Al-Qur’an Sebagai Panduan Ideal Muslimah

0 180

KIBLATMUSLIMAH.COM- Kunci kemajuan bangsa adalah rumah, sedangkan kunci rumah adalah wanita. Tidak muluk jika wanita disebut sebagai tiang Negara. Bangsa mau baik, maka perbaikilah perempuannya, bangsa rusak lihatlah bagaimana perempuannya.

Wanita harus bersyukur dengan datangnya Islam. Karena dengan Islam wanita dimuliakan. Islam memberi hak yang sama antara laki-laki dan wanita dalam banyak hal. Allah SWT berkalam dalam QS. An-Nahl: 97 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Ditekankan dalam ayat diatas bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Dalam surat lain diterangkan pula bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman yang menuntut ilmu, tanpa membedakan apakah ia Mu’minin atau Mu’minah.

Islam mengangkat derajat wanita sesuai pada posisinya, pass, tidak lebih dan tidak kurang, disinilah letak kemuliaan itu, sesuai pada tempatnya, bukan tingginya posisi. Seorang professor akan merasa mulia jika ia menduduki posisi yang sesuai dengan bidang keilmuannya, bukan menjadi karyawan atau penjaga keamanan. Sebaliknya, seorang satpam, tukang parkir dan lainnya mulia pada posisinya, akan menjadi berat dan hina jika satpam tiba-tiba diangkat menjadi presiden bukan lantaran keilmuan yang dimilikinya.

Islam mengangkat derajat wanita pada posisi yang memuliakannya, sebaliknya pada zaman jahiliyah wanita begitu dihinakan, bahkan kelahirannya menjadi ‘aib bagi keluarga, dikubur hidup-hidup adalah tindakan yang pantas bagi bayi perempuan yang lahir. Islam datang dengan membawa keadilan, memberi hak hidup untuk wanita, bahkan memberi hak waris satu banding dua, padahal sebelum Islam datang wanita tidak memiliki hak waris sama sekali. Maasya’allah.

Kisah-kisah wanita diangkat dalam al-Qur’an. Baik yang sholihah maupun yang tholihah. Berbagai macam potret wanita dapat kita ambil. Wanita sebagai Muslimah (yang belum menikah), wanita sebagai istri dan wanita sebagai ibu. Diantara mereka ada yang disebut namanya, dan ada yang tidak disebutkan.

Bagaimana kalau  kita kumpulkan kisah-kisah wanita dalam al-Qur’an kemudian kita kaji lebih dalam untuk mendapatkan panduan utuh bagaimana menjadi wanita ideal?

Maryam, adalah satu-satunya wanita yang namanya dijadikan nama surat dalam al-Qur’an. Allah memujinya dengan pujian yang indah “dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”

Ahli tafsir menjelaskan bahwasannya kemuliaan Maryam diatas segala perempuan di atas alam, bukanlah buat seluruh zaman, melainkan di zamannya saja. Tidak ada tolak perbandingan dengan yang lainnya.

Sebagai muslimah, mari kita kaji lebih dalam berapa prosentasi al-Qur’an menyebutkan wanita sebagai muslimah, sebagai istri, dan sebagai ibu? Sehingga menjadi panduan bagaimana seharusnya kita memposisikan diri, Islam telah datang dengan kesempurnaan teladan dan syari’at, sudah seharusnya kita belajar dari sumbernya, tidak asal jalan, apalagi sekedar pengalaman dari yang sudah ada.

Lantas bagaimana wanita diwilayah sosial? Ternyata sangat kecil sekali potret yang didapati dari al-Qur’an. Namun, kita saksika sekarang realita wanita dan sosialita…. wanita nongkrong di kafe, mall, arisan, dan lain sebagainya adalah hal lumrah, bahkan menjadi trend yang prestise. Saling berbangga dengan jabatan masing-masing, dan menganggap remeh urusan rumah tangga yang seharusnya urusan rumah tangga menjadi tanggung jawab utama seorang wanita, dimana ia memiliki tanggungjawab besar  sebagai seorang istri, dan seorang ibu.

Bagaimana peranan perempuan diwilayah sosial pada zaman Rasulullah? Mari kita simak kisah percakan seorang shohabiah yang mewakili dirinya dan teman-temannya untuk menanyakan urusan mereka kepada Nabi;

Dialah mujahidah, seorang orator dan juru cakap kaum wanita sahabat-sahabat nabi, Asma binti Yazid. Dengan keberanian dan kecerdasan otak serta kefasihan lidahnya, bersama perasaan dan hati cemburunya terhadap beberapa kelebihan yang diberikan kepada kaum lelaki, telah datang menghadap kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallaam yang sedang dikelilingi oleh para sahabat beliau. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai jaminan. Aku adalah juru cakap (utusan) kaum wanita untuk menghadap kepadamu. Sesungguhnya Allah telah mengutus engkau kepada kaum lelaki dan wanita sekaliannya, lalu kami beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Dan bahwasanya kami ini, adalah kaum wanita yang tidak dapat bergerak bebas, terkurung dan senantiasa berada di rumah-rumahmu untuk melayani keperluan syahwatmu dan mengandung anak-anakmu. Dan bahwasanya adalah kaum lelaki, telah dilebihkan dan dimuliakan atas diri kami dalam shalat jum’at dan jama’ah, melawat orang-orang sakit, menghantar jenazah, mengerjakan satu haji sesudah haji yang lain. Dan yang paling utama dari semua itu ialah: berjihad di jalan allah azzawajalla. Jika salah seorang diantara kamu keluar untuk pergi berhaji atau berjihad maka kamilah yang menjaga hartamu, menjahitkan pakaianmu dan memelihara serta mendidik anak-anakmu. Tidakkah kami dapat berkongsi pahala dengan kamu dalam perkara ini?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallaam menoleh kepada para sahabatnya seraya berkata, “Pernahkah kamu mendengar pembicaraan seorang wanita yang lebih baik dan lebih pandai mengemukakan masalah-masalah dalam agamanya daripada wanita ini?” Para sahabat menjawab serentak, “Kami tidak sangka ada seorang wanita yang dapat mengemukakan permasalahan seperti ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah shalaahu ‘alaihi wassallaam lalu menoleh kepada wanita ini seraya berkata, “Ketahuilah wahai wanita, dan beritahukanlah kepada teman-teman dari kaum wanita yang lain. Bahwasanya penjagaan seorang wanita kepada suaminya dengan melayani (menggauli)nya dengan cara sebaik-baiknya dan taat kepadanya, senantiasa melakukan segala yang disukainya dan mencari keridhaannya adalah menyamai pahala semua itu.” Segera Asma bangun untuk kembali kepada teman-temannya yang sedang menunggu, sedangkan dia amat gembira sekali akan jawaban yang diberikan oleh Rasulullah tersebut.” Maaasya’allah

Peristiwa hijrah, adalah peristiwa terbesar dalam sejarah umat Islam. Peristiwa hijrah ini tidak lepas dari peran seorang wanita hebat, Asma’ binti Abu Bakar. Asma’ menyediakan makanan untuk Rasulullah dan Ayahnya selama bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari, Asma’ yang didatangi pertama kali oleh kaum Quraisy perihal keberadaan ayahnya. Dari rahim Asma’ lahirlah generasi-generasi hebat, salah satunya adalah Abdullah bin Zubair. Abdullah bin Zubair adalah pemimpin pada masanya.

Wanita memiliki peran yang sangat besar, hanya saja kebanyakan wanita tidak mengetahuinya. Sehingga sebagian menganggap bahwa wanita karier lebih mulia dan utama dari pada ibu rumah tangga. Sungguh  Ia harus belajar dari sumbernya, al-Qur’an sebagai kurikulum ideal wanita beriman, agar ia tahu profil dirinya seutuhnya. Dibalik orang besar selalu ada wanita. Allahua’lam bishoab.

Oleh: Bintu Sholih

Leave A Reply

Your email address will not be published.