Antara Aku dan Wanita Palestina

0 123

Kiblatmuslimah.com – Sebut saja namaku Mawar. Aku tinggal di sebuah kota yang jaraknya hanya satu atau dua jam dari ibu kota. Karenanya, kota tempatku tinggal boleh dibilang termasuk sebagai salah satu kota besar. Aku seorang ibu rumah tangga, memiliki beberapa orang anak yang masih kecil. Suamiku seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Kehidupan kami secara ekonomi bisa dibilang cukup untuk bertahan hidup di sebuah kota besar yang harga kebutuhan pokoknya terbilang tinggi.

Jika dibandingkan dengan kehidupan wanita-wanita Palestina, tentu saja kehidupanku sangat jauh lebih baik dari kehidupan yang mereka jalani di sana. Meski sama-sama seorang ibu, namun perbandingan hidup kami bagai bumi dan langit.

Sebagai ibu dengan anak-anak yang masih kecil, tentu saja aku memiliki pekerjaan rumah tangga yang banyak. Mulai dari urusan cuci dan setrika pakaian, sampai urusan antar jemput anak sekolah, semua harus kuselesaikan setiap harinya. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, seakan semua pekerjaan itu tiada habisnya. Tapi, itu semua sebenarnya bukan masalah, tinggal di kota besar membuatku banyak mendapat kemudahan. Meski tidak memiliki asisten rumah tangga, pekerjaanku cukup terbantu dengan adanya layanan berbagai jasa. Untuk cuci dan setrika, aku dibantu jasa laundry kiloan. Makan? Ada jasa catering harian, atau kalau tidakpun, warung yang menjual lauk matang dengan berbagai menu tersebar hampir di setiap tikungan.

Lalu bagaimana dengan mereka? Wanita-wanita Palestina yang minggu lalu baru saja kudengar berita tentang negeri mereka. Yang kembali dibombardir Israel laknatullah alaih. Pasti bukan kehidupan biasa yang sedang mereka jalani. Jangankan untuk makan makanan yang layak. Untuk makan sehari satu kali saja mereka harus berjuang sebelum mendapatkannya. Belum lagi masih harus berpikir memberi makanan, pakaian dan tempat tinggal yang aman bagi anak-anak mereka. Suami? Banyak dari mereka yang sudah menjanda, atau kalau masih adapun, mereka harus siap kehilangan suami di setiap saat dan tempat. Karena suami mereka adalah prajurit-prajurit yang siap mati demi mempertahankan rumah Allah, Masjidil Aqsha yang mulia. Sedangkan aku? Baru ditinggal pergi semalam saja sudah heboh. Sibuk menelpon, sms, menanyakan kapan pulang.

Kenyataan hidup yang penuh aral tak membuat wanita-wanita Palestina berkubang dalam duka. Bahkan mereka terus menempa diri untuk kuat, bertahan demi perjuangan. Mental mereka laksana baja. Meski wanita, tak sekalipun mereka lemah. Sering aku melihat gambar mereka turut mengokang senjata. Mata mereka garang menatap para penjajah itu. Jika aku masih sering mengeluhkan uang belanja yang tidak mencukupi kebutuhan harian, mereka justru lebih sering tidak memegang uang sama sekali. Jika ada pun, lebih banyak mereka gunakan untuk keperluan perjuangan. Jika waktu luangku lebih banyak kugunakan untuk berselancar di media sosial. Asyik ber-haha-hihi dengan teman-teman dunia maya. Mereka menghabiskan hari dengan Al-Qur’an. Tilawah dan menghafal adalah rutinitas mereka di waktu luang.

Aku sebenarnya bukanlah ibu-ibu muda kebanyakan. Aku….mungkin sebagian orang menyebutku aktivis dakwah. Predikat yang entah mengapa, setiap mengingatinya seringkali membuat dadaku seolah sesak. Sesak ini, aku pun tak mengerti sebabnya. Mungkin karena berulang kali terlintas di benakku sebuah pertanyaan. Siapa kamu? Ummahat multazimah? Apa benar kau telah beriltizam untuk dien ini? Apa yang kau lakukan? Yang kau katakan pada orang-orang di luar sana, apa sudah kau terapkan pada diri dan keluargamu? Aaahhh, tak kuasa aku menjawabnya. Maka, jika semua pertanyaan itu muncul. Secepatnya kupalingkan pikiranku kepada hal-hal yang lain.

Terlebih setelah ikut aktif berkampanye pro Palestina. Dadaku semakin sesak saja dibuatnya. Terbayang kegigihan wanita-wanita sebayaku di sana. Tangannya yang kokoh sigap melindungi anak-anak mereka dari rentetan peluru yang kerap datang tiba-tiba. Sementara aku? Tanganku dengan entengnya mencubit paha si sulung hanya karena enggan melipat mukena seusai shalat. Atau disebabkan nasi yang berantakan di lantai sehabis makan, susu yang tidak sengaja tumpah dan hal-hal sepele lainnya. Jika mereka melindungi anak-anak sedemikian rupa, aku malah membuat anak-anakku tak nyaman di rumahnya sendiri.

Dengan segala keterbatasannya, mereka mampu mencetak anak-anak penghafal Al-Quran. Disini dengan segala kemudahan, aku lebih sering disibukan dengan memikirkan status medsos yang akan kubuat hari ini. Toh, status ini isinya dakwah. Kampanye “save Palestina” atau alasan-alasan lain yang sering didengungkan sendiri di kepalaku. Untuk membasmi rasa bersalahku karena terus terang memang lebih sering memegang “ha-pe” daripada Al-Quran. Kalau anak-anakku tiba-tiba tak mau mengaji, tak mau menghafal, tinggal aku bentak saja mereka, atau aku hukum dikurangi uang sakunya. Seperti itu tentu saja beres. Tak perlu susah-susah memberi contoh.

Aaahhh terasa lagi sesak di dadaku. Tak terhitung banyaknya aku mengeluh, seolah diri wanita paling nelangsa, paling lelah dan paling lillah. Aku menyangka semua yang kukerjakan mendapat seabrek pahala. Padahal keluh kesah mewarnai hari-hari. Belum lagi suami duduk sepulang kerja, ocehan dari mulutku sudah memberondongnya. Uang belanja kurang, anak-anak rewel, badan pegal-pegal karena sibuk seharian bersih-bersih rumah. Padahal yang aku lakukan tak seujung kukupun dengan yang dialami oleh wanita-wanita Palestina itu.

Aku tinggal di rumah sederhana dengan aman dan nyaman. Anak-anak yang sehat. Suami yang siaga. Majlis ilmu yang mudah ditemukan di setiap masjid. Masih dilengkapi Smartphone untuk memperluas wawasan dan pergaulan. Rasanya, sesak itu berubah nyeri di hati hingga mengakibatkan pelupuk mata yang didesaki ribuan air yang akhirnya tak mampu kubendung lagi. Lelehannya menghangat di pipi.

Aku bisa jadi tak seorang diri, yang merasakan sesak di dada. Mungkin ada kamu, Anggrek, Melati, Kenanga dan yang lainnya. Kami mungkin tak kan pernah sebanding seperti mereka. Tapi aku, dan kamu masih punya waktu untuk memperbaiki segalanya. Kapankah itu? Sekarang, sebelum semuanya terlambat. Dan hanya sesal tersisa di hari akhir. Sesal yang tak menyisakan sedikitpun timbangan kebaikan untuk bekal pembelaan di mahkamah Allah kelak. Untuk waktu yang terbuang, untuk anak-anak yang tak terdidik maksimal, untuk suami yang tak terpenuhi haknya dengan sempurna. Dan untuk semua hal yang dahulu hanya menjadi pemanis di setiap status dan tulisan yang pernah dibuat.

Oleh: Zahwah Abida

Leave A Reply

Your email address will not be published.