Abu Muhammad Al-Jariri: Ridha akan Taqdir

0 130

Kiblatmuslimah.com – Abu Muhammad Al-Jariri termasuk salah seorang sahabat Al-Junaid yang terkemuka. Mereka menempatkannya di posisi Al-Junaid sepeninggalnya. Ia juga merupakan syaikh dari sejumlah tokoh dan pernah mendampingi Sahl bin Abdullah At-Tustari. Ia meninggal dunia karena kehausan di tangan kaum Syiah Qaramithah dalam insiden Ramlah Hubair pada tahun 312 H.

Ramlah Hubair adalah sebuah daerah dekat Makkah yang menjadi saksi penyerangan kaum Syiah Qaramithah atas kafilah-kafilah haji yang melintas di daerah tersebut. Mereka telah membunuh 1000 pria dan 300 wanita, serta menawan 2000 pria dan 500 wanita ke markas mereka di Hajar. Insiden ini terjadi pada hari Ahad, 12 Muharram 312 H.

Seorang laki-laki bercerita, “Aku ikut bersama mereka dalam insiden penyerangan tersebut dan Allah menyelamatkanku dari tangan kaum Syiah Qaramithah. Ketika mereka mundur, aku masuk ke dalam kafilah dengan perasaan sedih dan tersayat. Menyaksikan makhluk-makhluk Allah dengan harapan bisa memberi satu teguk minuman pada seseorang.

Aku lihat kondisi mereka dan berkeliling di antara orang-orang yang terluka. Aku lihat Abu Muhammad Al-Jariri rahimahullah di antara orang-orang yang terluka. Usianya sudah melebihi 100 tahun.

“Wahai syaikh, tidakkah engkau berdoa kepada-Nya? Agar Allah berkenan menyingkirkan bencana ini,” ujarku kepadanya.

Ia menjawab, “Aku sudah memohon kepadaNya, namun Allah memberikan jawaban, ‘Aku berbuat sekehendakKu’.”

Aku ulangi lagi hal itu kepadanya. Ia menukas, “Wahai saudaraku, kita seharusnya ridha dan pasrah, bukan berdoa.” Artinya, doa diperbolehkan sebelum turunnya bencana. Sedangkan setelah terjadinya bencana, kita harus ridha dan pasrah.

“Apakah engkau ada hajat?” tanyaku.

“Aku haus sekali,” jawabnya.

Segera aku bawakan air kepadanya dan ia pun mengambilnya. Namun, ketika hendak minum, ia menatapku nanar sambil berkata, “Mereka kehausan, sementara aku minum?! Tidak, ini tidak akan pernah terjadi. Ini benar-benar jahat.“ Ia langsung mengembalikan air itu kepadaku dan meninggal dunia saat itu juga. Semoga Allah mengasihinya.

[Nafahat Al-Uns, 485]

REF: Muhammad Khalid Tsabit. 2009. Quantum Ridha. Jakarta: AMZAH. Hal 311-312.

[PeniNh]

Leave A Reply

Your email address will not be published.