Bangkitlah, Wahai Muslimah!

0 221

Kiblatmuslimah.com – Asma’ binti Yazid bin As-Sakan adalah seorang wanita Anshar pemberani, teguh pendirian, ahli hadits, mujahidah dan orator ulung. Termasuk wanita yang berbai’at pada tahun pertama hijriyah.

Suatu ketika, ia diutus oleh para wanita untuk bertanya kepada Rasulullah.  Dia berkata, ”Wahai Rasulullah, aku adalah utusan dari sekelompok wanita kepadamu. Apa yang akan kutanyakan sama dengan pertanyaan mereka dan pendapat mereka sama dengan pendapatku.

Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada seluruh kaum laki-laki dan wanita, maka kami beriman dan mengikutimu. Namun, kaum wanita terbatas geraknya. Kami hanyalah sebagai tiang penyangga rumah tangga, tempat penyaluran syahwat laki-laki dan yang mengandung anak-anak mereka.

Sedangkan kaum laki-laki memperoleh keutamaan dengan diperintahkannya melakukan shalat berjama’ah, mengantarkan jenazah, dan berjihad di medan perang. Jika kaum laki-laki keluar untuk berperang, kamilah yang menjaga harta dan mengasuh anak-anak mereka. Oleh karena itu, apakah kami bisa mengimbangi pahala mereka?”

 

Mendengar pertanyaan seperti itu, Rasulullah lalu menoleh kepada para sahabat yang ada di dekatnya, lalu bertanya, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan wanita lain tentang ini?” Rasulullah bersabda, “Kembalilah engkau, wahai Asma’! Beritahukan kepada kaum wanita yang mengutusmu bahwa perlakuan baik salah seorang dari kalian kepada suaminya; usaha mencari keridhaan suaminya dan ketaatan kepada suaminya dapat menyamai pahala dari amal laki-laki yang engkau sebutkan tadi.”

 

Hikmah apa dari kisah Asma’ di atas?

Sungguh betapa besar peran seorang wanita; ketaatannya kepada suami, menjaga harta, kehormatan, mendidik anak-anak serta pekerjaan lainnya yang selama ini dianggap sepele oleh umumnya masyarakat.

 

Peran di rumah mendidik, membesarkan, dan mengasuh anak mulai dikhawatirkan “Barat”. Mereka menarasikan peran ibu yang akan menyemai benih-benih keislaman dan dianggap dengan ide radikal dan ekstrimis. Tak heran,  Barat sangat berambisi memisahkan ibu dari habitat aslinya yaitu rumah tangga sebagai ibu, pengasuh, dan pendidik anak-anaknya.

Dampaknya, wanita sekarang lebih senang berada di luar rumah dengan segala gemerlapnya duniawi dan perlahan-lahan meninggalkan fitrah mereka untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

 

Sayangnya, narasi permusuhan Barat tidak dipahami dengan baik oleh kaum muslimah. Mereka tidak sadar dijadikan sasaran orang-orang kafir. Dijauhkan dari keluarga dan anak-anak. Disenangkan dengan karir di luar rumah. Diberikan image yang baik sebagai wanita sukses, sementara ia tinggalkan tugas sesungguhnya; mengasuh, membesarkan dan mendidik anak. Ketaatan kepada suami dianggap hina dan merendahkan derajat kewanitaan.

 

Wahai Muslimah, sadarlah! Tugas kalian adalah mencetak generasi unggul. Generasi yang meneruskan dakwah risalah Rasul dan Nabi. Generasi yang mengemban misi dakwah untuk membumikan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

 

Wahai muslimah, sadarlah! Tugas kalian adalah membantu suami untuk berjuang di jalan Allah. Bukan untuk bertebaran di pasar-pasar, mal, dan tempat hiburan. Bukan bersolek di depan umum dengan berlenggak-lenggok mengumbar paras kecantikanmu yang diberikan Allah.

 

Wahai muslimah, sadarlah! Tugas kalian adalah melahirkan generasi Khalid bin Walid yang berjuang gagah berani menghadapi musuh, di saat kaum muslimin hilang keberaniannya.

 

Wahai muslimah, tugas kalian adlah menghadirkan Sholahudin Al-Ayubi bagi anak-anakmu. Pemuda yang gagah berani menumbangkan keangkuhan musuh. Merebut kembali Palestina dengan Al-Aqsanya.

 

Wahai muslimah, hari ini Islam butuh wanita-wanita yang tangguh. Generasi-genarasi yang melawan kedzaliman. Generasi yang membawa risalah Islam kembali jaya. Islam butuh pula manusia yang berjuang di jalannya. Menolong wanita-wanita yang tergores kehormatannya, bukan yang hanya menurutkan hawa nafsu, mengumbar syahwat, terlena dengan dunia, dan bermegah-megahan untuk kesenangan sesaat.

 

Wahai muslimah, bangkitlah! Jadilah wanita-wanita hebat. Engkau adalah madrasah bagi anak-anakmu. Di tanganmu, tumbuh harapan generasi ini. Lahirkan Sholahuddin-Sholahuddin untuk membebaskan kaum muslimin dari cengkraman orang-orang kafir. Jangan biarkan kaum muslimin terjajah dalam kehinaan. Darimu obor kemenangan. Bangkitlah, wahai Muslimah!

Peresume: PramudyaZeen

Sumber: Elhakimi. Bangkitlah, Wahai Muslimah. Majalah An-Najah – Edisi 150, Mei 2018

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.