Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar

0 207

Kiblatmuslimah.com – Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq yang paling mirip dengan kakeknya. Beliau tumbuh sebagai anak yatim tanpa kehadiran seorang ayah. Abdurrahman, pamannya telah membawanya dari Mesir ke kota Madinah. Sesampainya di Madinah, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengutus utusannya untuk membawa Al-Qasim dan adik perempuannya kepadanya.

 

Al-Qasim diasuh dengan pengasuhan terbaik. Dia sangat disayangi oleh bibinya seperti sayangnya seorang ibu menyusui terhadap anak yang disapihnya. Sungguh, Al-Qasim tidak pernah melihat seorang ibu yang lebih bersikap baik dan lebih penyayang kepadanya.

 

Beranjak dewasa, dia telah hafal kitab Allah yang mulia. Kakeknya adalah orang pertama yang menghafalkannya dari lisan Rasulullah langsung setelah diturunkannya wahyu. Dia mengambil hadits Rasulullah dari bibinya yang disebut dengan “ilmul mahdi” yaitu ilmu yang paling melekat.

 

Suatu waktu ada seorang Arab Badui datang ke masjid Madinah sambil berkata, “Siapakah di antara kalian berdua yang paling berilmu, kamu atau Salim bin Abdullah bin Umar?” Al Qasim menjawab, “Subhanallah. Semua orang akan memberitahumu tentang yang mereka ketahui”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Siapakah yang paling berilmu di antara kalian berdua?” Al-Qasim berkata, “Subhanallah”. Laki-laki itu kembali mengulang pertanyaannya hingga tiga kali, Al-Qasim berkata, “Itu adalah Salim. Pergilah dan tanyakanlah kepadanya!”

 

Ibnu Ishaq dan orang-orang yang duduk satu majelis dengannya pernah berkata, “Al-Qasim tidak suka untuk mengatakan, ‘Aku lebih berilmu dari padanya (Salim)’. Karena hal itu termasuk memuji diri sendiri dan beliau juga tidak suka untuk mengatakan, ‘Dia (Salim) lebih berilmu dari padaku’. Karena dengan begitu berarti dia telah berdusta”.

 

Dalam perjalanannya menuju Mekah, Al-Qasim merasa bahwa ajalnya kian mendekat. Dia menoleh ke arah putranya seraya berpesan, “Anakku, jika aku mati, kafanilah aku dengan pakaianku yang aku gunakan untuk shalat; baju gamisku, jubahku, dan selendangku. Itu kain kafan yang digunakan oleh kakekku Abu Bakar. Ratakanlah kuburanku! Janganlah kalian berdiri di atas kuburanku dan janganlah kalian mengatakan, ‘Dahulu dia begini dan begitu’, sebab aku bukanlah apa-apa.”

 

Masya Allah, seperti inilah akhlak mereka. Ilmunya tidak menjadikannya merasa sebagai orang yang paling berilmu. Akhlak seorang alim yang rendah hati.

 

Referensi: Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi. 2016. Kisah Para Tabi’in (‘Ashrut Tabi’in). Jakarta Timur: Ummul Qura.

 

Penulis: Hunafa’ Ballagho

Editor: Halimah

Leave A Reply

Your email address will not be published.