Buah Nasihat

0 9

Kiblatmuslimah.com – Artikel yang lalu membahas tentang tata cara menasihati tanpa menyakiti. Dalam menasihati juga ada tata caranya agar diterima. Jika nasihat diterima, tentunya kita merasa bahagia karena orang yang disayangi akan menjadi lebih baik. Nasihat bagi kebaikan seseorang itu ibarat udara bagi tubuh. Jika seseorang tidak mendapatkan nasihat, tubuh seakan mati, disebabkan tidak ada asupan udara yang masuk ke dalam tubuh.

Nasihat juga bisa diibaratkan seperti benih baik yang ditebarkan. Benih yang baik, selalu dijaga, disiram dan dipupuk setiap hari. Dengan perawatan yang baik, pasti akan menghasilkan buah yang berkualitas. Apabila adab dan syarat-syarat dalam menasihati diperhatikan, besar kemungkinan akan membuahkan hasil dan berpengaruh baik. Di antara buah nasihat, yaitu:

1. Bersihnya orang yang mendapatkan nasihat dari berbagai kotoran

Ketika seorang memberi nasihat, melihat suatu kekurangan atau kealpaan, dia akan berusaha menghilangkan atau membersihkan noda kotoran kemaksiatan atau dosa. Sejatinya tidak ada yang lebih mulia atau berkah hidupnya daripada seorang saudara yang mengharapkan kebaikan bagi orang yang dinasihati. Maka dari itu, mulai sekarang buka pintu hati untuk mendapatkan nasihat orang lain. Berbahagialah dengan nasihat yang diterima. Itu artinya sedang diperhatikan dan disayang saudara.  

2. Cinta dan persatuan yang abadi

Seseorang mendapatkan nasihat yang bertujuan untuk meluruskan kekeliruan dan menyempurnakan kekuranganya. Sesungguhnya itu merupakan jalan menuju persatuan yang abadi. Penasihat mencintai orang yang diberi nasihat. Jika saudaranya termasuk orang yang berakal, pasti dia akan menyambutnya dengan cinta. Betapa banyak nasihat yang benar dapat menutupi segala kekurangan dan menjadikan antara keduanya saling mencintai karena Allah. Sehingga mewujudkan persatuan dan persaudaraan yang abadi di dunia dan akhirat.

3. Terpenuhinya hak ukhuwah persaudaraan

Ketika seseorang menasihati orang lain, sejatinya dia sedang memenuhi hak saudaranya. Hal ini berkaitan dengan cinta seseorang kepada orang lain. Sebagaimana cintanya kepada diri sendiri.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Barang siapa menyambung saudaranya dengan menasihatinya, berkenaan dengan urusan agama dan memperhatikan kebaikan urusan dunianya, sungguh dia telah menyambungnya dengan sebaik-baiknya dan menunaikan kewajiban.”

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana mungkin nasihat merupakan salah satu hak ukhuwah sedangkan di dalamnya ada pembeberan aib? Bukankah hal itu membuat hati tidak nyaman?

Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menyebutkan, “Ketahuilah bahwa ketidaknyamanan terjadi jika aib yang ada pada diri saudaramu kamu sebut. Adapun memperingatkannya dari aib yang tidak diketahuinya adalah kasih sayang sejati. Begitulah kecenderungan hati orang-orang yang berakal. Sedangkan hati orang-orang yang bodoh tidak perlu diperhitungkan. Sesungguhnya orang yang memperingatkanmu dari perbuatan tercela supaya jiwamu menjadi bersih, bagaikan orang yang mengingatkanmu dari seekor ular atau kalajengking di belakangmu yang hendak mencelakai. Jika kamu tidak suka peringatan itu, sungguh teramat bodoh.  Adapun sifat-sifat tercela itu diibaratkan seperti kalajengking dan ular. Dia sangat berbahaya dan dapat mencelakai.”

4. Pahala di sisi Allah

Apabila seorang memberikan nasihat kepada orang lain, dia berhak mendapatkan pahala di sisi Allah atas kesungguhan dan kecintaan kepada saudaranya untuk menjadi lebih baik.

Itu 4 buah nasihat yang kita dapatkan, jika berusaha memberikannya sesuai dengan tata cara syari’at. Jika kita dalam posisi mendapatkan nasihat, jangan merasa kita rendah atau hina. Terimalah nasihat itu dengan lapang dada dan hati bersih. Ketahuilah bahwa pnasihat itu merupakan orang yang sangat peduli. Dia menginginkan kebaikan kepada kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar dan Allah memberikan keluasan hati agar selalu bisa menerima nasihat orang lain. Karena nasihat itu merupakan salah satu obat mujarab untuk kebaikan kita bersama.

Oleh: Firdausy Ummu Farhat

Sumber: Abu Muhammad Shu’ailik. 2007. Menasihati Tanpa Menyakiti. Sukoharjo: Pustaka Arafah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.