Antara Ri’lah dan Shada

0 927

Kiblatmuslimah.com-Ri’lah binti Mudhadh bin Amr Al-Jurhumiyah adalah istri Nabi Ismail, setelah beliau menceraikan istri pertamanya yang bernama Shada binti Sa’ad. Shada adalah wanita yang tidak mengetahui kedudukan Nabi Ismail, kasar dan keras hati, kikir dan tidak mensyukuri nikmat. Ri’lah adalah wanita yang beriman kepada Allah, membenarkan yang diturunkan Allah kepada Ibrahim (Shuhuf suci yang di dalamnya terdapat penjelasan bagi manusia) dan meniru akhlak suaminya, Ismail. Pada akhirnya menjadikannya sebagai contoh ideal dalam kedermawanan bagi wanita-wanita yang menginginkan Allah dan negeri akhirat.

Ri’lah binti Mudhadh adalah wanita santun dan ramah, sebab ia wanita dari kabilah Jurhum yang paling baik agamanya dan paling suci. Ibrahim mendoakan keberkahan untuknya kemudian Allah memberkahi anak keturunannya. Ia wanita subur, kaya cinta dan ibu anak keturunan shalih yang dipilih Allah. Para ulama berkata: Istri Ismail, Ri’lah melahirkan dua belas anak laki-laki. Mereka adalah Nabit, Qaidar, Arbal, Mansya, Masma’, Masyi’, Duma, Adar, Thairma, Yathura, Nabsya, dan Qaidama. Di samping dua belas anak laki-laki tersebut, Ri’lah juga melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Nasmah binti Ismail.

Ri’lah hidup dengan damai di Makkah dekat zam-zam, tempat terbaik yang dipilihkan Allah untuknya dan keluarganya. Ia menyaksikan anak-anaknya tumbuh dewasa dan menjadi pemimipin-pemimpin Makkah. Allah menebar anak keturunan Nabi Ismail ke seluruh penjuru dunia dan masuk ke kabilah-kabilah Arab, dan semua berkah itu berkat doa ayahnya tercinta, Ibrahim.

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang-orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara dan tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Quran dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S Al-Baqarah: 128-129)

Kisah tentang istri Nabi Ismail ini memang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Namun banyak disebutkan dalam sunnah nabawiyah, di antaranya adalah disebutkan di dalam shahih Al-Bukhari hadits no.3184. Hadits tersebut sangat panjang mengisahkan tentang perjalanan Nabi Ibrahim bersama Hajar dan Ismail. Mulai dari ditinggalkannya Hajar dan Ismail di lembah yang tandus, keluarnya air zam-zam, tumbuh kembangnya Ismail dan pernikahannya hingga sampai dibangunnya Baitullah atas perintah Allah. Berikut ini adalah cuplikan dari hadits yang mengisahkan tentang kedua istri Nabi Ismail tersebut:

“Kabilah Jurhum berhenti di dekat zam-zam, mereka mengambil keluarga mereka dan membawa ke tempat tersebut.

Ketika rumah-rumah kabilah Jurhum sudah banyak di tempat itu, Ismail telah dewasa. Ia belajar bahasa Arab dari mereka dan mereka pun mulai kagum padanya. Pada saat itu mereka menikahkan Ismail dengan salah seorang wanita dari mereka (Shada binti Sa’ad), sedang ibu Ismail (Hajar) telah wafat.

Setelah Ismail menikah, Ibrahim datang ingin melihat peninggalannya Ismail, namun beliau tidak bertemu dengannya. Ibrahim bertanya kepada istrinya (Shada’ binti Sa’ad) perihal Ismail kemudian istrinya menjawab, ‘Ia keluar untuk mencari rezeki untuk kami.’ Ibrahim bertanya kepada istri Ismail tentang kehidupan mereka berdua, kemudian istri Ismail menjawab, ’Kami dalam keburukan, kesulitan dan penderitaan.’ Istri Ismail tersebut mengeluhkan tentang kehidupannya kepada Ibrahim.

Ibrahim berkata kepada istri Ismail, ‘Jika suamimu datang, sampaikan salamku untuknya dan katakan kepadanya agar ia mengganti ambang pintunya.’

Ketika Ismail tiba ia mencium sesuatu. Ia berkata kepada istrinya, ‘Apakah ada orang yang datang kepadamu?’ Istrinya menjawab, ‘Ya, ada orang tua datang kemari, ia menanyakan dirimu kemudian aku memberi penjelasan kepadanya. Ia juga bertanya kepadaku tentang kehidupan kita, kemudian aku jelaskan kepadanya bahwa kita berada dalam kesulitan dan penderitaan.’

Ismail bertanya kepada istrinya, ‘Apakah ia menitipkan sesuatu kepadamu?’ Istri Ismail menjawab, ‘Ya, ia menyuruhku menyampaikan salamnya kepadamu dan hendaknya engkau mengganti ambang pintumu.’

Ismail berkata, ‘Orang tua tadi adalah ayahku. Ia menyuruhku menceraikanmu, maka pulanglah engkau kepada keluargamu!’

Ismail pun menceraikan istrinya kemudian menikah dengan wanita lain dari kabilah Jurhum (Ri’lah binti Mudhadh) dan Ibrahim tidak mengunjungi Ismail hingga beberapa lama.

Pada suatu hari Ibrahim berkunjung kepada anaknya (Ismail), namun tidak berjumpa dengannya, Ibrahim menemui istri anaknya dan bertanya kepadanya tentang Ismail.

Istri Ismail (Ri’lah binti Mudhadh) menjawab, ‘Ia keluar mencari rezeki untuk kami.’ Ibrahim bertanya kepada istri Ismail, ‘Bagaimana keadaan kalian?’ Ibrahim juga bertanya tentang kehidupan mereka berdua.

Istri Ismail menjawab, ‘Kami baik-baik saja dan berada dalam kelapangan,’ Ia pun memuji Allah.

Ibrahim bertanya, ‘Apa makanan kalian?’ Istri Ismail menjawab, ‘Daging,’ Ibrahim bertanya, ‘Apa minuman kalian?’ Istri Ismail menjawab, ‘Air.’ Ibrahim berdoa, ‘Ya Allah berkahilah daging dan air mereka.’

Rasulullah bersabda, ‘Ketika itu keluarga Ismail tidak mempunyai gandum. Jika ia mempunyai gandum pasti Ibrahim mendoakannya.’ Ibrahim berkata kepada istri Ismail, ‘Jika suamimu datang sampaikan salamku padanya dan suruh dia mempertahankan ambang pintunya.’

Ketika Ismail datang, ia bertanya kepada istrinya, ‘Apakah ada orang yang datang kepadamu?’ Istrinya menjawab, ‘Ya, tadi ada orang tua yang bagus penampilannya dan bertanya kepadaku tentang dirimu, kemudiaan aku memberi penjelasan tentang dirimu kepadanya. Ia bertanya kepadaku bagaimana kehidupanmu? Aku juga menjelaskan bahwa kami baik-baik saja.’

Ismail bertanya, ‘Apakah orang tua tadi menitipkan sesuatu kepadamu?’ Istrinya menjawab, ‘Ya, ia kirim salam kepadamu dan menyuruhmu mempertahankan ambang pintumu.’

Ismail berkata, ‘Orang tua tadi ayahku dan engkau ambang pintu yang dimaksud. Ayahku menyuruhku mempertahankanmu.”

Ukhty fillah, bandingkan jawaban yang diberikan oleh kedua istri Ismail atas pertanyaan yang diberikan Ibrahim kepada keduanya, niscaya kita akan merasakan betapa indah jawaban yang diberikan Ri’lah kepada ayah mertuanya. Jawaban yang keluar dari hati yang bening, penuh dengan keikhlasan dan keimanan atas qadha’ dan takdir Allah kepada keduanya. Tidak ada keluhan dan caci maki, yang ada hanya rasa syukur atas segala kenikmatan yang diberikan Allah kepada keduanya. Sifat qanaah menghiasi jiwanya dan mengangkat derajatnya menjadi wanita yang sangat mulia di sisi Allah.

Itulah Ri’lah binti Mudhadh, wanita yang dipilih Allah untuk mendampingi Ismail dalam mengemban risalah-Nya. Wanita yang kaya akan cinta dan kelembutan, yang melahirkan anak keturunan Ismail dan mampu menghantarkan mereka menjadi pemimpin dunia. Dua belas anak laki-laki dan satu anak perempuan lahir dari rahimnya.

Ukhty, berapa banyak anak-anak yang lahir dari rahim kita? Sejauh mana pula peran kita dalam membimbing dan mengarahkan mereka? Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mengambil i’tibar dari sebuah peristiwa sehingga memiliki kesiapan dan keberanian dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.

Ref: Ustadzah Siswati. 2011. Ukhty Tetaplah Shalihah Meski Zaman Telah Berubah.  Solo: Gazzamedia. Hal: 302-310.

[Peni Nh]

Leave A Reply

Your email address will not be published.