Belajar dari Tabi’in: Menganggap Kecil Diri

0 77

Kiblatmuslimah.com – Satu dari berbagai cara untuk memupuk kebaikan dan sarana mendidik jiwa yang dilakukan oleh tabi’in adalah mengikis sifat bangga diri. Fudhail bin Iyadh berkata, ”Mungkin engkau melihat di masjid itu (masjidil Haram), ada seseorang yang lebih jelek darimu. Namun apabila engkau memandang bahwa dia lebih jelek darimu maka musibah besar telah menimpamu.”

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa dunia dan segala isinya berpusat pada kita? Semuanya kembali atau berujung pada diri kita. Selalu merasa diri benar dan yang lain salah. Tapi tahukah kita bahwa ada orang-orang yang berada dipuncak tertinggi, namun mereka tak menganggap diri mereka tinggi sebagaimana orang lain meninggikan kedudukannya? Karena mereka mempelajari adab. Sehingga mereka tak pernah merasa bangga akan diri mereka, melainkan selalu merasa banyak kekurangan.

“Barangsiapa yang merasa tidak ada  kekurangan dalam dirinya maka justru dia penuh kekurangan.”

Bukankah kita tahu bahwa yang paling agung di dunia ini adalah Allah? Dia memiliki kuasa atas kita dan juga semua makhluk di alam semesta ini. Patutkah kita yang sangat kecil ini merasa diri besar? Sungguh tak patut.

Penyakit bangga diri ini dikenal dengan nama “ujub”. Hanya terdiri dari 4 huruf, namun bisa merusak sampai ke bagian paling penting dalam tubuh. Apakah itu? Yakni hati. Penyakit hati adalah penyakit yang paling perlu mendapat perhatian besar untuk disembuhkan daripada penyakit fisik. Apatah lagi jika penyakit bernama ujub ini hinggap pada seorang da’i yang menyampaikan kebenaran. Sehingga orang lain dengan izin Allah, melalui perantaraannya mendapatkan hidayah kembali ke jalan yang benar. Jalan yang mengantarkan kepada ridha Allah dan Rasul-Nya.

Yahya bin Muadz berkata, “Dosa yang membuatku sadar akan kebutuhanku kepada Allah lebih aku sukai, daripada ketaatan yang membuatku bangga diri dan sombong”.

Bukan berarti dengan mudah kita melakukan dosa supaya bisa menyadarkan diri. Para generasi tabi’in adalah orang-orang yang selalu menganggap bahwa kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sebagai dosa besar. Mereka tidak pernah menganggap maksiat pada Allah sebagai perkara yang kecil. Mereka senantiasa memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang mereka perbuat. Pernahkah saudariku mendengar perkataan ini, “Jangan pernah menganggap kecil dosa yang kita lakukan! Karena bisa jadi perkara tersebut besar di mata Alloh”?

Saudariku, waspadalah! Waspadalah! Terlalu tinggi dalam menilai diri akan menempatkanmu di bawah tempatmu seharusnya berada. Barangsiapa yang memandang tinggi diri sendiri maka dia tidak memiliki harga sedkitpun.

Saudariku, seperti itulah generasi tabi’in. Generasi yang Rasululloh kabarkan sebagai generasi terbaik, setelah generasi para sahabat. Para tokoh yang mampu memberikan cahaya di gelap gulitanya malam. Menerangi gelapnya kesesatan. Mereka ibarat air segar bagi setiap peminumnya.

Sumber: Asyraf Hasan Thaba. 2011. Tarbiyah Ruhiyah ala Tabi’in (Cetakan 1). Solo: Aqwam.

_ Hunafa’ Ballagho _

Leave A Reply

Your email address will not be published.