Alasan Islam Anjurkan Menikah

0 137

Kiblatmuslimah.com – Bagi sebagian orang, menikah mungkin momok yang menakutkan. Kondisi ini disebut sebagai gamophobia. Mereka takut menikah lantaran melihat beberapa pengalaman buruk yang dialami oleh pasangan yang sudah berkeluarga.

 

Ajaran Islam sebagaimana dijabarkan Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarhi Lubab al-Hadits, barangkali dapat mengurangi rasa takut tersebut. Dengan mengetahui keutamaan menikah dalam kitab ini, para pembaca akan lebih semangat untuk menikah.

 

Dalam Bab 25 kitab ini, Syaikh Nawawi menganjurkan umat Islam untuk menikah. Beliau mengungkapkan hadist Nabi Muhammad yang artinya, “Nikah itu berkah dan anak merupakan rahmat. Karena itu, muliakan anak-anak kalian. Sesungguhnya memuliakan anak adalah bentuk ibadah.”

 

Syaikh Nawawi kemudian mempertegas penjelasannya dengan hadist Nabi Muhammad yang maknanya, “Siapa yang ingin bertemu Allah dalam keadaan suci dan disucikan, hendaklah menikahi wanita-wanita merdeka.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik)

 

Menurut Syaikh Nawawi, yang dimaksud suci dalam hadist tersebut adalah selamat dari dosa yang bertalian dengan syahwat.

 

Menjadikan wanita merdeka sebagai istri lebih mendorong sikap menjaga diri ketimbang mengambil gundik. Biasanya, jika sudah memiliki wanita merdeka, maka tidak perlu lagi memiliki wanita sahaya (budak).

 

Dengan menikah, seseorang akan mendapatkan berkah dan rezeki. Asalkan dengan niat yang benar. Hal ini sesuai dengan hadist, “Carilah rezeki dengan menikah.” (HR. Dailami dari Ibnu Abbas)

 

Dalam riwayat Bazzar juga disebutkan, “Menikahlah kalian, karena wanita mendatangkan harta benda.”

 

Seorang pemuda yang menikah, maka sudah selayaknya menafkahi istrinya dengan cara-cara yang baik. Apapun yang diberikan seorang suami kepada istrinya bisa menjadi sedekah. Hal ini sesuai dengan hadist shahih yang sebagai berikut.

 

Nabi Muhammad bersabda, “Apa saja yang kamu jadikan makanan untuk istrimu, maka itu bakal menjadi sedekah bagimu.” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Miqdam bin Ma’di Karib)

 

Dalil dari Qur’an anjuran menikah dan larangan membujang

 

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

 

ياَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ منْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّ خَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَّ نِسَاءً، وَ اتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِه وَ اْلاَرْحَامَ، اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [QS. An-Nisaa’: 1]

 

وَ مِنْ ايتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لّتَسْكُنُوْا اِلَيْهَا وَ جَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّ رَحْمَةً، اِنَّ فِيْ ذلِكَ لايتٍ لّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. [QS. Ar-Ruum : 21]

 

وَ لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مّنْ قَبْلِكَ وَ جَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّ ذُرّيَّةً

 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. [QS. Ar-Ra’d: 38]

 

وَ اَنْكِحُوا اْلاَيَامى مِنْكُمْ وَ الصّلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَ اِمَائِكُمْ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِه، وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

 

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur: 32]

 

وَ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرّيَاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

 

Dan orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan: 74]

 

Hadits-hadist dari Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam:

 

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة

 

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”. [HR. Jamaah]

 

عَنْ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ قَالَ: رَدَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ التَّبَتُّلَ وَ لَوْ اَذِنَ لَهُ َلاخْتَصَيْنَا. احمد و البخارى و مسلم

 

Dan Sa’ad bin Abu Waqqash ia berkata, “Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam pernah melarang ‘Utsman bin Madh’un membujang dan kalau sekiranya Rasulullah mengizinkannya tentu kami berkebiri”. [HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim]

 

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: جَاءَ رَهْطٌ اِلَى بُيُوْتِ اَزْوَاجِ النَّبِيِّ ص يَسْاَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ ص. فَلَمَّا اُخْبِرُوْا كَاَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا فَقَالُوْا: وَ اَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ ص؟ قَدْ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ اَحَدُهُمْ: اَمَّا اَنَا فَاِنِّى اُصَلِّى اللَّيْلَ اَبَدًا. وَ قَالَ آخَرُ اَنَا اَصُوْمُ الدَّهْرَ وَ لاَ اُفْطِرُ اَبَدًا. وَ قَالَ آخَرُ: وَ اَنَا اَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ اَتَزَوَّجُ اَبَدًا. فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَيْهِمْ. فَقَالَ اَنْتُمُ اْلقَوُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَ كَذَا؟ اَمَا وَ اللهِ اِنِّى َلاَخْشَاكُمْ ِللهِ وَ اَتْقَاكُمْ لَهُ. لكِنِّى اَصُوْمُ وَ اُفْطِرُ وَ اُصَلِّى وَ اَرْقُدُ وَ اَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى. البخارى و اللفظ له و مسلم و غيرهما

 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada sekelompok orang datang ke rumah istri-istri Nabi Shalallah ‘alaihi wa sallam, mereka menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah diberitahu, lalu mereka merasa bahwa amal mereka masih sedikit. Lalu berkata, “Di mana kedudukan kita dari Nabi Shalallah ‘alaihi wa sallam, sedangkan Allah telah mengampuni beliau dari dosa-dosa yang terdahulu dan yang kemudian”.

 

Seseorang di antara mereka berkata, “Adapun saya, sesungguhnya akan shalat malam terus”. Yang lain berkata, “Saya akan puasa terus-menerus”. Yang lain lagi berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, tidak akan kawin selamanya”.

 

Kemudian Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka dan bersabda, “Apakah kalian yang tadi mengatakan demikian dan demikian?” Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan orang yang paling bertaqwa kepada Allah di antara kalian. Sedangkan aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku mengawini wanita. Maka barang siapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Al-Bukhari, dan lafadz ini baginya, Muslim dan lainnya]

 

عَنْ اَنَسٍ  اَنَّ نَفَرًا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيِّ ص قَالَ بَعْضُهُمْ: لاَ اَتَزَوَّجُ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: اُصَلِّى وَ لاَ اَنَامُ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: اَصُوْمُ وَ لاَ اُفْطِرُ، فَبَلَغَ ذلِكَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ: مَا بَالُ اَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَ كَذَا. لكِنّى اَصُوْمُ وَ اُفْطِرُ وَ اُصَلِّى وَ اَنَامُ وَ اَتَزَوَّجُ النّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّى. احمد و البخارى و مسلم

 

Dan dari Anas, bahwasanya ada sebagian shahabat Nabi Shalallah ‘alaihi wa sallam yang berkata, “Aku tidak akan kawin”. Sebagian lagi berkata, “Aku akan shalat terus-menerus dan tidak akan tidur”. Dan sebagian lagi berkata, “Aku akan berpuasa terus-menerus”.

 

Kemudian hal itu sampai kepada Nabi, maka beliau bersabda, “Bagaimanakah keadaan kaum itu, mereka mengatakan demikian dan demikian? Padahal aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan akupun mengawini wanita. Maka barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]

 

عَنْ قَتَادَةَ عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى عَنِ التَّبَتُّلِ، وَ قَرَأَ قَتَادَةُ { وَ لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مّنْ قَبْلِكَ وَ جَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّ ذُرّيَّةً. الرعد:38} الترمذى و ابن ماجه

 

Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah, bahwa sesungguhnya Nabi Shalallah ‘alaihi wa sallam melarang membujang dan Qatadah membaca ayat, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan”. (Ar-Ra’d: 38). [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah]

 

عَنْ اَنَسٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ اَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى الشَّطْرِ اْلبَاقِى. الطبرانى فى الاوسط و الحاكم. و قال الحاكم صحيح الاسناد

 

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang Allah telah memberi rezekii kepadanya berupa istri yang shalihah, berarti Allah telah menolongnya pada separuh agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah untuk separuh sisanya”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath dan Hakim. Hakim berkata, “Shahih sanadnya”]

 

و فى رواية البيهقى، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى النِّصْفِ اْلبَاقِى.

 

Dan dalam riwayat Baihaqi disebutkan, Rasulullah Shalallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah pada separuh sisanya”.

 

 

Semoga bermanfaat, Barakallahu fikum.

 

Maraji’/Referensi:

 

  1. Situs Website Media Radio Dakta 107 FM Bekasi di: www.dakta.com

 

  1. Situs Website Muslimah di www.kiblatmuslimah.com

 

  1. Ibnu Rusyd. Bidayatul Mujtahid. Terjemahan Penerbit Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

 

  1. Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al-Jawy al-Bantani. Menikah dengan Non Muslim. https://www.nahimunkar.org/hukum-menikah-dengan-non-muslim/

 

 

Alfaqir ilallah ‘Azza wa Jalla,

 

Al-Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd.I bin Dr. H. Subo Sukamto Abu Ramadhan, M.Sc bin Mbah Robikunحفظه اللّٰه تعالى

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan)

 

Diedit oleh Istri Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani yakni: Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd bin Wardi

Leave A Reply

Your email address will not be published.