Budak Makhluk atau Budak Allah?

0 185

Kiblatmuslimah.com — Jika kita amati kebanyakan manusia saat ini, sejak pagi buta hingga larut malam, hampir seluruh waktunya digunakan mencari bagian dari dunia. Menghabiskan sebagian besar usia untuk mengumpulkan harta, menggapai ambisi pribadi, meraih jabatan dan tahta, mengejar tokoh idola atau pasangan idamannya.

Berbagai jalan ditempuh, melanggar rambu-rambu bila perlu. Tak peduli jalan halal, yang haram pun diterjang. Biarlah orang lain jatuh terlindas, asalkan dirinya menang. Mencari keuntungan, meski menjilat orang. Apapun dilakukan, sampai agama dibuang. Tak peduli Allah melarang, sebab nafsu membangkang.

Begitulah gambaran para budak dunia. Hatinya terbelenggu oleh dunia yang semu. Jiwanya terpasung, tenggelam dalam gelombang dunia yang menghanyutkan. Terombang-ambing ke sana kemari mengikuti ombak duniawi. Hilang kesadaran, tak tentu arah.

“Barang siapa dikuasai oleh syahwat dunia, maka ia akan tunduk menjadi budak dunia.” (Imam Syafi’i, Tahdzibul Asma’ wal-Lughat 1/60)

 

Menjadi Budak Allah

Ketika seorang Muslim menyatakan syahadat, ia menyerahkan dirinya dengan ketundukan dan kepatuhan, sebagai konsekuensi persaksiannya terhadap Allah sebagai satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak disembah. Mengikuti risalah yang dibawa oleh utusan Allah, Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Ia membebaskan dirinya dari seluruh belenggu yang membuatnya tunduk kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Melepas rantai setan yang mengikatnya. Memerdekakan dirinya dari jeratan hawa nafsu.

Menundukkan diri dalam ketaatan dan kepatuhan semata hanya kepada Allah. Mengembalikan seluruh urusannya kepada aturan Allah. Memasrahkan diri dalam ketundukan total kepada kekuasaan Allah, baik ibadah maupun syariat.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

 

Membebaskan Manusia dari Menyembah Manusia

Persia dan Romawi, dua imperium besar yang menguasai dunia saat itu, berhasil ditundukkan di awal sejarah peradaban Islam. Ketika perang Qadisiyah, Sa’ad bin Abi Waqqash sang panglima perang mengutus Rabi’ bin Amir untuk menghadap Rustum, panglima perang Persia. Rustum bertanya kepada Rabi’ tentang tujuan kedatangan pasukan Islam.

Rabi’ menjawab dengan gagah dan lantang, ”Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesama manusia, kepada penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa dan Perkasa. Dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan agama kepada keadilan Islam.”

Tahrirul ‘ibad min ‘ibadatil ‘ibad, ila ibadatil rabbil ‘ibad. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, kepada menyembah Rabb-nya manusia. Allah Pencipta seluruh makhluk. Dia Al-Khaliq. Tidak selayaknya menghamba kepada makhluk yang lemah dengan menyekutukan Sang Pencipta. Mencampakkan aturan yang Mahakuasa, demi tunduk kepada aturan makhluk yang tak punya kuasa.

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hamba Allah adalah orang yang ridha terhadap apa yang Allah ridhai. Murka atas apa yang Allah murkai. Cinta terhadap apa yang Allah dan Rasul-nya cintai, serta benci terhadap apa yang Allah dan Rasul-Nya benci. Hamba Allah adalah hamba yang senantiasa menolong wali Allah dan membenci musuh Allah Ta’ala.”

 

Viyanti Kastubi

@vikastubi

Leave A Reply

Your email address will not be published.