Berislam dan Bersyariat

0 187

Kiblatmuslimah.com—Menjadi mahasiswa sebuah universitas atau karyawan perusahaan, pasti ada aturan yang harus ditaati dan dipatuhi. Tidak bisa seenak kita atau semaunya sendiri. Demikian pula sebagai seorang muslim. Konsekuensi atas apa yang kita syahadatkan yakni tunduk terhadap apa yang telah diatur Allah dan Rasul-Nya atas diri. Aturan Allah untuk kita inilah, as known as syariat Islam.

 

Ketika berbicara tentang syariat Islam, biasanya diseret kepada hukum potong tangan atau rajam, secara parsial dan serampangan. Padahal, syariat Islam itu nggak asal eksekusi. Syarat dan aturan mainnya ketat sekali.

 

Islam dan syariat ibarat dua sisi dalam sekeping logam. Sepaket. Tidak bisa dipisah satu sama lain. Jika kita beragama Islam, maka tunduk dengan aturan Islam. Perumpamaan akidah Islam yang kita imani dengan syariat Islam, bagaikan sebuah rumah dan pondasinya. Bangunan syariat Islam akan kokoh jika fondasi akidahnya kuat. Fondasi tanpa bangunan tak berfungsi, tidak ada gunanya. Keduanya saling menopang dan terikat menjadi satu bagian tak terpisahkan.

 

Syariat Islam adalah hukum atau peraturan Islam yang mengatur seluruh sendi dan aspek kehidupan umat Muslim. Selain memuat hukum dan aturan, syariat Islam juga memuat penyelesaian persoalan seluruh kehidupan ini. Karena itu, syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna terhadap seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini.

 

Syariat Islam begitu indah. Paket komplet pedoman hidup dunia akhirat. Islam bukan hanya memerintahkan ibadah mahdhah (ritual), melainkan juga ghairu mahdhah (umum). Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal yang meliputi ibadah dan muamalah. Syariah Islam bertujuan menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat, rahmat bagi seluruh penghuni alam.

 

Allah Ta’ala sebagai Pembuat syariat tidak menetapkan suatu hukum dan aturan tanpa mempunyai tujuan dan maksud. Setiap bagian syariat terkandung maksud dan tujuannya. Diturunkannya syariat bertujuan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta manusia.

 

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Asy-Syatibi, ada lima bentuk maqashid syariah (maksud/tujuan syariat), yang biasa disebut kulliyat al-khamsah (lima prinsip umum) atau dharuriyat al-khamsah (lima kebutuhan asasi). Kelima maqashid tersebut, yaitu: hifzhu din (melindungi agama), hifzhu nafs (melindungi jiwa), hifzhu ‘aql (melindungi pikiran), hifzhu maal (melindungi harta), dan hifzhu nasab (melindungi keturunan). Melalui syariat Islam, akan terwujud keadilan, keamanan, kemakmuran, kemaslahatan, dan persaudaraan bagi umat manusia.

 

Viyanti Kastubi

@vikastubi

Leave A Reply

Your email address will not be published.