Adab-adab dalam Menuntut Ilmu

0 178

Kiblatmuslimah.com – Al-Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mempelajari adab menuntut ilmu selama 30 tahun. Sedangkan aku mempelajari ilmu selama 20 tahun”.

 

Sedangkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, penulis fenomenal kitab Al-Umm menyampaikan, “Ilmu bagaikan hewan buruan, mencatat ilmu sama dengan mengikatnya”.

 

Belajar adab dulu sebelum mempelajari ilmu. Berikut beberapa adab menuntut ilmu:

 

  1. Hendaknya seorang penuntut ilmu mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu, karena termasuk ibadah. “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah hanya kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatan kepadanya”. (QS. Al-Bayyinah: 5)

 

  1. Bersungguh-sungguh, tidak bermalas-malasan. Minta pada Allah supaya tidak malas.

 

  1. Bertaqwa dan senantiasa takut pada Allah. Caranya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan.

 

  1. Rendah hati, tawadhu dan tidak sombong.

Seorang penuntut ilmu tidak boleh sombong.

 

  1. Selalu minta pertolongan kepada Allah.

 

  1. Mengamalkan ilmu.

 

  1. Berhias dengan akhlak yang mulia.

 

  1. Mendakwahkan ilmu.

 

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى

 

  1. Jadilah engkau orang berilmu, atau

 

  1. Orang yang menuntut ilmu, atau

 

  1. Orang yang mau mendengarkan ilmu, atau

 

  1. Orang yang menyukai ilmu
  2. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka

(HR. Baihaqi, Sanad Sahih)

 

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya menjadi ‘alim (orang berilmu, guru/dosen, pengajar, ustadz, kyai). Jika belum sanggup, jadilah muta’allimaan (orang yang menuntut ilmu, murid, mahasiswa/pelajar, santri) atau menjadi pendengar yang baik (mustami’an), paling tidak menjadi muhibban pecinta ilmu, simpatisan pengajian, donatur yayasan, lembaga dakwah dan pendidikan dengan harta, tenaga, atau pikiran, atau mendukung majelis-majelis ilmu.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa jangan jadi orang yang kelima (khoomisan), yaitu tidak jadi guru, murid, pendengar, juga tidak menjadi pecinta ilmu. Celakalah golongan kelima ini. “Fatahlik!” tegas beliau.

 

Alfaqir Ilallah ‘Azza wa Jalla,

 

Al-Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al-Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd.I bin Dr. H. Subo Sukamto Abu Ramadhan, M.Sc bin Mbah Robikun حفظه اللّٰه تعالى

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan)

 

Bersama Istri Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd bin Wardi (Guru Matematika di SMA Negeri daerah Kabupaten Bekasi, Pengamat Anak)

 

Seorang hamba yang mengharap ridha Rabb-Nya

Leave A Reply

Your email address will not be published.