Bahagia yang Merugi

0 163

Kiblatmuslimah.com – Bahagia adalah tujuan hidup setiap manusia. Demi meraih kebahagiaan itu, manusia akan melakukan apa pun. Bedanya orang beriman dengan kafir adalah dari cara memperolehnya.

Mereka (orang kafir, red) hanya butuh bahagia di dunia saja karena tidak yakin dengan kehidupan setelah mati. Oleh karenanya, orang-orang kafir akan menggunakan segala cara. Tidak peduli itu akan merugikan orang lain, membuat sengsara sesama, memecahkan tangis yang telah menyayanginya, merendahkan manusia lain dan mencela.

Orang beriman menginginkan bahagia di dua tempat sekaligus, dunia dan akhirat. Orang beriman akan menjaga amalnya. Bahkan tidak sedikit yang merelakan dunianya. “Rugi dunia tidak mengapa, daripada rugi akhirat,” demikian mendiang Ustadz Achsan pernah mengingatkan.

Allah berfirman, “Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa`: 88-89).

Untuk itulah, setiap muslim yang mukmin akan senantiasa menjaga amal shalihnya agar tidak rusak. Rusaknya amal (tidak diterima Allah) disebabkan tidak memperhatikan hak-hak orang lain. Bisa karena lisan yang tidak terjaga, perangai yang buruk, atau hati yang mencela. Merasa jumawa, sempurna, dan paripurna.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji/jorok, dan kotor.” (HR. Ahmad 1/416; shahih).

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).

Demi bahagia, seorang mukmin sangat berhati-hati dalam kehidupannya. Terlebih jika sering berinteraksi dengan banyak orang. Agar tidak menjadi manusia yang bangkrut dan menyesal kemudian saat menghadap Ilah.

Rasullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit/bangkrut) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis dari umatku ialah orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Sungguh merugi, sangat rugi.

Oleh: Yasmin Al Asyfaqo

Leave A Reply

Your email address will not be published.