Anakku Mogok Sekolah

0 164

Kiblatmuslimah.com – Bulan Juli menjadi awal anak-anak masuk sekolah. Ada yang masih dalam suasana daring, ada juga yang sudah bisa menyelenggarakan sekolah tatap muka, maupun kombinasi keduanya. Pun pondok pesantren, telah memasuki awal tahun ajaran baru.

Menjadi siswa baru suatu sekolah, terkadang menjadikan orang tua lebih antusias daripada anak-anak. Mulai dari semangat mendaftarkan sekolah, berburu peralatannya, dan tentu saja mendukung anak-anak untuk menjalani lingkungan baru.

Menyenangkan memang, meski tentu saja ada tantangan yang harus dihadapi anak dan orang tua di awal. Salah satu tantangan yang mungkin muncul adalah anak yang enggan masuk sekolah. Terkadang begitu dominan sehingga menjadi sikap mogok, sama sekali tidak mau sekolah atau mengikuti kegiatan belajar mengajar daring.

Pada anak usia dini khususnya, mogok sekolah bisa terjadi karena beberapa kondisi, yaitu:

  1. Anak belum siap berpisah dari orang tuanya dalam waktu lama

Pada masa awal kehidupannya, orang tua dan keluarga adalah lingkungan terdekat bagi anak usia dini. Sedangkan lingkungan di luarnya, termasuk sekolah adalah asing. Wajar bagi si kecil jika merasa tak nyaman. Terlalu semangat dan cemas bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang memicu sikap mogok sekolah.

  1. Anak merasa tidak nyaman dengan lingkungan baru

Lingkungan sekolah sama sekali berbeda dengan rumah. Fisik bangunan dan furnitur, orang-orang yang ada di dalamnya, maupun kegiatan yang berlangsung di sekolah merupakan hal asing bagi sebagian anak. Rasa tak nyaman terhadap situasi asing, bisa membuat anak mogok sekolah.

  1. Anak belum memahami pentingnya sekolah

Otak anak usia dini masih berkembang sehingga nalarnya belum matang. Anak belum bisa menilai alasan sekolah. Belum memahami kenapa ia harus bertemu dengan guru dan teman baru, juga melakukan kegiatan tertentu yang diarahkan. Ketidakmampuan untuk memahami faktor di luar dirinya juga bisa menimbulkan rasa tak nyaman pada anak.

Bagi orang tua yang menghadapi situasi anak mogok sekolah, hendaknya memperhatikan beberapa hal:

  1. Meluruskan niat

Menyekolahkan anak usia dini tentu didasari oleh beberapa pertimbangan. Pastikan bahwa kita meluruskan niat sebelum memasukkan anak ke sekolah. Anak adalah amanah bagi orang tua, jangan sampai menyekolahkan anak dengan maksud “kelong momong” (jawa: mengurangi beban mengasuh). Komunikasikan dengan pasangan, tujuan yang hendak dicapai dengan menyekolahkan anak di usia dini. Misalnya, agar anak belajar bersosialisasi. Sehingga orang tua bisa mengontrol, apakah pihak sekolah bisa membantu tercapainya tujuan tersebut dan melakukan evaluasi jika tujuan tidak dapat dicapai.

  1. Memastikan anak sudah selesai dengan dirinya sendiri (mandiri sesuai usianya)

Kemandirian bisa menjadi faktor yang mendukung kenyamanan anak di sekolah. Anak yang terbiasa bergantung pada orang tuanya, cenderung kurang nyaman jika harus menunggu giliran untuk dilayani di sekolah. Ketidaknyamanan bisa menjadi sebab anak menolak masuk sekolah.

  1. Tidak memaksa anak

Anak usia dini belum sempurna nalarnya. Sehingga landasannya dalam berbuat adalah suka atau tidak suka. Anak belum memahami sekolah itu penting dan “bolos” adalah perbuatan yang tidak baik. Orang tua perlu mengarahkan untuk sekolah dengan cara yang membuatnya merasa nyaman. Misal dengan menyusun jadwal di malam harinya, membuat kesepakatan menarik agar si kecil bersemangat ke sekolah. Paksaan atau ancaman hanya akan membuat si kecil berasosiasi bahwa sekolah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya tidak menyenangkan.

  1. Memberikan pemahaman secara perlahan dan berkelanjutan

Jika landasan dan tujuan menyekolahkan anak usia dini sudah ditentukan, selanjutnya perlu menyampaikan kepadanya alasan orang tua menyekolahkan mereka. Perlu digarisbawahi, di usia ini nalarnya belum sempurna. Maka memberi pemahaman tak cukup hanya sekali, dua kali.

Selama proses memahamkan tersebut, sangat mungkin anak masih mogok ke sekolah. Orang tua perlu berlatih sabar dan terus menjalin komunikasi dengannya tentang pentingnya sekolah. Ketika sudah mumayyiz, dia sudah siap secara mental untuk sekolah dan memenuhi tanggung jawab yang menyertainya.

 

Penulis: MuHe

Leave A Reply

Your email address will not be published.