3 Jenis Ulama

0 116

Kiblatmuslimah.com – Dalam al-Qur`an, kata ‘ulamā’ yang merupakan bentuk plural dari kata ‘ālim’, disebutkan sebanyak dua kali. Ulama pertama terdapat dalam surah Fathir [35] ayat 28; sedangkan yang berikutnya terdapat dalam Surah asy-Syu’ara [26] ayat 197.

Menurut Syaikh Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab Majmu’ Fatawa menyebutkan bahwa ulama itu ada 3 jenis, yaitu:

1.Ulama yang paham tentang Allah dan syari’at-Nya.

Ulama yang ilmu tauhid dan fikihnya hebat. Dia mengetahui tentang tata cara dalam mengatur kehidupan, seperti keluarga, masyarakat dan negara. Hal itu diperlukan ilmu fikih. Ulama ini juga mampu mengaplikasikan ilmunya. Dia akan takut kepada Allah dan mengetahui batasan yang harus dilakukan.

Segala amalan yang dia lakukan itu hanya untuk mencari ridha Allah. Ulama lurus sebagai pilihan umat, bisa disebut dengan ulama Rabbani.

Mengenai ulama jenis pertama, pembaca bisa membaca ayat berikut:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanya ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28)

Pada ayat ini, ulama adalah hamba-hamba Allah yang ilmu membuatnya ‘khasyah’ (takut) kepada-Nya. ‘Khasyah’ di sini berbeda dengan kata ‘khauf’ yang biasa diterjemahkan dengan takut juga.

Syeikh Mannā’ al-Qaṭṭān dalam buku “Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur`ān” (2000: 207) menerangkan perbedaannya. Takut (khasyah) lebih tinggi tingkatannya daripada takut (khauf). Khasyah merupakan rasa takut yang timbul akibat keagungan yang ditakuti, meski yang takut adalah orang kuat. Dengan kata lain, rasa takut yang disertai pengagungan.

Sementara rasa takut (khauf) timbul karena lemahnya orang yang takut. Meski yang ditakuti sebenarnya adalah perkara remeh.

Di sisi lain, huruf dari kata ‘khasyah’ (kha, syin, ya) berdasarkan timbangan ilmu sharaf menunjukkan keagungan. Karena itu, tidak mengherankan jika kata ini pada galibnya (umumnya) terkait dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana yang terdapat dalam surah Fathir ayat 28 dan Al-Ahzab ayat 39.

Dengan demikian, ulama seperti ini adalah ulama yang keilmuannya mengantarkan pada rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala disertai pengagungan. Takutnya mereka kepada Allah, membuat semakin mendekat dan mengagungkan-Nya. Bukan seperti takutnya orang yang dikejar singa, misalnya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam “Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn” (I/77) mengkategorikan ulama semacam ini sebagai “Ulamā al-Ākhirah” (ulama akhirat). Kata beliau, selain ‘khasyah’ (rasa takut) juga diikuti ciri lain berupa khusyuk, tawaduk (rendah hati), berakhlak mulia serta memprioritaskan akhirat daripada dunia (zuhud).

Selain khasyah, ulama jenis ini –yang disebut Ali bin Abi Thalib sebagai ‘Ālim Rabbāny’ (ulama Rabbani)—adalah ulama yang orientasi kehidupan dunia-akhirat mereka kepada Allah, Rab semesta alam.

Allah sendiri, salah satu asma-Nya adalah “al-‘Ālīm” yang biasa diartikan Maha Mengetahui (luas ilmu-Nya). Sudah menjadi keniscayaan bagi ulama ini untuk menyandarkan keilmuan dan orientasi hidupnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan untuk kepentingan dunia yang fana. Betapa hebat keilmuan yang dimiliki, mereka sadar bahwa “Di atas setiap orang yang punya ilmu, ada Allah Yang Maha Berilmu.” (QS. Yusuf [12]: 76)

  1. Ulama yang paham tentang Allah akan tetapi tidak mengetahui syari’at-Nya.

Dia takut kepada Allah akan tetapi mempunyai kelemahan. Tidak mengetahui batasan yang dilakukan dan syari’at Allah. Ulama seperti ini bisa menyesatkan dirinya sendiri dan umat. Setiap yang dia kerjakan tidak berdasarkan syari’at Islam, walaupun kelihatannya baik. Amalan yang tidak ada tuntunannya di dalam syari’at Islam maka akan tertolak. Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadist.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

  1. Ulama yang paham syari’at Allah akan tetapi tidak paham tentang-Nya.

Dia tidak mempunyai rasa takut kepada Allah. Dia mengetahui haram dan halal, diperbolehkan atau dilarang. Namun tidak mempunyai rasa takut kepada Allah. Ulama ini yang akan menjerumuskan umat, disebut dengan ulama su’.

Bagaimana ciri ulama su’? Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kifayatul Atqiya mengatakan sebagai berikut:

وهم علماء الدين للتمييز بينهم وبين علماء الدنيا وهم علماء السوء الذين قصدهم  من العلم التنعم بالدنيا والتوصل إلى الجاه والمنزلة إلى أهلها

“Mereka adalah ulama agama untuk membedakan antara mereka dan ulama dunia; ulama jahat yang dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan pada penduduk,”

Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Su’ara` [26]: 197)

Dalam al-Qur`an ada beberapa ciri yang menunjukkan bahwa ulama Bani Israil –pada galibnya—  adalah ulama Sū` (buruk) yang tak patut diteladani. Bahkan kebanyakan dari Bani Israil juga memiliki ciri-ciri demikian.

Berikut ini adalah di antara ciri-cirinya: Pertama, menyembunyikan kebenaran (QS. Al-Baqarah [2]: 146). Kedua, menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah (QS. Ali Imran [3]: 187). Ketiga, mengingkari kebenaran yang diyakini (QS. Al-Baqarah [2]: 89). Keempat, mendistorsi ayat-ayat Allah untuk kepentingan diri sendiri (QS. An-Nisa [4]: 46). Kelima, memanipulasi kebenaran demi mendapatkan keuntungan duniawi yang sedikit (QS. Al-Baqarah [2]: 79).

Sebenarnya masih banyak sifat lain seperti, mencampuradukkan antara yang haq dan batil, suka menyalahi janji, tidak takut kepada Allah, menyuruh orang berbuat baik akan tetapi melupakan diri sendiri, berhati keras, suka menyuruh berbuat munkar dan melarang berbuat baik, terlalu materialistik dan ciri negatif lainnya yang menunjukkan mereka adalah ulama Sū` yang tak pantas diteladani.

Demikianlah tiga jenis ulama dalam perspektif al-Qur`an yang bisa dihayati ciri-cirinya. Mudah-mudahan dengan mempelajarinya, menjadikan kita untuk lebih berhati-hati dalam menentukan panutan.

Di akhir zaman penuh fitnah, tersebar banyak kemadharatan dan kedzaliman. Menjadikan kita susah memilih ulama. Semoga dengan ini, umat tidak salah pilih dalam menentukan ulama yang diteladani. Semoga bermanfaat.

Oleh: Fyrda Ummu Farhat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.