7 Adab yang Menyinari Masyarakat

0 146

Kiblatmuslimah.com – Surat An-Nuur adalah surat yang padat memuat adab-adab sosial. Ia mengupas urusan manusia sejak dari dalam rumahnya sendiri, lalu beranjak pada interaksi dengan anggota masyarakat. Surat ini seakan ingin menunjukkan solusi kepada kita, cara menjaga masyarakat dari kerusakan dan kehinaan.

 

Surat ini diawali dengan kalimat, “Kami wajibkan”… dan “aayaatun bayyinaat”, sebagai penegasan pada ayat pembuka. Diikuti petunjuk sanksi bagi para pelaku zina pada ayat kedua. Seolah surat ini memperkenalkan dirinya sebagai petunjuk sekaligus jaminan untuk mencegah perzinaan.

 

Tujuh langkah petunjuk yang disebutkan di dalam surat ini ibarat pagar yang melindungi kaum muslimin, keluarga, dan masyarakatnya dari perbuatan keji. Inilah di antara tujuh langkah tersebut;

 

Pertama, isti’dzan; adab meminta izin

(QS. An-Nuur: 27, 28, 58)

Seorang muslim dilarang memasuki rumah orang lain tanpa izin. Begitupun, laki-laki asing tidak boleh menemui wanita yang sedang sendirian di rumahnya, bahkan meski ia adalah saudara atau kerabat suaminya (ipar).

Termasuk dalam hal ini adalah anak-anak tidak boleh masuk ke kamar orang tuanya tanpa izin, khususnya pada “waktu-waktu aurat”. Perhatikan poin pertama ini. Betapa Islam telah amat detail mengatur norma (adab) sosial, bahkan sejak di dalam rumah-rumah kaum muslimin sendiri.

 

Kedua, anjuran menjaga pandangan

(QS. An-Nuur: 30-31)

Perintah ini ditekankan kepada laki-laki, karena ayat mendahulukan perintah terhadapnya. Namun juga berlaku bagi perempuan, karena ayat berikutnya memerintahkan hal yang sama bagi perempuan.

 

Ketiga, anjuran untuk menikahkan kaum jomblo

(QS. An-Nuur: 32)

Ayat ini sekaligus mengandung anjuran untuk membantu proses kawan/saudara kita yang berniat menikah. Termasuk juga memudahkan laki-laki dalam urusan mahar dan walimah. Pada ayat ini, bahkan Allah menjamin keluasan rezeki bagi mereka yang menikah. Menikahlah, tempuhlah jalan halal, agar rezekimu mengucur penuh berkah.

 

Keempat, larangan melacur

(QS. An-Nuur: 33)

Sejak awal, surat ini telah memuat hukum yang tegas dan keras, demi menjaga martabat kaum wanita, sehingga fisik dan kehormatannya tidak layak diperdagangkan. Perhatikanlah, peradaban manapun yang merendahkan kaum wanita, pasti rusaklah tatanan masyarakat peradaban tersebut. (Bukankah sudah terpampang nyata hari ini?)

 

Kelima, anjuran untuk menutup aurat, khususnya bagi kaum wanita

(QS. An-Nuur: 31)

Ayat ini tak sekadar memerintahkan kaum wanita untuk menutup aurat, tetapi sekaligus memuat penjelasan secara terperinci kaidah menutup aurat.

 

Keenam, larangan menyebarkan berita kejahatan seksual di tengah masyarakat, serta harus ada empat saksi dalam menetapkan kasus hukum perzinaan

A(QS. An-Nuur:19, 23, 24)

 

Sungguh, ayat ini merupakan tamparan keras bagi media massa hari ini. Terlepas dari adab dan etika, berita yang berhubungan dengan seksualitas selalu menjadi perhatian pembaca, sekaligus merupakan faktor yang bisa meninggikan harga suatu berita. Seperti kasus perselingkuhan kalangan elit atau publik figur, berita pelacuran, pemerkosaan, dan sejenisnya.

Berita semacam ini, tak sekadar menyorot pelakunya, bahkan juga memuat kronologi kejadian. Pemberitaan soal hukuman bagi pelaku hampir selalu mengambang, tidak setimpal, dan diperdebatkan, sehingga efek jera mustahil didapatkan.

 

Alhasil, tersebarnya berita keji ini di tengah masyarakat, justru bisa memprovokasi orang lain untuk ikut melakukannya. Ayat ini pun telah menunjukkan kepada kita, bahwa sekadar senang menyebarkan berita keji semacam ini sudah cukup membuat seseorang diperingatkan dengan keras lewat ancaman azab.

 

Adapun terkait saksi dalam kasus hukum perzinaan, inilah di antara bukti keagungan syari’at Islam. Menutup aib dan menjaga kehormatan manusia adalah keutamaan yang besar. Di samping kita pun berusaha menegakkan hukum yang adil.

 

Ketujuh, iringilah perbuatan keji dengan taubat

(QS. An-Nuur: 5, 10, 20, 31)

Di antara keindahan lain di surat ini adalah luasnya pintu taubat Allah. Jika diperhatikan, setiap perintah hukum yang tegas di ayat ini, selalu diiringi dengan perintah untuk bertaubat. Hal ini menjadi pelajaran bahwa taubat adalah jalan keselamatan bagi kita dan masyarakat yang masih jauh dari sempurna. Taubat itu sendiri sudah merupakan sebuah kebaikan yang amat besar. Tak hanya itu, balasan dari taubat pun adalah kebaikan.

Wallaahu a’lam. Allaahummarhamna bil Qur’aan. [laninalathifa]

Leave A Reply

Your email address will not be published.