Ajak Anak ke Masjid, Asal…

0 269

 

Kiblatmuslimah.com – “Pertama kali yang akan hilang dari agama kalian adalah khusyuk dan yang terakhir adalah shalat. Betapa banyak orang yang shalat tapi tiada kebaikan di dalamnya. Boleh jadi saat engkau masuk sebuah masjid untuk shalat berjamaah, hampir tiada engkau jumpai di dalamnya orang yang khusyuk.” (Huzaifah ibnu Yaman)

Maghrib itu, sebagaimana biasanya, Hasan (5) dengan girang berangkat ke masjid bersama sang ayah. Begitu motor yang membawa mereka berhenti di depan masjid, seketika Hasan melompat dan lari ke dalam masjid. Sang ayah, setelah memarkir motor, dengan tenang mengambil wudhu dan shalat sunnah tahiyyatul masjid. Sementara Hasan tetap saja pada dunianya, berlari ke seantero masjid. Pokoknya main!

Tibalah shalat didirikan. Tangan Hasan digamit sang ayah, agar berdiri di sebelahnya dengan tenang. “Allahu Akbar,” takbiratul ihram, tanda shalat dimulai. Belum sampai imam membaca ayat ke-3 surat Al-Fatihah, Hasan berteriak histeris, “Fauzi… aku punya sandal baru,” sambil berlari ke arah temannya yang dipanggil Fauzi. Hasan pun asyik ngerumpi di shaf paling belakang bersama Fauzi, meninggalkan shaf pertama di pinggir dinding bersama ayahnya tadi.

Begitulah, tak cuma ngerumpi soal sandal baru, kedua anak itu pun bermain kejar-kejaran. Hingga ketika berada di dekat pintu, tak sengaja kepala Fauzi terantuk daun pintu. “Huwaaaa… aduh sakit…,” tangisnya keras. Sayang, Pak Warso, ayah Fauzi sedang tenggelam dalam shalatnya. Hingga shalat selesai, dan kedua orang tua itu baru menenangkan anaknya.

Adalah lumrah, bila orang tua mengajak anak untuk turut serta shalat berjamaah di masjid. Di samping bermaksud menanamkan nilai-nilai religius sejak dini pada diri anaknya, juga menanamkan pentingnya kewajiban shalat bagi pribadi seorang muslim. “Mumpung masih dini, masih mudah dibentuk,” pikir sebagian mereka.

Namun, persoalannya tidak berhenti di situ saja. Alih-alih mendidik shalat, sebagian orang tua—sadar atau tidak—justru menjadikan masjid sebagai sarana bermain bagi anak-anak. Mereka dibiarkan lepas dan liar begitu saja, berlari dan bermain kian kemari,  berteriak, menjerit dan menangis. Orang tua mereka?

“Ssst… sedang khusyuk shalat. Jangan diganggu!”

Susah dipahami darimana mendapatkan kekhusyukan shalat dengan kondisi masjid yang demikian bising oleh kegaduhan anak-anak. Atau, barangkali para orang tua tersebut sebenarnya pun tak bisa shalat khusyuk, namun belum ‘merasa kehilangan’ dengan ketidak-khusyukan tersebut?

Bila memang itu yang terjadi, berarti menjadi masalah pribadi. Masalah pribadi si orang tua tersebut tentang kualitas shalat yang ia ‘suguhkan’ ke hadapan Allah. Namun, bagaimana bila kegaduhan dan kebisingan tersebut juga mengganggu kekhusyukan jamaah yang lain? Tentu, ini tak lagi wilayah pribadi. Sebuah masalah sosial yang memerlukan kepekaan terhadap hak-hak individual setiap jamaah masjid untuk bisa shalat khusyuk tanpa gangguan bising dan gaduh dari anak-anak tersebut.

Apalagi, fungsi utama sebuah masjid adalah sarana ibadah agar kaum muslimin bisa shalat  berjamaah dengan baik dan benar. Kalaupun anak dibawa ke masjid dengan maksud pendidikan, tentu yang pertama kali disampaikan adalah adab yang seharusnya mereka lakukan ketika di masjid.

Jabir bin Samurah menceritakan masa kecilnya bersama Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Samurah, bahwa ia berkata, “Aku pernah mengerjakan shalat Dhuhur bersama Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau keluar menuju rumah keluarganya dan akupun keluar bersama beliau. Beliau kemudian ditemui oleh dua anak kecil, yang kemudian diusap kedua pipi mereka satu per satu oleh beliau.”

Jabir menambahkan, “Beliau juga mengusap pipiku dan aku rasakan bahwa tangan beliau terasa dingin dan harum baunya, seakan beliau keluarkan dari tempat minyak wangi.”

Ini berlaku apabila anak itu sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan sudah bisa menjaga kebersihan sehinga tidak akan kencing atau berak sembangan, dan bisa pergi ke toilet sendiri. Ia harus sudah belajar tentang adab-adab masjid, seperti masuk ke dalam masjid dengan tenang, menempatkan alas kaki pada tempatnya. Tidak berlarian di dalam masjid, tidak mengganggu orang-orang dewasa, bisa memperhatikan khutbah, tidak main-main dan seterusnya.

Imam Malik pernah ditanya tentang seseorang yang membawa serta anaknya ke masjid. Beliau menjawab, “Jika ia telah mengerti tata tertib (adab) di dalam masjid dan tidak main-main di dalamnya, meskipun masih kecil, boleh-boleh saja. Tetapi bila si anak tidak bisa menjaga itu semua, malah justru masih main-main, saya tidak menyukai hal itu.”

Ringkasnya, mengajak anak ke masjid tidak dilarang. Bahkan menjadi metode pendidikan yang cukup efektif guna membendung serbuan budaya-budaya negatif yang tersaji di kehidupan kita. Namun, semua itu perlu pengarahan dan pembinaan yang seksama. Tanpanya, cita-cita untuk mendidik justru akan membuat anak kita menjadi biang kerugian orang lain. Kalau sudah demikian, ke mana lagi dosa akan ditimpakan kalau bukan kita sebagai orang-tua?

 

*Tony Syarqi

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.