Bekal Nabi bagi Para Penuntut Ilmu

0 11

Kiblatmuslimah.com – Kali ini saya akan meresensi buku karya Ustadz Adi Hidayat, berjudul Al-Majmu’. Dalam buku ini, beliau menyajikan beberapa hadits yang terkait dengan para penuntut ilmu. Berikut beberapa kutipan yang saya catat;

 

“Pelajaran yang baik amat menekankan pemahaman, tidak sekadar menghadirkan materi yang menghiasi pendengaran.” (Hlm.20)

 

“Ketiadaan ilmu menjadikan hidup kehilangan arah bahkan berpotensi menghadirkan sifat sesat dan sikap menyesatkan.” (Hlm.27)

 

“Ilmu sejati ialah ilmu yang memberikan manfaat bagi kehidupan, sekaligus melahirkan kondisi yang menyehatkan bagi jiwa dan raga pemiliknya.” (Hlm.30)

 

Nabi saw bersabda, “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk mengkaji (kandungan) al-Qur’an dan saling mempelajarinya kecuali akan turun pada mereka ketentraman, rahmat yang meliputi, malaikat yang mengerumuni, serta sanjungan Allah bagi mereka di sekitar makhluk-Nya.” (HR. Abu Daud)

 

“Niat adalah landasan utama bagi seorang muslim dalam memulai aktivitas kebaikan. Niat inilah yang menentukan apakah setiap aktivitas bernilai ibadah ataukah sebatas rutinitas.” (Hlm.44)

 

Alhamdulillah Allah ingatkan kembali bahwa tujuan pembelajaran dan mengajarkan itu harus selalu diniatkan untuk Allah. Jangan sampai karena telah menjadi rutinitas, ruh atau kesadaran hubungan dengan Allah itu justru luntur tak bersisa. Na’udzubillah min dzalik. Semoga Allah selalu melindungi kita untuk berjalan di jalan-Nya yang lurus. #luruskanniat

 

“Karena itu, seorang muslim sejatinya tidak menjadikan ijazah, pekerjaan, bahkan pengetahuan itu sendiri sebagai orientasi utama. Namun menjadikannya sebagai wasilah ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah.” (Hlm.46)

 

Ditampar bertubi-tubi. Jangan sampai karena dunia yang selalu menstandarkan kebahagiaan lewat pencapaian materi, membuat lupa bahwa ilmu, ataupun pekerjaan yang kita lakukan itu harusnya semakin membuat dekat dengan Allah. Bukan justru jauh dari-Nya.

 

Imam an-Nawawi memberikan empat syarat yang ketat bagi guru yang tepat. Beliau menulis dalam at-Tibyan sebagai berikut, “Tidaklah penuntut ilmu belajar kecuali dari seorang (guru) yang sempurna keahliannya. Baik agamanya, mendalam pemahamannya, serta mulia pekertinya.” (Hlm.49)

 

Allah SWT berfirman:

 

اَتَأْمُرُوْنَ النَّا سَ بِا لْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَ نْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Apakah engkau memerintahkan manusia dalam kebaikan, sementara engkau lupa diri? Lantas di mana akalmu?” (QS. Al-Baqarah 2: 44)

 

Allah mengingatkan, jangan sampai ilmu yang dibagikan ke orang lain, tidak diterapkan. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Ustadz Adi Hidayat menekankan dalam bagian ini untuk memiliki pemahaman yang mendalam. Lebih tepatnya saat akan memilih seorang guru. Pentingnya memilih guru yang memiliki kedalaman ilmu dan luas wawasannya. Seorang guru juga haruslah mulia budi pekertinya. Sepintar apapun seorang guru, saat ia memiliki akhlak buruk, hal itu justru akan diserap muridnya, bukan ilmunya. Na’udzubillah min dzalik.

 

“Adalah Nabi SAW senantiasa membatasi hari-hari tertentu dalam memberikan nasihat kepada kami, khawatir jika kami menjadi bosan.” (HR. Al-Bukhari)

 

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, hadits ini menuntun para penuntut ilmu untuk memetakan kebutuhan diri sebelum belajar. Kemudian memilih materi yang dibutuhkan. Dimulai dengan ilmu dasar seperti tauhid. Juga ada ilmu terapan seperti ilmu fiqih yang harus disempurnakan. Mendahulukan yang prioritas, jadi ilmu yang dipelajari akan terasa mudah dan benar untuk diamalkan.

 

Penuntut ilmu juga harus tenang dan fokus saat belajar, menyimak materi yang sedang disampaikan. Ustadz Adi Hidayat menyampaikan bahwa ketenangan jiwa sangat penting dalam proses menuntut ilmu. Seseorang yang punya persoalan emosional cenderung tidak akan fokus dalam belajar, bahkan mungkin menghadirkan madharat di majelis ilmu. Ini pengingat untuk mengesampingkan semua hal yang bersifat emosional maupun urusan apapun sebelum masuk ke majelis ilmu.

 

Selanjutnya adalah mencatat ilmu yang bermanfaat. Kalau kata sahabat Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

 

Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memeluk dan mendoakanku, ‘Ya Allah, ajarilah is al-Qur’an’.” (HR. Bukhari)

 

Esensi dari hadits ini adalah penuntut ilmu harus senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dan keberkahan. Tuntunan sunnah dalam belajar yaitu menciptakan keakraban antara guru dan murid, serta saling mendoakan di antara keduanya.

 

“Sungguh, perbedaan pelajar muslim dengan lainnya tidak terletak pada tingginya kecerdasan, namun lebih pada baiknya amalan.” (Hlm. 82)

 

Masya Allah. Itulah beberapa gagasan pokok yang bisa saya sampaikan. Masih ada bahasan lagi yang pastinya lebih asyik dibaca sendiri. Alhamdulillah. Meskipun ini adalah kali kedua saya membaca buku ini, akan tetapi saya benar-benar dapat banyak amunisi untuk dijalankan ke depannya. Semoga resensi ini bisa bermanfaat untuk yang lain.

 

Judul: Al-Majmu’: Bekal Nabi bagi Para Penuntut Ilmu

Penulis: Ustadz Adi Hidayat

Terbit: Maret, 2018

Penerbit: Institut Quantum Akhyar

ISBN: 978-602-1637-71-5

Peresensi: Alyani Shabrina

Leave A Reply

Your email address will not be published.