapun takdir-Nya. Husnudhan billah!

 

 

*Viyanti Kastubi

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.