Anak Suka Mencela

0 218

Kiblatmuslimah.com – Betapa pentingnya kita mengingatkan anak-anak dengan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam hal adab dan akhlak.

Ada permasalahan yang sering terjadi di antara anak-anak, yakni saling mencela. Ketika orang tua mengetahui bahwa anaknya mencela temannya, maka mereka wajib menasihatinya.

Orang tua harus menasihati anak agar ia tidak mengulanginya. Nasihatkan padanya bahwa perkataan mencela dan melaknat itu dilarang, ada dalil yang mengharamkannya. Bahkan peringatan seperti ini sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak saja, tetapi juga berlaku untuk remaja, pun wanita-wanita dewasa seperti kita.

Wajib bagi kita sebagi orang tua, guru atau yang lainnya untuk membersihkan lisan terlebih dulu. Baru setelah itu mendidik anak-anak. Jangan sampai kita gemar mencela lalu anak kita mengikutinya. Kemudian dia beralasan, “Ibuku di rumah juga begitu.”

Sesungguhnya ada seorang laki-laki mencela Abu Bakar r.a, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk. Kejadian itu membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran-heran dan tersenyum. Ketika Abu Bakar mulai banyak menanggapi (atau membantah) sebagian perkataan (celaan) laki-laki tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dan berdiri (pergi). Abu Bakar pun menyusul Nabi, lalu berkata,

“Wahai Rasulullah, orang itu mencelaku, engkau hanya duduk. Ketika aku membantah sebagian perkataannya, engkau berdiri (pergi) dan marah.”

Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya ada malaikat bersamamu yang akan membantahnya untukmu. Ketika kau mulai membantah sebagian perkataan (celaan)nya, setan datang. Aku tidak akan pernah mau duduk bersama setan.”

Ada pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Jika ada orang yang mencela kita, hendaklah diam. Jangan membalasnya agar setan tidak datang.

Anak-anak harus tahu hal ini. Ajarkan padanya untuk “diam” ketika dicela dan jangan membalas celaan yang datang padanya.

Semua manusia adalah sama di hadapan Allah, yang membedakan adalah taqwanya. Contoh, Abu Lahab adalah pembesar Quraisy, beliau sangat tampan dan berkulit putih. Sedangkan Bilal adalah budak Habasyi, beliau berkulit hitam. Namun mereka berdua berbeda. Apa yang membedakannya? Ketaqwaan pada Allah Ta’ala. Suara terompah langkah kaki Bilal telah berada di surga, sedangkan Abu Lahab dicela sampai disebutkan dalam Al Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (Q.S Al-Hujurat: 13)

 

Wallahu a’lam

 

Sumber:

حلقة الأحد  تاج الوقار مع الأستاذة عافية الفيفي. بعنوان: كيف نربي أولادنا باالقران . التاريح ٣٠/٥/٢٠٢١

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.