Berbakti kepada Kedua Orang Tua

0 150

Kiblatmuslimah.com – Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 

عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu anhuma, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Keridaan Allah itu terletak pada keridaan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. (HR. At-Tirmidzi. Hadis ini dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

 

Allah berfirman yang artinya, “Dan Rabbmu telah berkeputusan bahwa kalian tidak boleh beribadah kecuali kepada Allah. Begitu pula terhadap orang tua, kalian harus berbuat baik sebaik mungkin. Seandainya kedua atau salah satunya mencapai umur lanjut usia dan beliau berdua dalam perawatan kalian, maka jangan sekali-kali mengatakan uh (ah atau kata-kata yang menunjukkan kekesalan/ketidakridaan). Jangan pula menghardiknya (mengungkapkan kata yang menyakitkan hati). Sebaliknya, katakan perkataan yang mulia. Rendahkan dirimu di hadapannya dengan penuh kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang dan kerendahan diri di depan orang tua kalian. Dan ucapkanlah doa, ‘wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku saat aku kecil’.”

 

Pertama, Allah melarang orang untuk berbuat syirik. Dalam firman Allah di atas, dosa durhaka kepada orang tua disandingkan/digandengkan dengan dosa syirik. Allah menempatkan kedudukan kedua orang tua pada kedudukan yang tinggi. Tidak ada beda antara orang tua muslim maupun kafir. Semoga Allah berikan hidayah kepada kita semua. Harus fokus untuk memohonkan hidayah dan ampunan kepada kedua orang tua.

 

Saat ini kita berpotensi lebih pintar dibandingkan dengan orang tua. Hal ini dikarenakan piranti pendidikan orang tua (dulu) tidak semudah sekarang. Perjuangan untuk menjadi santri pada zaman mereka lebih sulit dibandingkan sekarang.

 

Waktu mereka muda, tidak sepenuhnya digunakan untuk mengaji, tetapi harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok. Anak zaman sekarang lebih mudah menghafal Al-Qur’an dan mengenyam pendidikan. Namun, hal ini berpotensi membentuk manusia yang lebih mudah berani kepada orang tua.

 

Semakin tua seseorang, semakin “aneh” dan membuat jengkel putranya. Allah pun mengetahui mengenai sosiologi manusia. Sangat wajar seseorang akan mudah jengkel dan tidak melayani seluruh kebutuhan orang tua. Namun Allah membatasi hal tersebut mulai dari kata-kata.

 

Kata “uh” dapat menusuk hati orang tua. Apalagi dengan kata-kata yang membentak. Skala kata “ah” saja sudah menjadi dosa besar. Solusi sementara adalah dengan menahan keluarnya kata-kata tersebut dan menggantinya dengan menghela nafas. Respon kekesalan merupakan spontanitas yang harus dilatih. Untuk kali pertama memang sangat sulit dilakukan. Untuk menjalankan teori, perlu banyak latihan.

 

Latihan yang lain adalah hendaknya selalu berpikir bahwa segala hal yang diminta mereka adalah miliknya. Kita kadang membentak orang tua karena permasalahan harta. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda bahwa, “Kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu”. Keyakinan bahwa segala yang diminta orang tua adalah miliknya, maka hal tersebut akan memperingan hati.

 

Latihan yang lain adalah dengan memperhatikan doa yang diajarkan selama ini, dengan meminta agar Allah menyayangi mereka. Kasih sayang anak tidak mungkin setara dengan kasih sayang orang tua ketika kita masih kecil. Nabi Muhammad menyebut ibu sebanyak 3 kali ketika ditanya tentang manusia yang perlu diperlakukan baik, selanjutnya adalah bapak.

 

Trik selanjutnya, dapat bekerja sama antar anak untuk bergantian mengurus orang tua. Anak yang berada di kota, akan kurang perhatian kepada orang tua yang berada di kampung halaman. Paling tidak (minimal), menelepon mereka dan memperhatikan.

 

Kasih sayang anak tidak akan pernah satu level dengan kasih sayang orang tua. Ketika ada orang yang menggendong ibunya untuk tawaf pun, tidak dapat menggantikan kasih sayang ibunya. Bahkan tidak dapat membayar setetes darah yang keluar ketika melahirkan anak.

 

Allah memerintahkan supaya anak mendoakan agar Alloh menyayangi orang tua. Kita harus berbuat semaksimal mungkin, berbakti kepada orang tua. Mendoakan yang efektif (bukan hanya masalah panjang umur) dan membimbing mereka supaya dapat memanfaatkan waktu tersisa yang dimilikinya untuk ibadah.

 

Apakah anak perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dengan anak laki-laki?

 

Seorang istri memiliki kewajiban yang sama dengan suami terhadap orang tuanya. Hanya saja, seorang istri memiliki suami sebagai pemimpin. Istri dapat meminta izin kepada suaminya supaya diperkenankan membantu orang tuanya.

 

Bagaimana dengan bantuan kepada mertua?

 

Kedudukan mertua tidak sama dengan orang tua. Tetapi larangan mendurhakai sama saja, antara mertua dan orang tua. Jalinan keluarga sudah terjalin dengan  sebab pernikahan. Meskipun demikian, pahalanya tidak sama. Mertua disebut sebagai “walid”, meskipun mereka belum muslim. Keturunan muncul ketika adanya walid tersebut.

 

Mana yang perlu diprioritaskan?

 

Ketika memiliki 2 kewajiban yang sama, maka harus mengedepankan orang tua kandung. Terlebih ketika mertua memiliki anak lainnya, terutama laki-laki. Secara prioritas, yang perlu dikedepankan adalah ibu kandung. Ketika kemampuan kita mencukupi, maka mertua adalah kesempatan tambahan.

 

Materi diambil dari Kajian Masjid Ar-Rayyan, Kementerian BUMN, hari Rabu, 29 Agustus 2018

 

Pemateri: Al-Ustadz Syeikh Mudrika Ilyas, Lc, Dipl Acp, M.Pd, I حفظه اللّٰه تعالى

(Ketua Sub Komisi Hubungan Luar Negeri Komisi Nasional Anti Pemurtadan/KNAP, Mudir/Direktur Ponpes Al Ma’had, Setu-Bekasi)

 

 

Dicatat oleh: Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd (Alumni Terbaik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Program Studi/Prodi Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Guru SMA Negeri di Kabupaten Bekasi, Istri dari Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, I, M.Pdحفظه اللّٰه تعالى

(Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Domisili di Bekasi Kota).

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.