3 Konsep Harta dalam Islam

0 218

Kiblatmuslimah.com – “Ayah mau kerja dulu ya, Nak. Ayah mau cari uang…” Kalimat seperti ini semestinya perlu kita ubah. “Ayah mau kerja dulu ya, Nak. Ayah mau menunaikan perintah Allah…” Tampaknya sepele, tapi kenapa perlu diubah?

Karena setidaknya yang pertama adalah untuk mengubah pola pikir diri sendiri bahwa esensi bekerja itu ibadah. Dengan itu kita lebih jeli dengan aspek halal-haram. Urusan pekerjaan bukan lagi demi gaji. Semua itu agar perintah Allah tidak kita tabrak. Misalnya dengan tidak mengabaikan jam shalat, terlibat dengan unsur ribawi, atau bagi perempuan tidak merelakan dirinya untuk dijajah dengan “peraturan” dilarang berjilbab.

Berikutnya untuk menanamkan pada diri anak bahwa orang tua (dalam hal ini adalah ayah), pergi pagi hingga pulang malam bukan sekadar bercapek-capek ria cari uang. Melainkan sedari kecil anak-anak berusaha kita tanamkan tentang “hidup untuk ibadah”. Bekerja pun bisa bernilai ibadah. Penting juga menanamkan pada anak bahwa sukses bukan diukur dengan parameter duniawi.

Termasuk pula dalam hal membelanjakan harta. Lakukan itu untuk mencari keridhaan Allah. Misalnya kita bisa melatih diri untuk membiasakan melakukan kontemplasi atau renungan sebelum melakukan transaksi dengan pertanyaan, “Allah ridha ga ya kalo aku beli ini?  Ada manfaatnya ga ya aku beli ini..?”

Harta (uang) adalah salah satu unsur tegaknya kehidupan. Oleh sebab itu, harta harus bersifat kebaikan. Kebaikan yang dimaksud yaitu didapat dengan cara yang baik. Hal itu agar dapat menjadi kebaikan bagi pemiliknya.

Konsep harta dalam Islam terbagi menjadi 3:

(1) Fadhl: kelebihan dari Allah (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Kadang kita berpikir bahwa uang adalah hasil kerja keras kita. Padahal, harta adalah amanah. Rezeki yang kita dapatkan saat ini bukanlah semata-mata hasil kerja keras kita (atau suami kita), namun karena Allah telah berkehendak menjadikan rezeki itu menjadi bagian dari harta kita.

(2) Qiyaman: sarana pokok kehidupan (QS. An-Nisa’: 5)

Uang adalah sarana untuk pemeliharaan diri, menegakkan kehidupan. Sekadar tegak tulang punggung kita dan keluarga saja sebenarnya sudah cukup. Namun seringkali gaya hidup memang bernilai lebih mahal. Astaghfirullaah.

(3) Khair: dimanfaatkan untuk kebaikan (QS. Al-Baqarah: 180)

Harta didapatkan dengan cara yang baik dan dikeluarkan untuk sesuatu yang baik pula. Sebab nanti di Hari Akhir, harta termasuk salah satu hal yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Jadi, harta kita selama ini sudahkah ia menjadi fadhl, qiyaman, dan khair? [laninalathifa]

Leave A Reply

Your email address will not be published.