Bila Mengaku Islam, Buktikan!

0 82

Kiblatmuslimah.com – Bukti seseorang merasa memiliki dan meyakini kebenaran Islam serta Islam menjadi darah dagingnya adalah ketika ia memiliki kepedulian, pembelaan, pengorbanan dan upaya untuk memperjuangkannya. Tidak mungkin dirinya rela menjadi “muslim pasif”.

Kepedulian dibuktikan dengan keseriusannya untuk mendalami Islam dan cabang-cabang ilmunya. Lembaran sejarah dipenuhi oleh kisah kegigihan para ulama dalam mencari ilmu, sejak pertama terkena sentuhan Islam. Seperti Jabir bin Abdillah yang rela menempuh satu bulan perjalanan untuk mengecek keakuratan satu hadits.

Sedangkan pembelaan terhadap Islam dibuktikan dengan ghirahnya (semangatnya). Ia tidak rela Islam dicela, tidak akan membiarkan orang-orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya. Meskipun ia harus berhadapan dengan keluarga terdekatnya. Seperti Abdullah bin Abdullah bin Ubay, ketika mendengar ayahnya telah mencela Nabi sebagai orang yang hina, sedangkan dirinya orang yang mulia, maka ia cegat ayahnya saat masuk Madinah. Beliau berkata kepada ayahnya, “Aku tidak akan membiarkanmu memasuki Madinah, sebelum Bapak mengatakan bahwa Nabilah yang mulia, dan bapaklah yang hina.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/473)

Tentang pengorbanan dan perjuangan untuk Islam, sahabat Mush’ab bin Umair Radhiyallahu ‘anhu menjadi teladan yang luar biasa. Sejak masuk Islam, penampilannya berubah drastis. Tadinya seorang pemuda yang glamour, suka bermewah-mewah, mendadak harus mengenakan pakaian paling kasar. Orang tuanya yang kaya raya tak sudi lagi menganggapnya sebagai anak. Beliau juga menyanggupkan diri membuka lahan dakwah di Madinah, hingga Allah memberkahi dakwah tersebut. Dalam waktu yang tak begitu lama, Islam telah menjadi warna dominan di Madinah. Kisah tentang hal ini terlalu masyhur untuk di ulas di sini.

Ada lagi Umair bin Wahab, jagoan Quraisy yang tadinya paling getol memusuhi Islam dan penganutnya. Setelah masuk Islam, beliau bertekad berdakwah ke seluruh wilayah yang beliau pernah injak dalam kekafiran. Dengan sebab dakwah beliau, akhirnya banyak orang yang masuk Islam.

Di kalangan wanita, ada Ummu Syarik. Keyakinannya yang dalam akan kebenaran Islam, membuat beliau tak mampu tinggal diam. Ia ingin, hidayah itu juga dirasakan pula oleh keluarganya, tetangga dan juga sebanyak mungkin manusia. Beliau berdakwah dengan sembunyi-sembunyi, hingga akhirnya beliau ditangkap dan disiksa. Pun, hal itu tidak membuat beliau menyesal atau jera. Beliau dipanggang di tengah terik matahari selama tiga hari. Akhirnya, Allah memberikan pertolongan. Buah dari ketegaran beliaupun nyata. Kaumnya berbondong-bondong masuk Islam ketika menyaksikan karamah yang Allah berikan kepadanya. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa Rabbmu adalah Rabb kami, dan kami bersaksi bahwa yang telah memberikan rezeki kepadamu setelah kami menyiksamu adalah Rabb yang telah mensyariatkan Islam.” Maka merekapun masuk Islam dan semuanya turut berhijrah bersama Rasulullah saw. (al-Ishabah fi Tamyiizish Shahabah 8/248)

Di mana Peranmu?

Memang, semakin seseorang memiliki ilmu yang luas, piawai dalam banyak bidang, semakin banyak pula peran yang bisa disumbangkan untuk Islam. Hanya saja, untuk turut berperan andil memperjuangkan Islam tak harus menunggu semua serba sempurna. Kita bisa memulai dari yang kita punya dan miliki, meskipun kelihatannya kecil dan sepele. Sebab tak ada yang sepele di sisi Allah. Selebihnya, menjadi tugas kita untuk selalu belajar, mengembangkan potensi serta memperbaiki diri agar yang disumbangkan untuk Islam lebih berarti.

Andil itu tak harus berupa mubaligh kondang, jago pidato, pakar nulis atau yang semisalnya. Mengajak orang untuk mengikuti majlis ilmu, menyebarkan tulisan dan sarana kebaikan, mendidik keluarga dengan warna Islam, mendoakan untuk kewibawaan Islam dan kaum muslimin, dan masih banyak lagi peran yang bisa kita lakukan.

Lumayan terhenyak dengan karya yang ditulis oleh Syaikh Mahmud Mahdi al Istambuli dan Musthafa asy-Sya’labi yang berjudul Nisa’ Haula ar-Rasuul. Bukan hanya tentang tokoh-tokoh wanita yang gemerlapan keahlian dan peran besarnya. Tapi juga seorang wanita tua yang lemah, yang nyaris tak memiliki keistimewaan apa-apa di sisi manusia. Ternyata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikannya. Yang menarik juga, penulis memberi sub judul “Darsun Laa yunsa“, pelajaran tak terlupakan.

Namanya Ummu Mahjan. Seorang wanita tua yang lemah, hitam kulitnya. Ia bukan termasuk kalangan cerdas cendekia, bukan pula masuk golongan kaya raya. Pun begitu, ia tetap ingin berkhidmat untuk Islam sebisanya. Dengan tekun ia membersihkan masjid tiap harinya, tempat ibadah dan berkumpulnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sehingga mereka merasa nyaman di tempat yang mulia itu. Ketika wanita itu meninggal di malam hari, para sahabat langsung menguburkannya di malam itu, tanpa membangunkan dan memberitahukan peristiwa tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin karena mereka anggap bahwa meninggalnya wanita itu bukan hal yang begitu penting.

Pagi harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan. Setelah mendapat informasi, beliau menegur para sahabat yang tidak memberitahukan kejadian yang menurut Nabi penting itu. Beliau bersabda, “Kenapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” (HR. An-Nasa’i, al-Muwatha’)

Ternyata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian besar atas usaha wanita tersebut dalam berkhidmat untuk Islam.

Masihkah ada di antara kita yang layak menyatakan udzur dari berkhidmat untuk Islam, dengan alasan tidak memiliki potensi? Tidak memiliki kemampuan apa-apa? Atau bahkan tidak memiliki cukup waktu? Buktikan Islammu!

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/arrisaalah.net

Leave A Reply

Your email address will not be published.