Babad Walisongo

0 203

Judul Buku                  : Babad Walisongo

Penulis             : Yudhi A.W.

Penerbit                       : NARASI (Anggota Ikapi)

Tahun Terbit               : 2013

Tebal Halaman           : 296 Halaman

Peresensi                   : Khadijah

Isi Buku

Kiblatmuslimah.com – Buku “Babad Walisongo” karangan Yudhi A.W. adalah sebuah buku yang menyajikan kisah perjalanan walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa.

Kisah ini bermula dengan diutusnya beberapa utusan dari Turki Utsmani oleh Sultan Murad I untuk pergi ke tanah Jawa. Bertujuan menghadap raja Majapahit untuk mengislamkannya. Namun, usaha mereka tidak berhasil.

Pada akhirnya mereka berpisah, menuai jalannya masing-masing untuk berdakwah. Kemudian lahir satu per satu wali yang berkontribusi menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dalam buku tersebut diceritakan bahwasanya jumlah wali tidak hanya sembilan seperti yang kita tahu. Sejatinya masih banyak wali lain yang turut andil dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Mereka tak lain memang murid-murid dari wali sembilan tersebut.

Adapun walisongo yang kita kenal dan ketahui, mereka memang pilar utama yang memulai gerakan penyebaran Islam di tanah Jawa dengan kekhasannya masing-masing.

Di akhir cerita, buku ini menjelaskan bahwa segala yang telah ditakdirkan oleh Allah Taala tidak akan ada yang mampu mengubah, sekeras apapun usahanya. Hal ini dikisahkan oleh penulis dengan kekalahan salah seorang tokoh pada masa itu, yaitu Arya Panangsang. Ia merasa dirinya yang pantas untuk menjadi Sultan saat itu. Berbagai cara telah ia lakukan, akan tetapi tetap saja kalah.

Kelebihan Buku

“Babad Walisongo” karya Yudhi A.W. ini adalah buku yang menceritakan tentang walisongo dengan menggunakan bahasa cerita yang mudah untuk dipahami, tidak membosankan, dan sangat enak untuk dibaca. Jika kita membacanya dengan meresapi, maka tanpa disadari akan terbawa oleh alur dalam cerita.

Penjelasannya membuat pembaca memahami tokoh-tokoh dalam cerita satu per satu, walaupun harus titen (teliti, red) untuk bisa mengikuti alurnya sampai akhir. Membacanya mampu membuka mata tentang kisah walisongo yang mungkin selama ini hanya tahu namanya saja, tanpa mengerti cerita di balik perjuangan mereka menyebarkan Islam di Jawa.

Kekurangan Buku

Adapun kekurangan buku tersebut hanya dalam penggunaan kata sambung, seperti “dan” yang ada di awal kalimat. Namun bukan suatu hal yang berarti, karena ini novel dan bahasanya lebih bebas.

Walaupun dikemas dalam bentuk novel, masih membuat pembaca harus berpikir dan mengingat tokoh-tokohnya, karena di pertengahan cerita sudah tidak disebutkan nama aslinya. Misal, penyebutan untuk Sultan Brawijaya V. Kita tak akan tahu jikalau tidak flashback (membaca ulang, red) cerita sebelumnya.
 

Leave A Reply

Your email address will not be published.