Bai’at Aqabah Gerbang Menuju Madinah

0 217

Kiblatmuslimah.com – Yatsrib adalah asal nama dari Madinah. Yatsrib dalam strategi dakwah merupakan salah satu kota utama Hijaz. Sampai akhir periode Mekkah, Yatsrib tidak masuk perhitungan strategi dakwah karena faktor internal. Yatsrib tidak kondusif sebab terlibat perang saudara berkepanjangan. Perang terakhir Yatsrib adalah perang Bu’ats yang terjadi 4 tahun sebelum hijrah yang menghabiskan generasi senior dan meninggalkan generasi muda untuk mengurusi kota Madinah.

 

Kendali politik dan bisnis Yatsrib berada di tangan Auz dan Khazraj, sedangkan Yahudi sebagai pengikutnya. Yahudi suka sesumbar, Nabi terakhir akan datang dari Bani Israil (bangsa Yahudi). Di lain pihak, Rasulullah jago dalam komunikasi, memahamkan orang Yatsrib tentang Islam dengan substansial. Akhirnya mereka bersegera masuk Islam sebelum orang Yahudi lebih dahulu melakukan hal itu.

 

Rasulullah tidak pilih-pilih. Apabila melihat peluang, beliau lakukan meskipun dari jumlah yang sedikit. Ada 6 pemuda muslim dari Khazraj. Pencapaian mereka berenam dalam satu tahun yaitu setiap pemukiman (kompleks) sudah ada yang memeluk Islam. Cara menyebarkannya tanpa menimbulkan gejolak. Paling tidak, minimal ada satu orang. Pemerataan sebagai benteng sekaligus agent of Islam. Kaderisasi yang dahsyat. Kemudian melebarkan ke Auz. Semakin representatif, dua kelompok kuat di Madinah telah memiliki agen Islam di masing-masing kelompok.

 

Terjadi Bai’at Aqabah pertama di pemukiman Amr bin Auf dari Auz. Pemukiman yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Komitmen terhadap Islam yang terlebih dahulu dikuatkan, minus jihad. Dampak Bai’at Aqabah kedua yakni kesiapan menerima Rasulullah. Hijrah itu bukan reaktif. Hijrah itu sudah dirancang jauh-jauh hari, 3 tahun sebelumnya. Madinah sebagai basis dakwah punya inisiatif melindungi Rasulullah.

 

Orang-orang Madinah memandang Islam sebagai solusi, “Saya tidak mungkin tanpa Islam”. Islam memberikan solusi dalam kehidupan. Jika ada orang Islam yang nyinyir dengan Islam, menandakan telah hilang hal ini dalam diri mereka.

 

Kita harus melakukan “simplifikasi, reduksi, bahkan distorsi” atas apa yang sebelumnya dilakukan oleh para salafus shalih. Jika tidak memahami sirah secara utuh, maka tidak akan bisa ittiba’ Rasulullah.

 

Sumber: Kelas Sirah Nabawiyah angkatan VII diadakan oleh Sirah Community Indonesia (SCI)

(Hunafa’ Ballagho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.