Anda Hina Nabi, Kami Sakit Hati

0 54

Oleh: Raihanatur Radhwa (Narasumber WAG Majelis Quran)

 

Kiblatmuslimah.com – Setiap mendengar nama Nabi, sebagaimana Kalam Allah, hati kaum muslimin bergetar. Bahkan para ulama dan habaib memegang dada saat mendengar kata Muhammad. Jantung mereka serasa menyembul keluar, ingin segera bertemu Nabi.

 

Tentu betapa sakitnya saat Nabi dibandingkan dengan manusia. Manusia yang notabene tokoh sejarah sekalipun yang dinobatkan sebagai pendiri dan peletak pondasi negara. Padahal banyak nama terukir mengusir penjajah dengan teriakan takbir dan dorongan ajaran kemerdekaan dari ketundukan terhadap penjajah, berkat risalah yang dibawa oleh Rasul.

 

Dengan cara pembandingan yang sama, Sukmawati pada April lalu, juga melakukan penghinaan kepada ajaran Islam yang lain. Ia bandingkan kerudung dengan konde, azan versus kidung.

 

Orang kafir sekalipun telah menempatkan Muhammad sang nabi pada urutan pertama manusia berpengaruh bagi dunia. Secara objektif, Michael Hart mengukur pengaruh Muhammad saw.

 

Kriteria pertama, jumlah manusia yang terpengaruh oleh Nabi Muhammad Saw. Tak bisa dipungkiri, manusia yang memeluk agama Islam terus ada sejak beliau diutus. Hingga saat ini, masih berdatangan manusia meminta disaksikan mengucapkan syahadat, dibimbing hidup ala Muhammad Saw.

 

Kedua, luas pengaruh Muhammad Saw. Pemerintahan yang didirikan Nabi Muhammad di Yatsrib menjadi batu lompatan luasnya pengaruh Islam yang dibawanya. Berawal dengan membangkitkan sebuah kota menjadi bercahaya, hingga julukan Madinah Munawaroh disandangnya sebagai negara kota.

 

Bermula dari tanah Arab jazirahnya, meluas hingga Romawi dan Persia. Dilanjutkan Khalifah penerusnya hingga Syam dan Mesir di benua Afrika. Pemerintahan Islam berlanjut hingga Konstantinopel takluk di kakinya, Eropa di depan mata. Setelah Cordoba dan Andalusia lebih dulu mengecap manisnya. Dua per tiga dunia dihuni oleh pengikut Rasul dan diatur dengan risalah yang dibawanya.

 

Ketiga, aspek kehidupan yang dipengaruhinya. Sang nabi yang manusia biasa membawa tuntunan dari Tuhannya agar manusia mulia akhlaknya. Bermanfaat untuk sesamanya. Menjadi pelindung kelestarian alam sebagai keberlanjutan semesta ciptaan Sang Kuasa.

 

Muhammad mengajarkan kelembutan pada keluarga. Berkasih sayang dengan tetangga. Bersikap adil pada yang zalim. Lurus bertaqwa bila berkuasa. Bertindak tegas pada musuh yang jumawa. Berjiwa satria di medan laga. Moral, etika, rumah tangga, pergaulan sosial, pengelolaan sumber daya, pertanggungjawaban harta, politik pemerintahan, militer dan konstalasi negara di dunia tak ada yang luput dari pengaruh Sang Nabi.

 

Tak hanya itu, Pengadilan HAM Eropa pun menyatakan bahwa menghina Nabi bukan bagian dari kebebasan berekspresi. Penghinaan pada Nabi dapat membuat kerukunan sosial dan perdamaian terdisrupsi (internasional.sindonews.com, 26/10/2018). Padahal, negara-negara Eropa telah menyatakan diri sebagai negara liberal. Lalu, Indonesia negara apa? Tak ingin dibilang negara agama, lantas apakah negara perusak agama? Bukankah negara seharusnya ada untuk menjaga agama dan menjaga kerukunan umat beragama?

 

Sungguh dangkal mereka yang mencela Nabi. Apapun dorongannya. Bahkan atas nama nasionalisme yang diklaim sebagai harga mati, akan tetapi dipungkiri saat bicara investasi. Sungguh penghinaan kepada Nabi hanya membuka borok kedunguannya sendiri. Jangan-jangan, pembandingan Nabi dengan tokoh proklamasi sebenarnya cermin benih-benih kebencian yang tersembunyi dalam hati. Kepada Islam dan simbol-simbol kemuliaannya.

 

Wahai umat Islam yang diam atas penistaan agama dan Rasulnya, kepada siapa kita berlindung di Padang Masyhar nanti? Ingatlah hanya ada satu manusia yang bisa memberi pengayoman di saat matahari sejengkal saja dari kepala kita. Dialah Muhammad Saw, sang pemberi syafaat. Bukan proklamator negara dan filosof demokrasi yang dipuja-puja.

 

Wahai penguasa yang belum berbuat menindak si penghina, Anda pun seorang muslim. Sungguh Anda akan ditanya atas setiap kata penuh cela kepada Nabi yang tercinta, yang keluar dari mulut seorang wanita, entah apa agamanya. Janganlah karena dia bagian dari lingkaran kekuasaan, memiliki nasab pahlawan pujaan, lalu Anda penguasa berdiam diri dan menutup mata serta telinga. Seperti tak ada apa-apa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.