Anak Pertama

0 600

Kiblatmuslimah.com – Ketika kakak, si anak pertama sudah terlelap, kupandangi wajahnya yang polos. Kubelai rambutnya, kugenggam tangannya, kucium keningnya. Ia menggeliat. Hampir setiap malam kubisikkan kata maaf di telinganya.

Dia memang tak biasa, meski masih acap kali tantrum di usianya yang menjelang 9 tahun. Tapi, begitu banyak keistimewaan dalam dirinya. Aku sepenuhnya sadar, memang ada yang salah dalam pengasuhannya. Yang tertatih berusaha untuk aku dan ayahnya perbaiki.

Bagai mengurai seutas benang kusut. Sabar sudah semestinya menjadi pijakan. Namun, jiwa yang lelah dan hati yang sering tak lillah menenggelamkan kesabaran hingga tak muncul saat diperlukan. Episode pahit seringkali berulang tanpa kami sadari. Menyisakan penyesalan kala malam menghampiri.

Dia anak pertamaku, yang lahir di saat ayah ibunya masih miskin ilmu juga miskin harta. Berani menikah di usia terbilang muda, hanya disebabkan satu niat suci. Menyelamatkan masa muda dari perbuatan keji. Bagi kami, yang penting selamatkan diri. Masalah setelah nikah, urusan nanti.

Ia yang lahir di saat ayah ibunya baru mengenal satu sama lain, baru belajar saling memahami, bahkan belum terasa saling memiliki. Ia berada di tengah keakuan ayah ibunya. Ia ada saat kami saling terkejut, menyadari bahwa pasangan kami tidaklah seideal dalam bayangan.

Tangis dan rengekannya turut mewarnai ketika kami terseok-seok menapaki jalan baru kehidupan. Ia ikut menangis kala kami tergelincir, juga ikut tersenyum saat kami kembali bangkit.

Dialah anak pertama, hadiah pertama yang dianugerahkan saat ekonomi orang tuanya masih terjepit. Komunikasi orang tuanya masih sulit, hubungan yang seringkali terasa pahit. Tak terhitung ribuan kali kutangisi, kuratapi kesalahan yang pernah terjadi. Penyesalanku seakan tiada berujung meski kata maaf berulangkali kubisikkan di telinganya baik saat lelap maupun terjaga. Namun hidup harus terus berjalan. Penyesalan yang terus-menerus hanya akan menjadi sandungan bagi perubahan.

Seseorang, ayahnya. Memaksaku berdiri. Yang lalu jangan selalu disesali, tapi fokus pada perbaikan diri. Kita bersama tak berhenti belajar. Tak kan menyerah, bila terjatuh kan bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Allah menilai usaha, kita cukup bersungguh-sungguh. Terus berusaha untuk menjadi orang tua yang baik. Dan yang paling utama, jangan pernah berhenti untuk melangitkan harapan.

Sesal boleh, karena bila tak ada sesal manusia akan terbiasa memaklumi kesalahan. Hingga terlena pada dosa. Memang tak ada manusia yg sempurna, begitupun orang tua. Yang ada, hanyalah mereka yang tak mau belajar dari kesalahan. Butuh waktu memang. Tidak mudah, jelas. Tapi, aku harus yakin kami pasti bisa. Karena hati kami tercipta dari cinta yang sama.

 

Seorang ibu yang tertatih menyusun kepingan cinta.

[Putri Samawy]

Leave A Reply

Your email address will not be published.