Belajar Berumah Tangga dari Surat At-Tahrim

0 193

Kiblatmuslimah.com – Keseluruhan isi surat At-Tahrim berkisah tentang keluarga, yang terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian awal dan akhir berkisah tentang keluarga teladan; dari kalangan nabi (Rasulullah) dan bukan nabi (Imran). Bagian tengah berkisah tentang keluarga bermasalah (yang berujung perpisahan di dunia dan akhirat), baik dari kalangan nabi (nabi Nuh dan Luth), maupun bukan nabi (Fir’aun).

Hati-hati dosa jariyah dalam keluarga. Dosa yang didapatkan akibat perbuatan kita sendiri; ketika secara tidak langsung mengajarkan sesuatu yang diikuti oleh istri dan anak-anak. Keluarga adalah karya, proyek besar kita maka bersungguh-sunggulah berkarya di dalamnya.

Tadabbur Ayat

Ayat pertama, berisi teguran Allah untuk Nabi dengan lembut. Di antara hikmahnya:

Pertama; Jika kita membiasakan berbicara lembut dengan anak-anak, kelak mereka akan lebih mudah bersikap lembut terhadap kita.

Kedua; Menegur, menasihati diniatkan untuk kebaikan diri sendiri dan orang yang ditegur.

Ketiga; Keluarga Nabi tidak luput dari masalah. Hal ini sebagai pelajaran bagi umatnya. Masalah RT bermula dari perbuatan istri-istrinya. Ini pelajaran bagi para istri! Meski demikian, keluarga Rasulullah adalah teladan keluarga harmonis.

Keempat; Rasulullah senang berlama-lama di rumah Zainab binti Zahsy, karena di sana selalu disuguhi madu kesukaan beliau. Aisyah cemburu, lalu bersekongkol dengan Hafshoh. Mereka mengatakan bau mulut Rasulullaah tidak enak. Tips dari keluarga Rasulullah, agar suami betah di rumah, suguhkan selalu yang suami senangi.

Kelima; Rasulullah biasa wangi, baik badannya maupun mulutnya.

Keenam; Sangat sulit melahirkan generasi mulia kalau keluarga (suami-istri) tidak harmonis, tidak selaras akselerasi visi, misi dan amalnya.

Ketujuh; Ayat ini melarang kita mencari keridhoan istri dengan cara yang haram, begitupun sebaliknya.

Kedelapan; Allah mengingatkan para istri Rasulullah agar tidak mengganggu privasi dan kebiasaan beliau yang dibolehkan Allah.

Ayat ketiga, di antara hikmahnya:

Pertama; Masalah di RT Rasulullah adalah akibat kesalahan istri-istrinya

Kedua; Jangan mudah menceritakan rahasia kepada istri, karena wanita kurang bisa menahan lisannya untuk menjaga rahasia. (Meski demikian, laki-laki juga ada yang memiliki sifat itu, seperti di kisah di surat Al-Mumtahanah)

Ketiga; Istri pasti punya banyak salah dan kekurangan, tetapi jangan mengungkapkan seluruh kesalahannya ketika sedang marah. Tutupi dan maafkan kesalahan istri.

 

Keempat; Rasulullah mengibaratkan perempuan dengan gelas-gelas kaca, amat rapuh. Perlakukan dengan lembut, karena jika kita menghadapi mereka dengan sikap keras dan kasar, dapat membuat mereka “pecah”, kerusakannya semakin parah. Hal ini biasanya berimbas kepada anak.

Ayat kesepuluh, di antara hikmahnya:

Pertama; Ketika suami shalih, istri tidak, anak biasanya akan mengikuti ibunya, karena ialah yang mendidiknya. (Kisah nabi Nuh dan Luth)

Kedua; Ketidakharmonisan RT berimbas paling besar kepada anak. Suami dan istri yang berpisah, mungkin dapat dengan mencari gantinya (menikah lagi). Namun anak, selamanya akan menjadi anak-anak kandung kita. Ketika berpisah, hak asuh anak kepada ibunya, jika ia shalihah dan mampu mendidik anaknya dengan baik.

Ayat kesebelas, di antara hikmahnya:

Pertama; Suami tidak shalih, istri shalihah (Fir’aun dan Asiyah). Asiyah menjadi salah satu dari 4 wanita sempurna. Fir’aun dengan kekayaannya mampu memberi segala permintaan dunia istrinya, tetapi Asiyah lebih memilih kebahagiaan di akhirat (tampak dari doanya).

Kedua; Memilih lingkungan tempat tinggal diutamakan sebelum memiliki rumah. Hal ini terungkap melalui doa yang dituturkan oleh Asiyah.

Ayat kedua belas, di antara hikmahnya:

Pertama; Maryam adalah wanita yang ‘iffah (menjaga kehormatan dirinya). Padahal masa itu, perzinaan merajalela.

Kedua; Imran dan istrinya adalah pasangan yang sama-sama menjaga dirinya. Suami menjaga pandangan, istri menjaga aurat ketika di luar dan berusaha tampil menarik di hadapan suaminya.

Ketiga; Imran adalah sosok bukan dari golongan nabi, tetapi sosoknya diabadikan dalam Al-Qur’an, bahkan Allah memuliakan keluarganya (Ali Imran). Maka hal ini dapat menjadi pelajaran dan semangat bagi kita yang juga bukan dari golongan nabi, agar bersungguh-sungguh membina keluarga dan melahirkan generasi rabbani.

Wallaahu a’lam. Allaahumarhamna bil Qur’an. [laninalathifa]

Leave A Reply

Your email address will not be published.