Ada Liberalisasi di Balik Nobar

0 109

Saya: “Menurut kamu, ada gak sih mafaat film Dilan?”

Anak Rohis SMA: “Ada. Terutama buat temen-temen yang lagi mulai nyoba atau belajar pacaran dengan gaya yang ga biasa.”

 

Kiblatmuslimah.com – Itu bukan survey. Hanya sekelumit percakapan kecil dengan seorang siswa SMA, yang menurutnya film Dilan hanya berisi pacaran dari awal hingga akhir putaran. Tidak ada pesan moral tertentu, kecuali mengajarkan cara “pacaran sehat”  ala anak 90an, meski tanpa harus berakhir di pelaminan. “Tragis,” demikian menurut mayoritas pembaca novel garapan Pidi Baiq ini.

 

Efek yang lebih jauh, kalau Dilan hanya berat menahan rindu, maka sebenarnya tugas emak-emak “Dilan” akan lebih berat lagi. Mungkin emak akan rindu dengan ‘Dilan’nya yang tak kunjung pulang karena asyik belajar pacaran. Atau ‘Dilan’nya yang sibuk tanpa boleh diganggu karena serius menulis proklamasi cinta usai nobar (nonton bareng) dengan Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan). Kalau begini, kepada siapa emak boleh berkeluh kesah?

 

Sebenarnya, nobar Dilan ini telah riuh menuang protes. Menurut Nizar, seorang anggota DPR dari Gerindra, “Kemendikbud perlu meninjau ulang pilihan atas film “Dilan” dan “Yowis Ben” yang akan diputar dalam nobar memperingati Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional). Film tersebut jauh dari semangat pendidikan.” Secara kalau dicermati, ramainya Dilan diperbincangkan bukan karena nilai edukasinya. Sebaliknya menjadi bahan lelucon yang tidak mencerminkan semangat pendidikan.

 

Pada akhirnya Dilan memang digantikan oleh film Kartini. Namun alih-alih untuk lebih mencintai dan menghargai film karya anak bangsa, “Kartini” dan “Yowis Ben” sebenarnya kental dengan liberalisasi pemikiran. “Yowis Ben” berusaha menanamkan, bahwa pacaran adalah hak setiap insan tanpa mengenal kasta. Kaya miskin bukan halangan meraih cinta. Sedang film Kartini dengan kekuatan “rasa” emansipasinya, menjadi daya pikat tersendiri bagi para remaja putri untuk menanamkan ‘image’. Bahwa rumah bukan tempat “seru” untuk berkiprah.

Melalui pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, tangan-tangan liberal berupaya menghembuskan bahwa “pacaran sehat” tidak akan menimbulkan efek samping. Dan persamaan gender menjadi agenda besar bagi terciptanya masyarakat modern. Agaknya ada kekuatan terstruktur yang tak mau kalah. Ialah para pemilik paham liberal yang tahu betul, bahwa tidak akan ada yang mampu menghalangi upayanya menguasai dunia kecuali Islam.

 

  1. Mustarom* dalam laporan Syamina, “Goyahnya Tata Dunia Liberal” menyebutkan bahwa ancaman Islam menurut gagasan Liberal Sekuler bukan karena Islam akan memaksa dunia untuk berpindah agama. Namun Islam adalah kompetitor terhadap liberalisme dalam menawarkan cara hidup. Dalam tatanan dunia baru, liberal diklaim sebagi tatanan yang universal. Maka Islam yang dianggap konservatif menjadi penghalang dan saingan utama. Karena itu Islam harus dikalahkan.

 

Sudah menjad rahasia umum pula, serangan kepada Islam tidak harus menuju sumbernya secara langsung. Dengan menggunakan cara intelektual, kultural, budaya, militer, hingga sistem politik akan mampu memecah belah pola pikir masyarakat Islam secara umum.

 

Itulah mengapa, mereka bergerak secara halus agar masyarakat muslim tidak merasa dirugikan. Ketika umat Islam protes, mereka akan menawarkan solusi yang seimbang dengan tuntutan yang digaungkan. Mereka tidak akan pernah mau kalah dan berhenti begitu saja. Oke, kalau Dilan tertolak masih ada film sekuler liberal lain yang “lebih layak tayang”. So, jangan coba-coba halangi kami!!

 

Layla

 

Note:

*K. Mustarom Laporan-Edisi-2-Februari-2018-Goyahnya-1.pdf

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.