Berdamai dengan Inner Child

0 161

Kiblatmuslimah.com―Banyak orang tidak menyadari bahwa perilaku negatif mereka ketika dewasa, sebagian merupakan imbas dari pola asuh semasa kecil. Ujungnya, sering mempertanyakan, “Kenapa selalu berperilaku negatif secara berulang dan spontan (tidak disadari)?” Meski, kemudian merasa menyesal ketika perilaku itu telah berlalu.

 

Dalam Islam, inner child memang tidak dibahas sebagai perilaku kejiwaan khusus. Namun, perilaku imbasnya banyak disebutkan dalam Islam terutama bentuk anjuran untuk meninggalkannya.

 

Marah adalah sebentuk ekspresi inner child negatif yang banyak terjadi. Islam secara jelas melarang umatnya menuruti nafsu amarah. Banyak tips penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mengatasi kemarahan, salah satunya dengan berwudhu.

 

Berikut tahapan tazkiyyatun nafs untuk berdamai dengan inner child:

 

  1. Mengingat kembali makna hidup dan kehidupan. Mulai berhijrah secara tampilan, pola sikap, dan pikir.

 

“Dari mana kita berasal? Bagaimana mempergunakan kesempatan hidup? Akan kembali ke mana diri ini?”

 

Terpaut pada satu Zat, yakni Allah. Meminta ampun dari segenap kesalahan yang telah dilalui.

 

Amalkan bacaan tasbih dan istighfar. Semakin rasa marah menekan, tingkatkan perjuangan untuk memahami cara mengendalikannya. Ada Allah yang tentunya menjaga. Marah adalah bagian pesan bahwa sesuatu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

 

 

  1. Berdamai dengan diri.

 

Ikhlas menerima jika di masa kecil kehidupan, kita tidak baik dan tidak proporsional diberikan pola asuh yang maksimal. Pelan-pelan renungi dan relakan semua menjadi bagian takdir, ridha.  Tentu Allah sudah memberikan semua sesuai dengan kapasitas diri. Memilih sabar dan mengendalikan marah itu lebih utama.

 

 

  1. Maafkanlah orang tua yang sudah sedemikian rupa memperlakukan kita. Pahami bahwa mereka pun korban pengasuhan era sebelumnya. Beruntung kita mendapatkan ilmu dan mampu memutus siklus tersebut dengan tepat.

 

  1. Banyaklah menikmati kebersamaan bersama buah hati. Nikmati ritmenya. Lihatlah kejujuran tingkah polah mereka. Pahami pola asuh yang benar. Terapkan pada anak kita dengan maksimal.

 

Pahami saat kita bersama anak-anak, mungkin ada perilaku mereka yang memancing emosi. Sadarilah, akan ada reaksi yang mengajak pemikiran dan perilaku kita ke pola pengasuhan masa kecil (inner child). Sesungguhnya dengan keberadaan anak-anak, kita lebih mudah mengenal kekecewaan, rasa takut, sakit hati, dan marah.

 

  1. Perbanyaklah bersyukur. Lakukan evaluasi setiap hari. Kelalaian kita akan berdampak pada terlukanya fitrah buah hati. Jika tak diubah berarti kita berperan besar menghilangkan masa depan amanah yang diberikan.

 

  1. Hukumlah diri dengan positif jika terlanjur salah dalam mengasuh. Jangan sungkan meminta maaf pada buah hati. Jangan lupa sering-seringlah memberi pelukan. Berikan ruang untuk mereka mengungkapkan kekecewaan terhadap kita. Bantu mereka meregulasi emosi yang terlanjur ada. Insya Allah. Semakin cepat penyadaran, anak akan terbebas dari dampak dan bahaya inner child.

 

 

Semoga Allah menguatkan kita dalam kesabaran.

 

 

“Barang siapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya mampu sabar. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan luas daripada kesabaran.” (Mutafaq ‘alaih)

 

 

“Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan, hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.” (Mutafaq ‘alaih)

 

[MuHa]

Leave A Reply

Your email address will not be published.