3 Tipe Hati, Yang Mana Hatimu?

0 141

Kiblatmuslimah.com – Disebutkan di dalam kitab Tazkiyatun Nafs bahwa hati dibagi menjadi tiga:
1. Hati yang sehat
2. Hati yang sakit
3. Hati yang mati

Pertama, Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangsiapa pada hari kiamat nanti menghadap Allah Ta’ala tanpa membawa hati yang sehat, maka akan celaka.

Allah Ta’ala berfirman,

يوم لا ينفع مال و لا بنون الا ن اتى الله بقلب سليم

“Adalah hari saat harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara : 88-89)

Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati yang tidak pernah beribadah kepada selain Allah dan berhukum kepada selain Rasulullah. ‘Ubudiyah-nya murni kepada Allah. Iradah, mahabbah, inabah, ikhbat, khasyyah, raja’, dan amalnya, semuanya lillah, semata karena Allah.

Jika ia mencintai, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya dilakukan karena Allah. Ini saja tidak dirasa cukup, sampai ia benar-benar terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya sebagai satu-satunya panutan. Ia tidak akan berani bersikap lancang, mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan ataupun perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap lancang (mendahului) Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat:1)

Kedua, Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati seperti ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah Ta’ala. Baginya, yang penting adalah memenuhi keinginan hawa nafsu. Ia menghamba kepada selain Allah Ta’ala.

Jika ia mencinta, membenci, memberi dan menahan diri, semuanya karena hawa nafsu. Hawa nafsu telah menguasainya dan lebih ia cintai daripada keridhaan Allah Ta’ala. Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dicurahkan untuk menggapai target-target duniawi.

Ia diseru kepada Allah Ta’ala dan negeri akhirat, tetapi ia berada di tempat yang jauh, sehingga ia tidak menyambutnya. Bahkan ia setia mengikuti setan yang sesat. Hawa nafsunya telah menjadikannya tuli dan buta terhadap kebenaran. Bergaul dengan orang yang hatinya mati adalah penyakit, berteman dengannya adalah racun, dan bermajelis dengan mereka adalah bencana.

Ketiga, Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada “kedhidupan” dan kadang-kadang pula cenderung kepada “penyakit”. Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah Ta’ala, yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr (sombong), dan sifat ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya.

Ia ada di antara dua penyeru kepada Allah, Rasul dan hari akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab.

Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadhu, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.

Lalu kita ini pemilik hati yang manakah…? Mari bermuhasabah. Sebab orang yang beruntung adalah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya…

[Halimah]

Leave A Reply

Your email address will not be published.