Apa yang Sudah Kita Lakukan?

0 149

Kiblatmuslimah.com – Platform media sosial ramai membicarakan artis yang tampak berpendidikan dan visioner. Tidak cukup dengan gelar akademik yang tinggi, ia pun memiliki yayasan pendidikan dengan fasilitas sekolah gratis di negeri ini.

Dalam hati ini berbisik, “Apa yang telah kita lakukan?” Iri terhadap pencapaiannya tidak terlarang, tetapi sebagai umat Nabi Muhammad memiliki rambu dan ukuran sendiri. Tak sekadar pandai berorasi, tamatan universitas bergengsi dan gelar berbaris di belakang nama.

Apatah alamamater keren jika tidak dibarengi kontribusi terhadap Islam. Tak berguna gelar tanpa mendapatkan ridha Allah ta’ala. Sebab dunia hanyalah jembatan menuju alam akhirat yang tiada fana.

Manusia dituntut untuk berlomba dengan sebaik amal agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan Rasul-Nya. Maka mendapatkan predikat cumlaude dari instansi pendidikan tidaklah cukup. Namun, bagaimanakah predikat ini memunculkan rasa khasyah (takut) kepada Allah? Disertai amalan shalih yang bermanfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Ukuran kesuksesan manusia yang sebenarnya adalah Allah ta’ala menjadi tujuannya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai panutannya, Al-Qur’an Al-karim pedoman hidupnya, dan syariat Islam rambu-rambu yang dijaga. Itu semua karena ia tahu bahwa ada kehidupan setelah dunia.

Namun, mengusahakan pencapaian dunia pun tak terlarang selama digunakan sebagai wasilah untuk bekal menuju alam akhirat. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qishas: 77)

Jika si artis berhasil membuat kita takjub dengan pencapaian dunianya. Maka bangkitlah muslimah! Kita butuh bekerja sama membangun peradaban manusia menuju generasi terbaik menurut Allah dan Rasul-Nya. Belajarlah ilmu syar’i dan petakan kemampuan diri. Jangan hanya terpaku melihat mereka yang sebenarnya bodoh mengambil peran. Tak harus memiliki mimbar, di rumah-rumah sederhana ini, bersegeralah memperbaiki diri dan generasi. Wallahu A’lam.

Penulis: Ulfah Nadirah

Leave A Reply

Your email address will not be published.