Akarnya Aqidah, Cabangnya Ibadah, Buahnya Akhlaq

0 199

 

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ 24 تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ 25 وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ 26

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (24) (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat (25).” (QS Ibrahim: 24-25)

 

Kiblatmuslimah.com – Dari ayat di atas, Allah memberikan perumpamaan dengan “pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu.” Perumpamaan tersebut adalah gambaran pribadi seorang mukmin. Aqidahnya kuat, ibadahnya tinggi dan akhlaknya manis.

Ibnu Katsir menjelaskan, makna lahiriah konteks ayat menunjukkan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun di musim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus-menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun di siang hari, setiap waktu.

{بِإِذْنِ رَبِّهَا}

Dengan seizin Rabb-nya. (QS. Ibrahim: 25).

Yakni mengeluarkan buahnya yang sempurna, baik, banyak, bermanfaat, lagi diberkati (Tafsir Ibnu Katsir).

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ismail, dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang pohon yang menyerupai seorang muslim, ia tidak pernah rontok daunnya, baik di musim panas maupun di musim dingin, dan ia mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya’.” Ibnu Umar mengatakan, “Lalu terdetik di dalam hatiku jawaban yang mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Namun aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak bicara, maka merasa sungkan untuk mengemukakannya. Setelah mereka tidak menjawab sepatah kata pun, bersabdalah Rasulullah ﷺ bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma.”

 

Ilmu “Menjadi Pohon yang Baik”

Supaya kita bisa seperti pohon baik laiknya pohon kurma yang akarnya menghunjam, cabangnya menjulang tinggi, buahnya manis sepanjang musim; kita perlu belajar tentang aqidah yang benar dan kuat, meningkatkan ibadah dengan ilmu terkait (fiqih) dan belajar tentang akhlaq karimah.

Selaras dengan hal tersebut, Syaikh Sa’id Hawwa dalam Jundullah Tsaqafatan wa Akhlaqan, menyebutkan tiga ilmu penting yang harus dipelajari, yakni:

  1. Ilmu Aqidah
  2. Ilmu Akhlaq
  3. Ilmu Fiqih (Ibadah)

 

Ilmu Aqidah

Aqidah secara bahasa berasal dari kata العقد yang artinya ikatan, kokoh, kuat dan erat. Aqidah mengikat dengan kuat keyakinan dan gerak amal seseorang, sehingga tidak akan terlepas dari ikatan tersebut.

Secara syar’i, aqidah Islam bermakna perkara-perkara yang dibenarkan oleh hati dengan iman, sehingga menjadi keyakinan yang kuat dan tidak dicampuri oleh keraguan.

Aqidah Islam adalah keyakinan yang teguh dalam rukun iman. Iman kepada Allah, malaikat, Rasul, kitab, hari kiamat dan takdir.  Enam rukun iman ini menjadi landasan aqidah Islam yang harus dipahami secara sempurna, dengan ilmu yang benar.

Apabila Islam diibaratkan sebuah bangunan, maka akidah merupakan fondasinya. Kuat dan tegaknya bangunan secara kokoh, tergantung fondasinya. Semakin besar dan tinggi suatu bangunan, maka fondasi yang dibutuhkan harus semakin kuat dan menghunjam.

 

Ilmu Akhlak

Tak hanya prinsip dalam beraqidah saja, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga mengajarkan bagaimana berakhlaq yang mulia. Sebagaimana pula, diutusnya Rasulullah ﷺ adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Allah pun berfirman tentang luhurnya akhlaq Rasulullah ﷺ,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam: 4).

Melalui Rasulullah Muhammad ﷺ, Islam mengajarkan profil akhlaq mulia di segala aspek kehidupan secara real life. Bukan sekedar gambaran, melainkan contoh nyata penuh keteladanan.

Seseorang yang berakhlaq pasti memiliki adab yang baik. Sebaliknya, seseorang yang beradab belum tentu berakhlak. Adab dan akhlaq adalah dua hal yang berbeda.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Adi Hidayat, bahwa adab adalah nilai kemuliaan yang didapatkan lewat proses pendidikan/belajar. Adab yang terbentuk dari belajar, melahirkan peradaban. Karena itu, syarat untuk mendapatkan adab dan peradaban bukanlah iman, melainkan belajar.

Sedangkan akhlaq adalah nilai kemuliaan yang dihasilkan karena ibadah kepada Allah. Kemuliaan akhlaq dihasilkan dari proses keimanan dan ibadah kepada Allah. Sehingga, orang beradab belum tentu berakhlak.

Masyarakat di Jepang adalah orang-orang yang beradab tinggi. Namun, tidak berakhlak karena mereka tidak beriman. Adab mereka bukan lahir dari proses keimanan.

 

Ilmu Fiqih

Ilmu yang mengkaji tentang hukum-hukum Islam disebut ilmu fiqih. Fiqih adalah panduan tentang tata cara dan perilaku sehari-hari seorang muslim. Terkait dalam interaksinya dalam ibadah kepada Allah (secara vertikal) maupun interaksi dengan sesama manusia dan selainnya (secara horizontal), atau yang disebut dengan muamalah dalam arti luas. Muamalah juga bisa kita niatkan sebagai ibadah, tergantung niatnya.

Secara istilah, fikih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i yang dihasilkan melalui proses istinbath (menggali dan menelaah) dalil-dalil syar’i. Ranah yang dihukumi oleh fikih harus berbentuk perbuatan mukallaf, bukan persoalan keyakinan yang masuk ranah aqidah.

Hukum-hukum fiqh mencakup segala aspek kehidupan manusia. Pembahasan mengenai sistematika fiqh antara satu ulama fiqih (fuqaha’) dengan ulama lain berbeda. Para ulama fiqih meletakkan bab thaharah selalu di awal pembahasan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masalah thaharah (bersuci).

Ilmu fiqih secara garis besar terdiri dari: fiqih ibadah (fiqih tentang persoalan-persoalan ibadah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji), fiqih munakahat (fiqih tentang perkawinan dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti waris dan hibah), fiqih muamalat (fiqih tentang hubungan perdata) dan fiqih jinayat (fiqih tentang tindak pidana dan hukumannya).

Selain ilmu fiqih, penting juga untuk memahami ushul fiqih. Ibaratnya, jika fiqih adalah sebuah produk, maka ilmu ushul fiqih adalah proses menghasilkan produk tersebut. Tentang bagaimana metode dan cara yang ditempuh untuk menghasilkan sebuah produk hukum syar’i.

Proses yang harus ditempuh oleh seorang mujtahid melalui sumber-sumber hukum atau dalil-dalil syar’i sehingga menghasilkan hukum.

Dengan memahami peliknya proses lahirnya hukum-hukum syar’i tersebut, kita bisa mengapresiasi jerih payah para ulama mujtahid (yang untuk diakui sebagai mujtahid tentunya dengan syarat khusus dan standar tertentu). Sehingga, kita tidak serampangan dan seenaknya menghukumi sesuatu.

 

Viyanti Kastubi

@vikastubi

Leave A Reply

Your email address will not be published.