Beramal dan Berjuang Untuk Apa?

0 152

Kiblatmuslimah.com – Dunia ini, tak akan lepas dari pertarungan antara haq dan bathil. Perebutan dominasi kebaikan dan keburukan. Setiap manusia akan mengambil jalan masing-masing di antara keduanya. Everyone has their own battles that they are fighting.

 

Ada dua jalan yang akan dipilih manusia. Sabilul muttaqin atau sabilul mujrimin. Sabilul muttaqin adalah jalan untuk orang-orang bertakwa. Sedangkan sabilul mujrimin adalah jalan untuk orang-orang durhaka lagi berdosa. Jalan menuju surga yang tinggi atau yang membuat terperosok ke jurang neraka.

 

Jalan yang kita pilih tentunya mengantarkan kepada ridha dan surga Allah. Meski banyak hal yang tidak menyenangkan bagi jiwa dan nafsu kita. “Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

 

Namun, justru di situlah letak perjuangan terasa bermakna. Mengendalikan keinginan, menundukkan dan mengorbankan diri, semata untuk Allah. Menjadikan hidup sebagai ibadah dan meniti jalan juang menuju-Nya.

 

 

Fi Sabilillah, di Atas Jalan Allah

 

Mengarungi samudera kehidupan

Kita ibarat para pengembara

Hidup ini adalah perjuangan

Tiada masa tuk berpangku tangan

 

Setiap tetes peluh dan darah

Tak akan sirna ditelan masa

Segores luka di jalan Allah

Kan menjadi saksi pengorbanan

 

Bait di atas adalah lirik nasyid yang sempat trending di masanya. Menggambarkan tentang bagaimana sepanjang hidup adalah meniti jalan perjuangan, di atas jalan Allah. Setiap incinya harus diisi dengan amal shalih. Tiap tetes peluh, air mata dan darah yang ada, akan menjadi saksi pengorbanan kita di hadapan Allah nantinya.

 

Bait nasyid tersebut belumlah selesai. Ada satu larik kalimat lanjutannya,

Allah ghayatuna

 

Artinya, Allah tujuan kami. Sebagaimana ikrar hidup kita yang disebutkan dalam al-Qur’an,

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang yang berserah diri kepada Allah.” (QS. Al-An’aam: 162-163).

 

 

Teruntuk dan Hanya Karena-Nya

 

Beramal dan berjuang takkan bernilai ibadah, jika tak diniatkan semata untuk-Nya. Harga dari diri dan perjuangan kita terlalu mahal jika dinilai dengan perkara dunia. Allah telah tetapkan harga dari diri orang beriman dengan surga dan keridhaan-Nya. Jiwa orang beriman itu mahal, jangan menjualnya murah dengan remeh-temeh dunia.

 

Beramal shalih, berjuang di jalan Allah harus karena Allah, ditujukan lurus fokus hanya kepada-Nya. Tak boleh ada yang lain. Allah berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

 

Viyanti Kastubi

@vikastubi

Leave A Reply

Your email address will not be published.